1) Menerbitkan terjemahan Al-Quran sebagai suatu usaha yang menguntungkan atau sebagai suatu kelaziman, menyusun dan mengedarkan buku-buku agama dan hadis terjemahan ke dalam bahasa Urdu atau Parsi, mengajarkan latihan-latihan kerohanian baru namun tak ada hasilnya seperti menjadi kebiasaan dalam zaman kita – semua ini bukanlah hal-hal yang dapat dikatakan sebagai Tajdid-i-Din atau penyegaran kembali agama. Diantara yang tersebut tadi, yang disebutkan terakhir merupakan usaha untuk memajukan lembaga-lembaga asuhan syaitan yang menyeleweng dari agama yang benar. Menerbitkan serta mengedarkan Al-Quran dan Hadist-hadist yang dapat dipertanggungjawabkan, jelas terpuji. Hal ini mungkin dilaksanakan dengan kesungguhan dan perhatian yang seksama, dengan benar-benar memperhatikan semua persyaratan yang sah, akan tetapi belum lagi bisa dikatakan sebagai amal ibadah yang sebenarnya. Amal ibadah yang sejati itu lahir dari suasana batin yang menerima pengaruh wibawa Al-Quran dan Hadis. Tanpa adanya hal ini, ithaat pada Al-Quran dan Hadis tetap tidak menghasilkan apa-apa, tidak ada artinya. Ibadah yang seperti itu cukup hanya memerlukan sedikit pengetahuan, ibadah yang seperti itu kita semua sudah mengetahuinya. Ibadah begitu tidak mempunyai bobot untuk Tajdid yang sebenar-benarnya. Dalam pandangan Tuhan, yang demikian itu hanyalah memperniagakan tulang-belulang kering lagi mati.

Tuhan berfirman :

"Mengapa kamu mnegatakan apa-apa, yang tidak kamu perbuat ? Sangatlah tidak disukai di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat" (61:3).

"Wahai orang-orang yang telah beriman, hati-hatilah akan dirimu; orang yang sesat tidak akan memudharatkan kamu bila kamu sendiri dalam petunjuk yang benar" (5:106).

Barang siapa yang dirinya tuna netra tidak bisa menunjukan jalan kepada yang buta, dan barangsiapa yang berpenyakit lepra tidak mungkin bisa menghilangkan penyakit demikian dari tubuh orang lain. Tajdid (gairah untuk memperbaiki secara benar) memancar dari suatu keadaan suci, mula-mula turun ke dalam hati seseorang yang dikaruniai dengan anugerah wahyu Ilahi. Daripadanya Tajdid itu diteruskan kepada yang lainnya. Mereka yang menerima semangat dari Tuhan, untuk memperbaiki ini tidaklah berniaga tulang-belulang mati. Sebaliknya mereka memainkan peran sebagai utusan Rasulullah saw dan secara keruhanian boleh dikatakan penerusnya atau Khalifahnya. Mereka mewarisi keberkatan-keberkatan yang dikaruniakan Tuhan kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul-Nya. Apa pun yang mereka ucapkan, itu semua keluar tanpa susah-payah dan serta merta dari dalam lubuk hati mereka. Mereka mengajar tidak cuma dengan kata-kata ucapan mulut belaka melainkan dengan perbuatan. Wahyu dari Tuhan menerangi hatinya. Pada saat-saat yang sulit mereka menerima bimbingan dari Rohulkudus. Ucapan dan perbuatannya tidaklah berbaur dengan kekhawtiran dan kecintaan akan dunia. Mereka dibikin bersih terang-benderang luar dan dalam. Mereka sepenuhnya ditarik ke arah Tuhan (Pen.).