3 ) Dalam hal ini, ada suatu kisah yang patut untuk dicantumkan. Beberapa waktu yang lalu, saya mempunyai kesempatan untuk pergi ke Aligarh. Disebabkan oleh kerja keras yang oleh sebab pengaruhnya itu saya menagalami penderitaan, bahkan sebelum ini di Qadian, saya tidak berada dalam kondisi untuk mengadakan pembicaraan yang lama atau melakukan pekerjaan pikiran atau apapun yang berat. Bahkan, sekarang pun saya belum lagi cukup merasa segar untuk mengadakan pembicaraan yang lama ataupun berpikir yang sangat berat. Dalam keadaan seperti itu, kebetulan saya menerima kunjungan Tuan Maulvi dari Aligarh, yang bernama Tuan Mohammad Ismail. Dengan penuh kerendahan hati ia meminta - serta membujuk - saya untuk memberikan khutbah. Ia berkata bahwa orang-orang telah menunggu-nunggu untuk melihat dan mendengar saya., bahwa sebaiknya menyelenggarakan suatu pertemuan di suatu tempat yang sesuai, yang disitu hendaknya saya memberikan khutbah. Kekuatan dan ketulusan hasrat saya sendiri selalu ingin mencari kesempatan-kesempatan untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran yang penting kepada masyarakat. Oleh karena itu, saya menerima undangan ini dengan senang hati. Saya pikir saya akan dapat menjelaskan kepada suatu pertemuan umum pengertian Islam, apa Islam itu sebenarnya dan bagaimana orang-orang masa kini dapat memahaminya, dan sebagainya. Saya memberi kepastian pada Tuan Maulvi, bahwa jika Tuhan menghendaki, saya akan berbicara mengenai masalah Islam. Akan tetapi, setelah saya menyetujuinya, saya dilarang untuk melakukan hal ini oleh Tuhan. Saya merasa yakin disebabkan oleh keadaan kesehatan saya, Tuhan yang Maha Perkasa tidak menginginkan saya untuk melakukan sesuatu yang melelahkan seperti itu, sesuatu yang menyebabkan beban jasmaniah bagi saya. Oleh karena itu saya dicegah oleh Tuhan untuk menyampaikan khutbah ini. Sekali waktu sebelumnya pernah juga telah terjadi atas diri saya. Saya dalam keadaan jasmani yang kurang sehat, kemudian dalam suatu kasyaf saya melihat seorang nabi dari antara nabi – nabi yang telah tiada. Disebabkan oleh rasa simpati dan khawatir, nabi ini berkata pada saya,"Mengapa begitu banyak memeras otak ? Ingatlah, jangan-jangan anda jatuh sakit." Singkatnya, saya dihentikan oleh Tuhan dan saya memberitahu Tuan Maulvi sesuai dengan hal itu. Dalih saya itu adalah dalih yang benar. Terdapat banyak orang melihat saya, betapa saya menderita setelah lama berbicara atau sesudah banyak berpikir. Mereka mungkin tidak memperdulikan wahyu-wahyu saya itu, akan tetapi, mereka cukup yakin bawha saya menderita karena hal itu. Dr. Muhammad Hussain Khan, seorang dokter dan hakim kehormatan di Lahore, hingga kini merupakan dokter pribadi saya. Beliau senantiasa menegaskan bahwa saya hendaknya menjaga jangan memaksakan diri dari kerja memeras otak. Dengan demikian dokter ini merupakan saksi pertama atas keadaan saya seperti ini. Teman-teman yang lainpun akan memberikan kesaksian yang serupa. Diantara mereka adalah saudaraku Maulvi Hakim Nuruddin, dokter negara – bagian Jammu, yang lahir batin berbakti untuk saya, dan Munshi Abdul Haq, seorang akuntan, penduduk Lahore dan bekerja di Lahore, yang telah memperhatikan saya ini selama sakit serta melayani dengan cara yang tak mungkin digambarkan. Teman -teman semuanya mengetahui dan semuanya akan memberikan kesaksian atas keadaan saya ini.

Oleh karena itu, sungguh sangat menyesal saya harus mengatakan bahwa meskipun orang Muslim diperintahkan untuk mempercayai orang, Tuan Maulvi (Kiayi) dari Aligarh ini lebih suka untuk tidak mempercayai saya. Sebaliknya dia malah meragukan saya dan dengan sengaja memberikan kesaksian yang bertentangan dengan saya. Suatu pernyataan sejak itu telah disusun oleh salah seorang temannya, seorang dokter yang bernama Jamaluddin. Peryataan yang telah disebarluaskan kepada umum in iakan saya jawab satu per satu. :

DIA : Saya memintanya (yakni, penulis ketika berada di Aligarh) untuk berkhutbah pada shalat Jum'at yang sehari sebelumnya ia menyetujui, akan tetapi pagi keesokan harinya ia mengirimkan suatu pesan yang mengatakan bahwa ia telah dilarang oleh wahyu. Saya pikir itu karena kurangnya kemampuan untuk berbicara dan ia merasa takut akan diuji.

SAYA : Pendapat Tuan Maulvi (Kiayi) itu tidak lain melainkan semata-mata karena syak wasangka dirinya. Padahal syak wasangka itu suatu hal yang sangat dilarang dalam Syari’at, yang dihindari oleh orang-orang yang berbudi pekerti luhur. Apakah baru pertama kali itu, yakni selama kunjungan saya ke Aligarh, saya menyatakan hal diri saya mendapat wahyu ?

Kalau memang demikian, maka ada dasar untuk bersyak wasangka. Bisa saja dikatakan bahwa saya menjadi kecut oleh kecendekiaan dan kealiman Tuan Maulvi dan menjadi demikian takut olehnya sehingga saya harus mencari-cari suatu dalih untuk tidak memenuhi janji. Akan tetapi, pengakuan saya mendapat wahyu itu telah diumumkan di dalam negeri kurang lebih enam tahun sebelum kunjungan ke Aligarh ini. Pengakuan itu disebut-sebut pada banyak tempat dalam buku saya Barahin-i-Ahmadiyya. Bila saya begitu sepinya daripada kemampuan untuk berbicara di depan umum, bagaimana mungkin saya telah mengarang buku-buku seperti Surma Chashm Arya yang disampaikan dengan lisan di hadapan beberapa ribu orang baik kawan maupun lawan ? Bagaimana mungkin seorang manusia yang lemah dalam berpidato dimuka umum seperti saya dapat melaksanakan tugas serupa itu ? Bagaimana saya dapat melaksanakan suatu kampanye massal yang mengakibatkan konfrontasi dengan beribu-ribu orang yang punya berbagai macam kemampuan dan selera ? Sungguh sayang seribu kali sayang ! Para kiayi zaman sekarang ini kebanyakan terlalu dimakan oleh rasa iri ! Dari mimbar mereka mengajarkan budi pekerti para mukminin yang baik – persaudaraan, saling mempercayai, dan lain-lain, dan selalu mengutip dari kitab suci. Tetapi, mereka sendiri tidak seberapa mengamalkan perintah-perintah ini ! Tuan yang terhormat, semoga Allah membukakan mata Tuan ! Apakah begitu mustahil bahwa Tuhan, disebabkan oleh kebijaksanaan-Nya, berkehendak untuk menghentikan seorang hamba kesayangan-Nya daripada melakukan sesuatu yang hampir saja akan dilakukannya ? Dan tidak hanya demi kepentingan si hamba sendiri, akan tetapi juga agar orang-orang seperti anda akan diuji dan agar pikiran-pikiran anda serta pembawaan-pembawaan anda yang busuk akan terbuka dengan sendirinya. Adapun sehubungan dengan kealiman yang membikin kecut orang, maka saya kurang menghargai kealiman yang terbenam dalam kegelapan dan hasrat-hasrat pribadi. Apakah mereka itu ahlinya dalam filsafat dan ilmu pengetahuan yang semuanya sudah dikenal ? Mereka itu tidak lebih baik daripada ulat-ulat mati dalam pandangan saya. Namun, siapakah gerangan anda sendiri ? Anda tidak separuh pun juga terpelajar. Anda adalah seorang kiayi dari madrasah kuno, yang sok pamer dan cuma rendahan, sama seperti mereka juga. Hendaklah diingat, para pengunjung yang datang kepada saya termasuk orang-orang yang terpelajar dalam ilmu-ilmu pengetahuan dan keahlian, serta bergairah untuk bertanya-tanya dan untuk mengetahui lebih banyak. Mereka datang dan mengambil faedah dari kedalaman ilmu yang dapat saya sampaikan. Anda bila dibandingkan dengan para pengunjung saya yang demikian itu – adalah bagaikan seorang anak yang baru saja tahu belajar. Bahkan gambaran seperti itu pun masih lebih baik lagi dari pada apa yang pantas buat anda. Apakah ini tidak memadai untuk menyembuhkan anda dari kekeliruan anda seperti itu ? Apakah anda akan terus juga bersyak wasangka ? Bila memang demikian, maka dengan pertolongan dan karunia Tuhan, saya bersedia untuk berkonfrontasi dengan anda dalam suatu kontes pidato di depan umum. Saya tidak begitu sehat. Oleh karena itu, saya tidak dapat melakukan perjalanan jauh. Bila anda setuju, anda dapat berangkat dengan biaya saya ke suatu tempat pusat seperti Lahore di Punjab. Saya rasa, saya dapat mengundang anda untuk konfrontasi seperti itu dan uji coba seperti itu. Saya berjanji untuk memenuhi undangan saya ini. Saya menunggu jawaban anda.

DIA : Orang ini (yakni, penulis) sama sekali bukan seorang ahli, tidak mempunyai keilmuan apa pun.

SAYA : Tuan yang terhormat, saya tidak mengaku mempunyai apapun dari pengetahuan dan keilmuan duniawi. Saya tidak berguna untuk pengetahuan dan kepandaian duniawi. Yang demikian itu tidak menerangi roh. Semua itu tidak membersihkan kotoran dan keburaman pikiran dan hati manusia. Semuanya tidak menimbulkan kerendahan hati dan kesederhanaan. Bahkan sebaliknya, semuanya membikin pikiran yang berkarat menjadi lebih berkarat lagi serta menambahkan kekafiran pada kekafiran. Bagi saya cukuplah begini ; bahwa karunia Tuhan mengulurkan tangan pertolongan-Nya kepada saya dan memberikan kepada saya pengetahuan yang tak seorangpun bisa mempelajarinya di sekolah-sekolah yang biasa, melainkan hanya dari Guru Samawi. Bila saya dikatakan sebagai tidak terpelajar, maka apakah yang harus dipermalukan dalam hal ini ? Itu sesuatu yang harus dibanggakan. Bukankah pemimpin dan penghulu saya, penghulu daripada semua mahluk Tuhan, yang telah datang untuk memperbaiki dan mengangkat derajat manusia, bukankah beliau sendiri bahkan seorang ummi (buta aksara) ? Saya tidak menghargai dia yang berbangga-bangga dalam kesarjanaan tetapi hitam pekat dalam karakter lahir batin. Bacalah Al-Quran dan renungkanlah amsal mengenai keledai yang memikul beban buku-buku. Apakah ini tidak akan memadai ?

DIA : Saya bertanya kepadanya (yakni, penulis) mengenai masalah wahyu. Kecuali memberikan jawaban-jawaban yang tidak ada artinya, ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

SAYA : Saya ingat benar. Jawaban-jawaban yang saya berikan penuh dengan makna-makna, memadai untuk meyakinkan seseorang yang mampu memahami dan mempertimbangkan. Anda tidak memahaminya, memang begitu,. Akan tetapi, hal ini siapa yang salah ? Kesalahan anda sendiri atau kesalahan orang lain ? Anda boleh menerbitkan pertanyaan-pertanyaan itu sendiri dalam beberapa surat kabar dan dapat memperolah jawabannya yang baru untuk menguji kembali pendapat anda tentang diri anda itu.

DIA : Sungguh mustahil untuk menganggap bahwa buku-buku bagus seperti itu hasil karyanya.

SAYA : Bagaimana anda bisa berpikiran begitu ? Orang-orang kafir yang melihat Rasulullah saw. dengan mata kepala sendiri tidak dapat berpikiran begitu. Pikiran mereka tertutup, mereka tidak dapat melihat kelebihan-kelebihan Rasulullah saw. Oleh karena itu, mereka terus saja berkata, bahwa perkataan yang hebat - Al-Quranul Karim - yang keluar dari bibirnya dan yang beliau sampaikan kepada seluruh mahluk Tuhan, diajarkan kepadanya oleh orang-orang lain secara rahasia ! Dan pengajaran itu terus berjalan secara teratur pagi dan petang ! Dalam hal ini, ejekan orang-orang kafir dahulu itu benar adanya. Dan apa yang dikatakan Tuan Maulvi juga benar. Al-Quran Suci dalam hal kehebatan dan kebijakannya jauh diatas kemampuan intelek Rasulullah, jauh berada diatas daya intelek manusia mana pun. Hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, mungkin telah menyampaikan perkataan ini. Serupa halnya dengan buku-buku yang disusun oleh hamba yang lemah ini, merupakan hasil pertolongan yang datang dari Yang Maha Ghaib, di luar kemampuan dan kesanggupan saya. Dan Alhamdulillah, kritikan Tuan Maulvi ini telah membuktikan benarnya nubuatan yang telah dicantumkaan pertama-tama sekali dalam buku saya Barahun-i- Ahmadiyya. Nubuatan itu mengatakan bahwa akan ada orang-orang yang karena membaca buku ini akan menyatakan : ini bukan buatan orang ini !

DIA : Syed Ahmad Arab, yang saya ketahui dapat diandalkan, menceritakan kepada saya, bahwa ia (Syed Ahmad) tinggal bersamanya (yakni, penulis) selama dua bulan dalam lingkungan para pengikut, serta selalu waspada untuk hadir pada semua kegiatan dan mengamati serta memperhatikan dengan hati-hati. Ia (orang Arab itu) menemukan perkakas nujum padanya, yang oleh (penulis) suka dipergunakan.

SAYA : " Mari, biar kita panggil anak-anak kami dan anak-anakmu, wanita-wanita kami dan waanita-wanita kamu, orang-orang kami dan orang-orang kamu, kemudian marilah berdoa dengan sungguh-sungguh dan meminta untuk Allah atas siapa yang berdusta " (Al-Quran, 3 : 62 ).

Inilah jawaban saya, - ayat ini diambil dari kitab Tuhan. Saya sama sekali tidak ingat adanya Syed Ahmad yang telah bersama saya selama dua bulan. Terserahlah kepada Tuan Maulvi untuk menghadirkannya ke hadapan saya, agar ia dapat diminta menceritakan kepada kita perkakas apakah yang dilihatnya. Namun, mengapa harus begitu ? Saya masih hidup dan Tuan Maulvi sendiri bisa datang dan tinggal bersama saya selama dua bulan dan melihat barang itu olehnya sendiri. Kita tidak membutuhkan orang Arab atau bukan-Arab untuk perkara ini.

DIA : Ketika saya sudah membaca apa yang di namakan wahyu itu serta merenungkannya, saya sama sekali tidak terkesan, wahyu itu seolah-olah bukan wahyu.

SAYA : Demikian juga tidak terkesan orang-orang kafir pada zaman Rasulullah. Bukankah Tuhan telah mengatakan tentang mereka,

"Dan mereka sama sekali mendustakan ayat-ayat kami" (78 : 29)

Firaun juga tidak beriman. Abu Jahal, Abu Lahab juga tidak percaya. Namun, mereka yang miskin dan bersih hatinya percaya.

Karunia ini tidaklah datang

Karena banting-tulangnya sendiri,

Tidak, sehinga Dia Yang Maha Pemurah

Menganugerahkannya Sendiri.

DIA : Membuat pengakuan–pengakuan adalah bertentangan dengan menampakkan tanda-tanda dan mengatakan bahwa mereka yang merasa ragu-ragu boleh datang dan melihatnya, itu adalah dusta, sia-sia.

SAYA : Pengakuan saya sebenarnya bukanlah hak saya. Semuanya itu aadalah pengakuan-pengakan atas nama Dia Yang Empunya hak untuk membuat setiap dakwa (pengakuan). Tak seorang pun pencinta kebenaran dapat mendustakan dakwa-dakwa seperti itu. Memang benar, pengakuan atas kekuasaan adikodrat (kekuasaan ghaib) tidak dapat di buat oleh para nabi sekalipun. Namun, tidak mungkinkah Tuhan – melalui seorang nabi, rasul atau muhhadats - membuat pengakuan seperti itu ?

DIA : Saya merasa hilang kepercayaan kepadanya sesudah perjumpaan itu. Setiap oarang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa kemudian berjumpa dengannya (penulis) sama juga ia pun akan merasa hilang kepercayaan kepadanya. Ia terlambat dalam mengerjakan sembahyang lima waktu, terlambat sekali. Dan ia tidak selalu berjamaah dengan orang lain dalam sembahyang.

SAYA : Tidaklah menjadi urusan saya bila Tuan Maulvi kehilangan kepercayaannya kepada saya. Akan tetapi dustanya, mengada-adanya serta syak-wasangkanya pada orang – sampai berlebih-lebihan - benar-benar mengagetkan saya. Ya, Allah, kasihanilah umat Rasulullah yang pemimpinnya dan pembimbingnya dan sahabat-sahabatnya adalah kiayi-kiayi semacam ini !

Marilah para pembaca mempertimbangkan keluhan sang Maulvi ini, yang timbul semata-mata dari miskinnya kemurahan hati, namun kaya akan kecemburuan. Memang jelas bahwa saya di Aligarh itu sebagai seorang musafir untuk beberapa hari lamanya. Saya

harus menaati izin yang di berikan kepada para musafir oleh syariat Islam. Tidak menaati sama sekali izin ini merupakan semacam kekafiran. Apa yang saya perbuat itu adalah apa yang seharusnya saya lakukan. Saya tidak mengingkari bahwa selama beberapa hari saya tinggal, saya melakukan dua shalat dalam satu waktu, dan ini adalah sunnah. Saya telah melakukan shalat Zuhur dan Ashar di satukan bersama pada saat terakhir daripada shalat Zuhur. Para mukminin yang taat pun menjamakkan shalat bahkan di rumah sendiri, tatkala mereka tidak sedang bepergian atau pun terhalang hujan. Saya tidak mengingkari bahwa selama beberapa hari itu, saya tidak hadir di mesjid pada setiap waktu shalat. Saya bukan selalu tidak hadir, kendatipun sedang sakit atau dalam perjalanan. Tuan Maulvi akan mengetahui bahwa saya melakukan shalat Jum’at di belakangnya dan sekarang tidak mengetahui lagi apakah ini benar. Memang benar, benar-benar begitu, bahwa saya menghindari datang ke mesjid bila saya dalam perjalanan. Namun, hal ini - a'udzubillah - bukan karena kemalasan atau tidak mengindahkan perintah Ilahi. Sayang sekali mesjid-mesjid pada zaman kita ini, di negeri kita, keadaanya sangat buruk. Sekiranya seseorang berkeinginan untuk mengimami shalat di mesjid-mesjid seperti itu, imam-imam yang resmi tidak mau bertoleransi. Bila seseorang ingin bermakmum kepada imam yang di angkat, maka saya menjadi ragu-ragu apakah shalat itu telah dilaksanakan sebagaimana mestinya. Mengapa begitu ? Sebabnya, sudahlah di maklumi oleh semua orang bahwa mengimami shalat itu telah menjadi semacam bisnis bagi imam-imam ini. Lima kali sehari mereka bukan memasuki tempat shalat melainkan cenderung memasuki sebuah toko demi melayani para langganan.

Mereka beserta keluarga hidup dari penghasilan itu. Orang-orang pergi kepengadilan bilamana terdapat perselisihan mengenai apakah akan meneruskan seseorang tertentu sebagai imam atau tidak. Tuan-Tuan Maulvi memasukan permohonan demi permohonan naik banding untuk memperoleh keputusan hukum tentang kedudukan mereka sebagai imam. Walhasil, ini bukan "Imamat" lagi, melainkan suatu cara hidup yang makruh dan terlarang. Tidakkah anda pun terjerat dalam tipuan demi kepentingan pribadi seperti itu ? Kalau segala sesuatu keadaannya begitu, buat apa orang yang mengetahuinya hendak menghancurkan kepercayaannya ? Hadis Rasulullah yang menceritakan tentang akhir zaman, mengatakan tentang penuhnya mesjid oleh orang-orang munafik. Nubuatan ini menceritakan tentang para kiayi zaman kita ini yang bibirnya komat-kamit dengan Al-Quran tetapi pikirannya setiap waktu dipenuhi urusan roti dan mentega (sepiring nasi, red) bilamana mereka berhadapan dengan manusia-manusia. Menggabungkan shalat Zuhur dengan Ashar atau Maghrib dengan Isya telah diperbolehkan dalam bepergian. Bila izin ini memang dihapuskan saya tidak mengetahui. Juga saya tidak mengetahui siapa yang telah melarang melakukan shalat pada saat-saat terakhir waktunya. Sungguh sangat mengherankan - anda pikir memfitnah itu halal, tetapi menggabungkan shalat Zuhur dengan Ashar atau shalat Maghrib dengan shalat Isya oleh seorang musafir itu haram. "Takutlah akan Tuhan, kalian yang percaya kepada Tuhan Yang Esa. Karena, saat untuk berangkat dekat sudah dan Allah mengetahui segala suatu yang kalian mencoba menyembunyikanya." (Pen.).