Masalah Pertama

KEADAAN THABI’I, AKHLAKI DAN ROHANI MANUSIA

Sidang yang terhormat diharap maklum bahwa pada halaman-halaman pertama karangan ini terdapat beberapa kata pendahuluan yang mungkin nampak seolah‑olah tidak ada sangkut‑pautnya dengan uraian berikut. Namun, agar jawabannya yang tepat dapat diresapi, hal itu perlu dipahami. Agar hadirin jangan menemui kesukaran dalam memahami pokok masalah, kami lebih dahulu menyertakan beberapa patah kata pendahuluan itu untuk penjelasan.

Tiga Macam Keadaan Manusia

Baiklah dimaklumi bahwa masalah pertama ialah bertalian de­ngan keadaan‑keadaan thabi’i (pembawaan alami), akhlaki dan rohani manusia.

Maka ketahuilah bahwa Alquran Suci, Kalam Suci Allah Ta’ala mengada­kan pembagian tiga keadaan itu demikian: bagi ketiga keadaan itu ditetapkan tiga sumber yang berlainan. Dengan perkataan lain, disebutkan tiga mata air yang daripadanya memancar keadaan‑keadaan itu secara terpisah.

Keadaan Pertama: Nafs Ammarah

Sumber pertama yang merupakan pangkal dan daripadanya tim­bul semua keadaan thabi’i manusia, Alquran Suci menamakan-nya nafs ammarah, seba­gaimana dikatakan-Nya:

Yakni, adalah ciri khas nafs ammarah bahwa ia membawa manusia kepada keburukan yang bertentangan dengan kesempurnaannya ser­ta bertolak belakang dari keadaan akhlaknya dan ia mengingin­kan manusia supaya berjalan pada jalan yang tidak baik dan buruk (12:54). *)

Ringkasnya, melangkahnya manusia ke arah pelanggaran dan keburuk­an adalah suatu keadaan yang secara alami menguasai diri­nya, sebelum ia mencapai keadaan akhlaki. Sebelum manusia melang­kah dengan dinaungi oleh akal dan makrifat (pengetahuan), keadaan ini dinamai keadaan thabi’i (pembawaan alami). Bahkan seperti halnya hewan­-hewan berkaki empat, di dalam kebiasaan mereka makan‑minum, tidur‑bangun, menunjukkan emosi dan naik darah, dan begitu juga kebiasaan‑kebiasaan lainnya, manusia ikut kepada dorongan thabi’inya. Dan manakala manusia tunduk kepada akal dan makrifat serta memperhatikan timbang rasa, maka saat itu keadaan ketiga tersebut tidak lagi dinamakan keadaan-keadaan thabi’i, melainkan saat itu keadaan-keadaan ini disebut keada­an-keadaan akhlaki, yang mengenainya akan diterangkan lebih lanjut.

Keadaan Kedua: Nafs Lawwamah

________________________

*) Terjemahan ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya merupakan terjemahan tafsiriyah.

Di dalam Alquran Suci sumber keadaan akhlaki itu dinamai nafs lawwamah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala di dalam Alquran Suci:

Yakni, aku bersumpah dengan nafs (jiwa) yang menyesali dirinya sendiri atas perbuatan buruk dan setiap pelanggarannya (75:3). Nafs lawwamah ini merupakan sumber kedua bagi keadaan‑keada­an manusia yang daripadanya timbul keadaan akhlaki; dan sesampai­nya ke martabat itu manusia terlepas dari keadaan yang menyerupai keadaan hewan‑hewan lainnya. Bersumpah dengan perkataan nafs lawwamah disini adalah untuk memberikan penghormatan kepadanya. Jadi, dengan meningkatnya dari keadaan nafs ammarah kepada keadaan nafs lawwamah, yang merupakan kemajuan, ia layak menerima penghormatan di sisi Allah. Dinamai lawwamah karena dia mencela manusia atas keburukannya dan tidak senang kalau manusia bertingkah-laku sewenang-wenang dalam memenuhi keinginan-keinginan thabi’i-nya dan men­jalani hidup seperti hewan-hewan berkaki empat. Bahkan ia meng­hendaki supaya manusia menghayati keadaan-keadaan yang baik ser­ta memiliki budipekerti luhur, dan dalam usaha memenuhi segala keperluan hidupnya manusia jangan sekali pun melakukan pelanggar­an, dan ia menghendaki agar perasaan‑ perasaan serta hasrat‑hasrat thabi’inya diberi penyaluran yang sesuai dengan pertimbangan akal. Jadi, karena dia menyesali tindakan yang buruk, maka ia dinamai nafs lawwamah, yaitu jiwa yang sangat menyesali.

Walaupun nafs lawwamah tidak menyukai dorongan-dorongan thabi’i, bahkan selalu menyesali dirinya sendiri, akan tetapi dalam melaksana­kan kebaikan‑kebaikan ia belum dapat menguasai diri sepenuhnya. Kadang-kadang dorongan-dorongan thabi’i mengalahkannya, kemudian ia tergelincir dan jatuh. Bagaikan seorang anak kecil yang lemah, walau­pun tidak mau jatuh, namun karena lemahnya ia jatuh juga, lalu ia menyesali diri sendiri atas kelemahannya.

Ringkasnya, ini merupakan keadaan akhlaki bagi jiwa tatkala di dalam dirinya telah terhimpun akhlak fadhilah (budipekerti luhur) dan dia sudah jera dari kedurhakaan, akan tetapi belum lagi dapat menguasai diri sepenuhnya.

Keadaan Ketiga: Nafs Muthmainnah

 Kemudian ada sumber ketiga yang boleh dikatakan sumber keadaan‑keadaan rohani. Alquran Suci menyebut sumber ini nafs muthmainnah, sebagaimana dikatakannya:

Yakni, hai jiwa yang tenteram dan mendapat ketenteraman dari Tuhan! Kembalilah kepada Rabb‑mu! Kamu senang kepada‑Nya dan Dia senang kepadamu. Maka bergabunglah dengan hamba‑hamba‑Ku dan masuklah ke dalam surga‑Ku (89:28‑31).

Inilah martabat dimana jiwa manusia memperoleh najat (keselamatan/kebebasan) dari segala kelemah­an, lalu dipenuhi oleh kekuatan‑kekuatan rohaniah dan sedemikian rupa melekat jadi satu dengan Allah Ta’ala sehingga ia tidak dapat hidup tanpa Dia. Laksana air mengalir dari atas ke bawah yang karena banyaknya dan tiada sesuatu yang menghambat­nya, maka air itu terjun dengan deras, begitu pula jiwa manusia tak henti‑ hentinya mengalir terus dan menjurus ke arah Tuhan. Ke arah ini-lah Allah Ta’ala mengisyaratkan, “Hai jiwa yang mendapat ketenteraman dari Tu­han! Kembalilah kepada-Nya!”

Ringkasnya, di dalam hidup ini jugalah dan bukan sesudah mati, manusia menciptakan perubahan yang gilang‑gemilang. Dan di dalam dunia inilah dan bukan di tempat lain ia menemui suatu surga. Dan sebagaimana tercantum dalam ayat itu, yakni, “Kembalilah kepada Rabb-mu (yakni Sang Pemelihara),” seperti itu pula ia mendapat pemeliharaan dari Tuhan. Dan kecintaan Tuhan merupakan makanan baginya. Dari mata air pemberian kehidupan inilah ia mereguk air itu. Oleh karenanya ia terlepas dari maut, sebagaimana firman Allah Ta’ala di tempat lain dalam Alquran Suci:

Yakni, barangsiapa yang membersihkan jiwa dari hasrat-hasrat duniawi, sungguh ia telah selamat dan tidak akan binasa. Akan tetapi barangsiapa yang membenamkan dirinya dalam hasrat‑hasrat duniawi, yang merupakan dorongan-dorongan thabi’i sungguh telah putus‑asalah ia dari hidup ini (91:10,11).

 Jadi, inilah tiga keadaan yang dengan kata lain dapat disebut keadaan‑keadaan thabi’i, akhlaki, dan rohani. Dan dikarenakan pada saat kuatnya dorongan-dorongan thabi’i menjadi sangat berbahaya dan kadang-kadang membinasakan akhlak serta kerohanian, oleh karena itu di dalam Kitab Suci Allah Ta’ala, dia dinamakan keadaan-keadaan nafs ammarah.

Jika ada pertanyaan, apa pengaruh Alquran Suci terhadap keadaan-keadaan thabi’i manusia, dan bimbingan apakah yang diberi­kannya dalam hal itu, serta secara amal, sampai batas manakah yang di­perkenankannya?

Hendaklah diketahui bahwa menurut Alquran Suci keadaan-keadaan thabi’i manusia mempunyai hubungan yang erat sekali dengan keadaan-keadaan akhlaki serta rohaninya. Bahkan, cara manusia makan-minum pun mempengaruhi keadaan‑keadaan akhlaki dan rohani manusia. Jika keadaan-keadaan thabi’i dipergunakan sesuai dengan bimbingan-bimbingan syariat, maka sebagaimana benda apa pun yang jatuh ke dalam tambang garam akan berubah menjadi garam juga, seperti itu pula semua keadaan tersebut berubah menjadi nilai‑nilai akhlak dan memberi pengaruh yang mendalam sekali pada kerohanian. Oleh karena itu, Alquran Suci amat memperhati­kan kebersihan jasmani, tata‑tertib jasmani, dan keseimbangan jasmani dalam berusaha untuk mencapai tujuan segala ibadah, kesucian batin, ke­khusyukan, dan kerendahan hati.

Apabila kita renungkan dengan dalam maka benar sekali kan­dungan filsafat yang mengatakan bahwa tingkah laku jasmani amat besar pengaruhnya pada ruh. Sebagaimana kita saksikan perbuatan-perbuatan alami, walaupun pada lahirnya bersifat jasmani, namun tidak ayal berpengaruh pada keadaan rohani kita. Misalnya, apabila kita mulai menangis, kendatipun hanya pura‑pura serta dibuat‑buat, air mata menggugah suatu perasaan dalam hati dan hati pun ikut merasa sedih. Demikian pula, apabila kita mulai tertawa secara pura-pura dan dibuat‑buat, di dalam hati pun akan timbul rasa gem­bira. Kita saksikan juga bahwa gerakan sujud secara jasmani pun menimbulkan suatu perasaan khusyuk dan kerendahan hati dalam ruh. Sebaliknya kita saksikan pula bahwa apabila kita berjalan dengan menegakkan kepala seraya membusungkan dada, hal ini segera menimbulkan semacam rasa takabur dan tinggi hati. Dari contoh‑contoh di atas nampaklah sejelas-jelasnya bahwa gerak‑gerik jasmani tidak syak lagi mempengaruhi keadaan rohani.

Begitu pula pengalaman menyatakan kepada kita bahwa makanan yang beraneka‑ragam juga mempengaruhi kemampuan-kemampuan otak dan hati. Misalnya, silakan mengamati dengan seksama keadaan orang‑orang yang tidak pernah makan daging. Potensi keberanian mereka lambat‑laun semakin berkurang sehingga akhirnya hati mere­ka menjadi lemah dan mereka kehilangan satu kekuatan yang terpuji anugerah Tuhan.

Kesaksian hukum kodrat * berkenaan dengan itu membuktikan bahwa di antara binatang‑binatang berkaki empat pemakan rumput, tak ada seekor pun memiliki keberanian yang sebanding dengan keberanian binatang pemakan daging. Hal ini dapat kita saksikan pula pada burung-burung.

* Kodrat = kekuasaan; kekuatan Ilahi; sifat bawaan alami.

Ringkasnya, tidak dapat diragukan lagi, bahwa makanan ber­pengaruh pada akhlak. Benar, orang‑orang yang siang‑malam mengutamakan makan da­ging dan sangat kurang makan sayur‑ mayur, kurang memiliki sifat santun dan rendah hati. Sedangkan orang‑orang yang mengambil jalan tengah, mewarisi kedua sifat itu. Mengingat akan hikmah itulah Allah Ta’ala berfirman dalam Alquran Suci:

Yakni, makan jugalah daging dan makan jugalah makanan yang lain. Akan tetapi tiap sesuatu jangan melampaui batas agar jangan timbul pengaruh buruk pada keada­an akhlak, dan agar cara berlebihan itu jangan pula merugikan kesehatan (7:32).

Sebagaimana perbuatan dan tingkah laku jasmani berpengaruh pada ruh, begitu pula adakalanya ruh pun berpengaruh pada tubuh. Orang yang sedang mengalami kesedihan, matanya tentu tergenang air mata, sedangkan yang bergembira, tentu akan tertawa. Makan, minum, tidur, bangun, bergerak, istirahat, mandi dan lain‑lain merupakan perbuatan alami. Segala perbuatan itu pasti mempengaruhi keadaan rohani kita. Struktur jasmani kita sangat erat hubungannya dengan perangai kemanusiaan kita.

Luka yang terjadi pada satu tempat di otak segera menghilangkan daya ingat, dan luka pada tempat lainnya menyebab­kan hilangnya kesadaran. Udara wabah yang beracun menjalar dengan cepat ke seluruh tubuh, kemudian memberi bekas pada hati, dan segera mengacaukan jaringan batiniah yang dengannya terkait segenap sistem akhlak. Akhirnya, dalam beberapa detik, orang itu pun mati seperti orang gila.

Ringkasnya, penderitaan jasmani juga memperlihatkan pemandangan menakjubkan yang dengan itu terbukti bahwa antara ruh dan tubuh ter­dapat suatu pertalian demikian rupa, di luar kemampuan manusia untuk menyingkap rahasianya.

Hakikat Ruh

Selanjutnya dalil mengenai adanya hubungan itu ialah, apa­bila kita renungkan dengan seksama, kita akan mengetahui bahwa induk ruh justru tubuh itu juga. Sesungguhnya ruh tidak jatuh dari atas dan masuk ke dalam kandungan wanita hamil, melainkan ia adalah suatu nur (cahaya) yang justru terkandung dalam nutfah (sperma/ mani) secara tersembunyi dan semakin bercahaya seiring perkembangan tubuh (embrio). Kalam Suci Allah Ta’ala memberikan pengertian kepada kita bahwa ruh berasal dari struktur yang memang sudah terbentuk dari nut­fah di dalam rahim. Sebagaimana Dia berfirman dalam Alquran Suci:

Yakni, kemudian Kami jadikan tubuh yang terwujud dalam rahim ibu, dalam bentuk lain serta menzahirkan lagi satu ciptaan lain yang dinamai ruh. Dan Tuhan Maha Beberkah serta tidak ada pencipta lain yang menyamai-Nya (23:15). Dan difirmankan bahwa, “Kami menzahirkan lagi satu ciptaan lain di dalam tubuh itu juga,” disitu terkandung rahasia yang sangat dalam tentang hakikat ruh dan juga mengisyaratkan adanya pertalian yang sangat erat antara ruh dengan tubuh. Isyarat itu mengajarkan juga kepada kita bahwa perbuatan‑perbuatan jasmani, ucapan‑ucapan, dan segala perbuatan alami manusia apabila semuanya dikerjakan untuk Allah Ta’ala dan mulai nampak di jalan-Nya, maka hal itu berkaitan dengan falsafah Ilahi ini juga. Yakni di dalam amal perbuatan yang ikhlas pun, sejak mula sudah tersembunyi suatu ruh sebagaimana tersembunyinya ruh dalam nutfah. Sema­kin berkembang amal‑amal tersebut, ruh itu semakin cemerlang. Dan, tatkala amal‑amal tersebut sudah sempurna, maka serta-merta ruh itu memancar dengan penampakkannya yang sem­purna dan memperlihatkan wujudnya sendiri dari sisi keruhannya, dan mulailah gerak kehidupan yang jelas.

Manakala struktur amal‑amal itu sudah sempurna, segeralah bagaikan cahaya kilat ia mulai menampakkan sinarnya yang nyata. Itulah tahap yang mengenainya Allah Ta’ala secara kiasan berfirman di dalam Alquran Suci:

Yakni, tatkala Aku telah siap membuat struktur dan telah menyelaraskan segala penzahiran manifestasinya dan Aku telah meniupkan ruh‑Ku ke dalamnya, maka rebahkanlah diri di atas tanah seraya bersujud kepadanya (15:30). Jadi, di dalam ayat tersebut terkandung isyarat bahwa apabila struktur amal-amal itu telah sempurna maka di dalam struktur tersebut bersinarlah ruh yang dilukiskan oleh Allah Ta’ala sebagai datang dari Zat‑Nya sendiri. Oleh karena struktur itu baru siap sesudah kehidupan duniawi mengalami kemusnahan, maka cahaya Ilahi yang tadinya redup, serta-merta menyala berkilauan. Dan dengan melihat keagungan Tuhan serupa ini, wajib bagi segala sesuatu untuk bersujud dan tertarik kepadanya. Maka segala sesuatu bersujud ketika melihat cahaya tersebut dan secara alami bergerak ke arah itu, kecuali iblis yang bersahabat dengan kegelapan.

Ruh sebagai Makhluk

Saya kembali lagi kepada pembicaraan semula, saya jelaskan, sangatlah benar dan tepat bahwa ruh adalah suatu cahaya yang latif (halus), tumbuh dari dalam tubuh itu juga serta yang di­besarkan dalam rahim. Yang dimaksudkan dengan tercipta­nya (ruh) itu ialah, pada taraf permulaan ia tersembunyi dan tak diketahui, kemudian menjadi nampak nyata. Pada taraf permulaan, intinya sudah terkandung dalam nutfah. Tidak ragu lagi, sesuai dengan kehendak, izin serta keinginan Tuhan Samawi, ruh memiliki pertalian yang menakjubkan dengan nutfah. Dan ruh merupa­kan sebuah permata cahaya nurani yang dimiliki nutfah. Tidaklah dapat dikatakan bahwa ruh merupakan bagian dari nutfah seperti halnya bagian-bagian badan yang dimiliki tubuh. Akan tetapi, tidak pula dapat dikatakan bahwa ruh datang dari luar atau jatuh ke bumi lalu bercampur dengan bahan nutfah. Melainkan, ia tersem­bunyi di dalam nutfah seperti halnya api tersembunyi di dalam batu api.

Yang dimaksud oleh Kitab Allah, ruh tidak turun dari langit secara terpisah atau jatuh ke bumi dari angkasa, kemudian secara kebetulan berpadu dengan nutfah, lalu masuk ke dalam rahim. Betapa pun, pendapat demikian tidak dapat dibenarkan. Jika kita berpendapat seperti itu maka hukum alam menyalahkan kita. Setiap hari kita saksikan, bahwa di dalam makanan yang kotor dan basi serta di dalam borok yang kotor terdapat ribuan kuman. Pada pakaian yang kotor melekat ratusan bakteri. Di dalam perut manusia pun berkembang biak cacing-cacing keremi dan sebagai-nya. Sekarang, dapatkah kita mengata­kan bahwa mereka itu terlihat oleh seseorang datang dari luar atau turun dari langit? Jadi, yang benar ialah ruh muncul dari dalam tubuh juga. Dan berdasarkan dalil ini terbukti juga bahwa ruh adalah makhluk (yang diciptakan).

Kelahiran Kedua bagi Ruh

Sekarang maksud kami melalui uraian ini adalah -- Yang Mahakuasa, yang dengan kekuasaan sempurna, telah memunculkan ruh dari dalam tubuh juga -- agaknya Dia berkehendak agar kelahiran kedua bagi ruh pun diwujudkan melalui tubuh juga. Gerak‑gerik ruh bergantung pada gerak‑gerik tubuh kita. Ke jurusan mana kita membawa tubuh, pastilah ruh pun akan ikut serta. Oleh karena itu, menjadi kewajiban Kitab Suci Allah Ta’ala untuk memperhatikan keadaan‑keadaan thabi’i manusia. Itulah sebab-nya Alquran Suci sangat menaruh perhatian terhadap perbaikan keada­an‑keadaan thabi’i manusia dan mencantumkan petunjuk-petunjuk berkenaan dengan: tertawa, menangis, makan, minum, berpakaian, tidur, bicara, diam, kawin, membu­jang, berjalan, menetap, serta mensyaratkan mandi, dan sebagainya untuk kebersihan lahiriah. Begitu pula ketentuan-ketentuan khusus dalam keadaan sakit dan dalam keadaan sehat. Dan Alquran Suci menegaskan bahwa keadaan‑keadaan jasmani manusia berpengaruh pada keadaan‑keadaan rohani. Seandainya semua petunjuk itu ditulis secara rinci, tidak dapat saya bayangkan apakah waktu akan mengizinkan untuk menguraikan masalah itu.

Kemajuan Bertahap bagi Manusia

Ketika saya merenungkan Firman Suci Allah dan memper­hatikan -- bahwa mengapa di dalam ajaran‑ajaran-Nya Dia menganugerahkan kepada manusia kaedah‑kaedah perbaik­an terhadap keadaan‑keadaan thabi’i, lalu secara perlahan-lahan mengangkat-nya ke atas dan ingin mengantarkan sampai kepada derajat tertinggi keadaan rohani -- maka nampak kepada saya bahwa kaedah‑kaedah yang mengandung nilai-nilai kebijakan itu adalah sebagai berikut:

(i) Pertama, Allah berkehendak melepaskan manusia dari cara-cara hewani dengan mengajarkan kepadanya: cara duduk, bangun, makan-minum, bercakap‑cakap dan segala macam tata-cara hidup bermasyarakat. Dan dengan menganugerahkan perbedaan nyata dari kesamaan terhadap hewan, Dia mengajarkan suatu derajat dasar keadaan akhlaki yang dapat dinamakan adab dan tata krama.

(ii) Lalu Dia memberikan keseimbangan pada kebiasaan-kebiasaan alami manusia yang dengan kata lain dapat disebut akhlaq razilah (akhlak rendah), sehingga dengan mencapai keseimbangan itu, ia dapat masuk ke dalam warna akhlaq fadhilah (akhlak tinggi). Akan tetapi, kedua langkah ini, pada hakikatnya sama, sebab bertalian dengan perbaikan keadaan‑keadaan thabi’i. Hanya perbedaan tinggi‑rendah sajalah yang menjadikannya dua macam. Dan Sang Maha Bijaksana telah mengemukakan tatanan akhlak dengan cara demikian se­hingga melaluinya manusia dapat maju dari akhlak rendah mencapai akhlak tinggi.

(iii) Dan selanjutnya Dia telah menetapkan tingkat kemajuan ketiga, yakni manusia tenggelam dalam kecintaan dan keridha­an Sang Maha Pencipta‑nya Yang Hakiki, serta segenap wujud­nya menjadi milik Allah. Inilah suatu tingkat yang untuk mengingatkannya, maka agama orang-orang Muslim telah diberi nama Islam. Sebab, yang disebut Islam ialah penyerahan diri secara sempurna kepada Tuhan dan tidak menyisih­kan sesuatu bagi dirinya sendiri, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

Yakni, orang yang mendapat keselamatan ialah orang yang untuk Allah menyerah­kan diri bagaikan hewan korban di jalan-Nya. Dan ia menunjukkan keikhlasannya tidak hanya dengan niat saja, melainkan dengan perbuatan-perbuatan baik. Barangsiapa berbuat demikian, ganjarannya sudah ditetapkan di sisi Allah. Dan orang‑orang yang demikian, sedikit pun tidak ­takut serta tidak pula akan berduka cita (2:113). Katakanlah: “Sembahyangku, pengorbananku, hidupku, dan matiku ha­nya untuk Allah, yang sifat rabbubiyat‑Nya melingkupi segala sesuatu. Tiada sesuatu dan tiada seorang pun yang merupakan sekutu bagi-Nya, dan tidak ada makhluk yang menyekutui-Nya. Kepadaku diperintahkan agar aku berbuat demikian dan aku adalah yang paling pertama berdiri tegak di atas makna Islam, yakni yang mengorbankan diri di jalan Allah” (6:163‑164). Inilah jalan‑Ku, maka ikutilah jalan‑Ku. Dan sebaliknya jangan ­ikuti jalan lain, karena engkau nanti akan menyimpang jauh dari Allah (6:154). Katakanlah kepada mereka, “Jika kamu cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, dan berjalanlah pada jalanku supaya Allah pun cinta kepadamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Dia adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (3:32).

Perbedaan Keadaan Thabi’i dan Keadaan Akhlaki    serta Penolakan atas Konsep Kekekalan Hidup

 Sekarang kami akan menerangkan ketiga tingkat keadaan manu­sia itu satu demi satu. Akan tetapi, pertama-tama perlu diingatkan bahwa, menurut isyarah-isyarah Kalam Suci Allah Ta’ala, keadaan thabi’i (alami) manusia yang bersumber dan berpangkal dari nafs ammarah itu, bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan‑keadaan akhlaki. Sebab Kalam Suci Allah telah menempatkan semua kekuatan alami, keinginan‑keinginan, serta dorongan-dorongan jasmani sebagai keadaan-keadaan thabi’i. Dan keadaan‑keadaan thabi’i -- yang secara sadar dilakukan dengan teratur, seimbang dan sesuai dengan kesempatan serta keadaan -- akan mengambil warna akhlak. Begitu pula keadaan-keadaan akhlaki bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan-keadaan rohani. Justru keadaan‑keadaan akhlaki itu jugalah yang akan mengambil warna kerohanian dengan cara meleburkan diri sepenuhnya pada Allah; mensucikan diri; memutuskan segala hubungan hanya untuk melekatkan diri kepada Allah; serta dengan penuh kecintaan, penuh kemabukan, penuh ketenangan, penuh ketenteraman, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Selama keadaan‑keadaan thabi’i tidak beralih ke dalam warna akhlak, selama itu manusia tidak layak mendapat pujian. Sebab, keadaan itu terdapat juga di kalangan hewan lain, bahkan pada tumbuh‑tumbuhan. Begitu pula dengan hanya memiliki akhlak saja, tidak dapat menganugerahi manusia kehidupan rohani. Bahkan seorang yang mengingkari adanya Wujud Allah Ta’ala sekali pun dapat memperlihatkan akhlak yang baik. Kerendahan hati atau kehalusan budi atau suka damai, meninggalkan kejahatan dan tidak memperdulikan orang‑orang bejad, semua itu adalah keadaan‑keadaan thabi’i. Dan semua sifat itu dapat juga dimiliki oleh seorang yang rendah, yang tidak mengenal sumber najat (keselamatan) yang sebenarnya. Banyak juga binatang berkaki empat yang rendah hati, jika diganggu dan disakiti mereka cenderung menampakkan sikap damai. Bila mereka tidur, dipukuli dengan tongkat, mereka tidak melawan. Namun walau demikian mereka tidak dapat disebut manusia. Apalagi dengan sifat-sifat itu bagaimana mungkin mereka akan dapat menjadi manusia yang tinggi martabat­nya.

Begitu pula seorang penganut prinsip paling buruk sekalipun, bahkan juga pelaku berbagai kejahatan, dapat memiliki sifat‑sifat semacam itu. Mungkin saja seorang manusia dalam hal kasih sayang mencapai batas sedemikian rupa, sehingga ia tidak tega membunuh kuman-kuman yang ada pada lukanya. Ia begitu tolerannya terhadap makhluk-makhluk hidup, sehingga ia tidak ingin mencelakakan kutu‑kutu yang ada di kepala atau kuman-kuman yang terdapat dalam perut, dalam usus atau dalam otak. Bahkan dapat saya akui bahwa ada orang yang demikian jauhnya mempunyai rasa kasih sayang sehingga ia berpantang minum madu. Sebab untuk memperoleh madu itu banyak nyawa harus dibinasakan dan lebah-lebah malang itu harus diusir dari sarang-nya. Saya percaya ada orang yang berpantang menggunakan minyak kesturi, sebab terbuat dari darah kijang 1) yang diperoleh dengan membunuh binatang malang itu terlebih dahulu dan memisahkan dari anak-anaknya. Begitu pula saya tidak menyangkal, ada orang yang tidak mau menggunakan mutiara dan tidak mau mem­akai sutera, sebab keduanya diperoleh dengan cara membinasakan hewan-hewan malang itu. Bahkan saya percaya, ada orang yang ketika sakit berpantang menggunakan lintah 2) dan membiarkan dirinya sendiri men­derita asal tidak membuat lintah itu mati. Pada akhirnya, ada yang mau mengakui ataupun tidak, namun saya mengakui bahwa ada orang yang memperlihatkan kasih sayang demikian besar sehingga untuk menyelamatkan kutu‑kutu air, ia rela membinasakan dirinya (dengan pantang minum air, Peny.).

__________________________________

1)  Kijang ini dari jenis tertentu, karena tidak semua kijang mengandung bahan kesturi. Dan dari jenis tertentu ini hanya kijang betina baru beranak yang mengandung kesturi. (Peny).

2)  Pengobatan tradisional menggunakan lintah untuk mengisap darah si pasien. (Peny).

 Saya akui semua hal itu, akan tetapi saya sekali‑kali tidak dapat menerima bahwa semua keadaan thabi’i itu dapat disebut akhlak. Atau, bahwa hanya dengan itu saja dapat dibersihkan kekotoran batin yang merintangi jalan untuk berjumpa dengan Wujud Allah Ta’ala.

Saya sekali-kali tidak akan percaya bahwa kerendahan hati dan sikap toleran seperti itu -- yang mana beberapa hewan berkaki empat dan unggas pun lebih baik dalam perkara tersebut -- dapat menjadi faktor untuk meraih derajat kemanusiaan yang tinggi. Bahkan, menurut saya, itu adalah menentang hukum kodrat; berlawanan dengan akhlak mulia guna mendapatkan keridhaan Allah; dan mengingkari nikmat yang telah dilimpahkan kodrat kepada kita. Justru tingkat kerohanian itu sebenarnya diperoleh melalui penggunaan setiap akhlak yang tepat menurut keadaan serta kesempatan, dan dengan melangkah secara setia pada jalan Allah, serta menyerahkan diri kepada kehendak‑Nya.

Ada pun tanda orang yang menjadi milik-Nya, ia tidak dapat hidup tanpa Dia. Seorang arif adalah seekor ikan yang telah disembelih dengan tangan Tuhan, sedangkan airnya adalah kecintaan Ilahi.

Tiga Cara Perbaikan dan Diutusnya Rasulullah saw.        ketika Perbaikan sangat Diperlukan

Sekarang saya kembali pada pembahasan semula. Saya baru saja menyebutkan bahwa ada tiga buah sumber keadaan‑keadaan manusia, yaitu: nafs ammarah, nafs lawwamah, dan nafs muthma’innah. Sedangkan cara perbaikan (ishlah) pun ada tiga macam.

Cara pertama ialah, menegakkan orang‑orang biadab yang tidak mengenal sopan-santun, pada akhlak rendah/dasar. Yaitu, supaya mereka mengikuti tata-cara manusiawi dalam hal makan‑ minum, kawin, dan lainnya yang berhubungan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Tidak telanjang kesana-kemari; tidak memakan bangkai seperti anjing; dan tidak memper­lihatkan sesuatu perbuatan lain yang tidak sopan. Ini merupakan perbaikan dasar di antara perbaikan keadaan‑keadaan thabi’i. Ini adalah semacam perbaikan yang umpamanya jika ingin mengajarkan tata-cara manusia­wi kepada salah seorang di antara orang‑orang biadab di Port Blair, 3) maka pertama‑tama kepada mereka diajarkan adab sopan-santun dan akhlak-akhlak dasar manusiawi.

Cara kedua untuk perbaikan ialah, apabila orang itu sudah menguasai adab sopan-santun manusiawi secara zahir, maka kepadanya hendaklah diajarkan akhlak-akhlak manusiawi yang tinggi, serta mengajarkannya supaya menggunakan segala potensi insaniah yang ada, agar diterapkan pada ke­adaan dan kesempatan yang tepat.

Cara ketiga untuk perbaikan ialah, orang‑orang yang telah memiliki akhlak tinggi, kepada orang-orang zahid (saleh) seperti ini dicicipkan kelezatan serbat kecintaan dan perjumpaan (Ilahi).

Demikianlah tiga perbaikan yang telah diterangkan oleh Alquran Suci.

Dan junjungan kita Sayyidina Muhammad Mustafa saw. telah diutus pada zaman ketika dunia mengalami kerusakan dan kebinasaan dalam segala segi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

     Yakni, daratan telah binasa dan lautan pun binasa (30:42). Ayat ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang disebut ahlulkitab telah rusak,  begitu pula orang-orang lain yang tidak pernah menerima siraman air wahyu juga telah rusak. Jadi, tugas yang diemban Alquran Suci pada hakikatnya ialah menghidupkan orang-orang mati, sebagaimana Dia berfirman:

__________________________________

3)  Port Blair adalah sebuah tempat di kepulauan Andaman yang di masa penjajahan Inggris dipakai tempat pengasingan orang‑orang jahat dari India. (Peny.)

Yakni, ketahuilah bahwa Allah Ta’ala sekarang menghidupkan bumi kembali sesudah matinya (57:18). Pada zaman itu keadaan di Arab telah mencapai puncak kebiadaban, dan dikalangan mereka sudah tidak tersisa lagi suatu tatanan manusiawi. Dan segala bentuk kemaksiatan, pada pandangan mereka merupakan suatu kebanggaan. Masing-masing orang memiliki ratusan perempuan sebagai istri. Makan barang haram merupakan suatu kecanduan menurut mereka. Menikahi ibu kandung sen­diri mereka anggap halal. Untuk itulah terpaksa Allah Ta’ala berfirman:

Yakni, semenjak sekarang ibu-ibumu diharamkan bagi kalian (4:24). Begitu pula mereka biasa makan bangkai, juga makan daging manusia. Tiada perbuatan dosa di dunia ini yang tidak mereka lakukan. Kebanyakan mereka mengingkari Hari Kemudian. Banyak di antara mereka yang juga tidak mengakui adanya Wujud Tuhan. Mereka biasa membunuh anakanak perempuan mereka dengan tangan mereka sen­diri. Mereka membunuh anakanak yatim lalu memakan harta kekayaannya. Secara lahiriah mereka manusia, akan tetapi akal mereka mati. Tidak punya sifat hayya, malu dan tidak pula harga diri. Mereka biasa minum minuman keras seperti minum air. Siapa yang unggul berbuat zina, dialah yang disebut pe­mimpin kaum. Demikian kosongnya mereka dari ilmu, sehingga segenap kaum di sekitarnya menjuluki mereka ummi (buta huruf). Pada zaman demikian serta untuk memperbaiki kaum-kaum serupa itulah Junjungan kita Nabi Muhammad saw. telah diutus di kota Mekkah.

Demikianlah, tiga macam perbaikan yang baru saya terangkan. Pada hakikatnya memang itulah zamannya. Jadi, dibandingkan dengan semua ajaran lain di dunia, Alquran Suci mendakwakan diri sebagai yang paling sempurna dan paling lengkap. Sebab kitab‑kitab lain di dunia ini tidak mendapat kesempatan melaksanakan ketiga macam perbaikan itu, sedangkan Alquran Suci telah memperolehnya. Dan tujuan Alquran Suci ialah membuat hewan menjadi manusia, dan dari manusia itu membuat manusia-manusia berakhlak, lalu dari manusia-manusia berakhlak membuat manusia-manusia yang berTuhan. Untuk itulah Alquran Suci mengandung ketiga masalah tersebut.

Tujuan Pokok Ajaran Alquran adalah Ketiga Perbaikan & Keadaan Thabi’i dapat menjadi Akhlak melalui Penyelarasan 

Sebelum saya menerangkan ketiga perbaikan itu secara rinci, kami merasa perlu menjelaskan bahwa di dalam Alquran Suci tidak ada suatu ajaran yang harus dipercayai secara paksa. Justru tujuan seluruh Alquran hanyalah ketiga perbaikan itu. Dan intisari semua ajarannya adalah ketiga perbaikan tersebut. Sedangkan segenap peraturan lainnya merupakan sarana-sarana untuk perbaikan itu. Seperti halnya seorang dokter yang dalam usahanya memulihkan kembali kesehatan pasiennya, sewaktu‑waktu perlu melakukan pembedahan dan kadang‑kadang hanya mengoleskan salep; demikian pula ajaran Alquran, solidaritasnya terhadap umat manusia, telah melakukan tindakan-tindakan seperti itu sesuai dengan kondisi masing-masing. Maksud sebenarnya semua ajaran makrifat yakni ilmu-ilmu, nasihat dan sarana-sarana lainnya --ialah mengantarkan umat manusia dari keadaan‑keadaan thabi’i yang memiliki corak biadab, kepada keadaan-keadaan akhlaki. Dan kemudian mengantarkannya dari keadaan-keadaan akhlaki hingga ke samudera kerohanian yang tiada bertepi.

Sebelumnya telah kami terangkan bahwa keadaan‑keadaan thabi’i bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan‑keadaan akhlaki, melainkan keadaan‑keadaan itu jugalah yang bila diterapkan sesuai pertimbangan akal dan tempat serta kesempatan yang tepat, dengan cara yang semestinya, akan mengambil corak keadaan‑keadaan akhlaki. Selama hal itu tidak dilakukan berdasarkan perbaikan dan pertimbangan akal serta makrifat -- tidak perduli betapa pun hal itu sangat menyerupai akhlak -- pada hakikatnya itu bukanlah akhlak, melainkan hanya merupakan dorongan naluri yang mengalir tanpa kendali. Seperti halnya jika seekor anjing atau seekor kambing yang menampakkan kecintaan atau kepatuhan pada majikannya, maka kita tidak akan mengatakan anjing itu berakhlak, dan tidak pula akan menyebut kambing itu beradab. Demikian pula kita tidak akan mengatakan serigala atau singa berakhlak buruk karena faktor kebuasannya. Melainkan, sebagaimana telah disebutkan, keadaan akhlaki itu mulai berlaku setelah bertindak sesuai dengan keadaan, pertimbangan akal dan ketepatan waktu. Dan orang yang tidak menggunakan akal serta pikirannya, adalah seperti bayi-bayi yang hati serta akalnya belum dinaungi daya pikir, atau seperti orang gila yang kehilangan akal dan kebijakan. Jelaslah bahwa seorang bayi atau orang gila, kadang‑kadang memperlihatkan tingkah-laku yang nampaknya seper­ti akhlak, akan tetapi tiada orang arif yang dapat menamakan-nya akhlak. Sebab, tingkah laku tersebut tidak terbit dari sumber penalaran dan pertim­bangan suasana, melainkan timbul secara alami oleh rangsangan-rangsangan. Misalnya bayi manusia, begitu lahir serta‑merta ia mencari buah dada ibunya. Dan anak ayam begitu menetas langsung lari untuk mematuk biji‑bijian. Anak lintah mewarisi kebiasaan lintah, anak ular menampakkan kebiasaan-kebiasaan ular, dan anak singa memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan singa. Hendaknya diperhatikan, khususnya keadaan anak manusia, bagaimana dia begitu lahir langsung memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan manusia. Dan tatkala ia telah mencapai usia satu sampai satu setengah tahun, maka kebiasaan‑kebiasaan thabi’inya nampak sangat nyata. Misalnya, sebagaimana ia menangis pada masa-masa awal, kini ia menangis lebih keras dibandingkan dengan sebelumnya. Begitu pula senyumnya berubah menjadi tertawa terbahak‑bahak. Matanya pun memperlihatkan tanda bahwa ia mulai melihat dengan sengaja. Pada usia ini timbul pula suatu gejala alami lainnya, yaitu mem­perlihatkan suka atau tidak sukanya melalui gerak‑gerik, dan ia ingin memukul atau ingin memberi sesuatu kepada orang lain. Akan tetapi semua gerak-gerik ini sesungguhnya hal-hal alami.

Jadi, seperti halnya bayi tadi, ada juga manusia biadab yang sedikit sekali memiliki nalar manusiawi. Dia pun hanya sekedar memperlihatkan gerakan-gerakan alami dalam setiap ucapan, perbuatan, gerak dan diamnya. Dan dia mengikuti gejolak-gejolak alaminya. Tiada suatu perkara timbul daripadanya yang merupakan hasil pikiran dan pertimbangan kekuatan batin, me­lainkan segala sesuatu yang timbul dari dalam dirinya secara alami terus mengalir berdasarkan rangsangan-rangsangan dari luar. Mungkin saja gejolak-gejolak alami yang keluar dari dalam dirinya akibat suatu rangsangan, tidak semuanya buruk. Bahkan di antaranya ada yang menyerupai akhlak baik. Akan tetapi di dalamnya tidak terdapat campur tangan pemikiran dan pertimbangan akal. Kalau pun ada campur tangan akal dan pikiran dalam kadar tertentu, dikarenakan gejolak-gejolak alami lebih dominan, maka hal itu tidak layak dipercaya. Justru sesuatu yang lebih dominanlah yang dianggap dapat dipercaya.

Akhlak Sejati

Ringkasnya, kita tidak dapat menyebutkan bahwa orang-orang yang di­kuasai unsur-unsur alami -- seperti hewan, anakanak dan orang-orang gila itu, dan yang cara hidupnya hampir‑hampir menyerupai orang biadab semacam itu -- memiliki akhlak sejati. Melainkan pada hakikatnya, berlaku­nya masa akhlak baik atau akhlak buruk ialah semenjak akal manusia, yang merupakan anugerah Tuhan, telah ma­tang. Dan dengan perantaraan akal itu ia dapat membedakan kebaikan dan keburukan, atau membedakan dua kebaikan dari dua keburukan dalam derajatnya. Kemudian, dengan meninggalkan jalan kebaikan, timbullah di dalam hatinya suatu penyesalan atas perbuatan buruknya. Itu­lah masa kedua dalam kehidupan manusia, yang di dalam Kalam Suci Allah, Alquran Suci, diungkapkan dengan nama nafs lawwamah. Akan tetapi, hendaknya diperhatikan bahwa untuk mengantarkan seorang biadab sampai kepada keadaan nafs lawwamah tidaklah cukup dengan sekedar memberi nasihat saja. Melainkan adalah mutlak baginya untuk memiliki pengetahuan tentang Tuhan, yang dengan itu ia tidak akan beranggapan bahwa kelahirannya sia‑sia dan tidak mem­punyai suatu maksud, sehingga dengan makrifat Ilahi itu timbul pada dirinya akhlak sejati. Oleh karenanya, Allah Ta’ala bersamaan dengan itu menekankan masalah makrifat Tuhan yang sejati, dan Dia memberi keyakinan bahwa di dalam setiap amal serta akhlak terkandung suatu konsekuensi yang dapat mengakibatkan kelezatan rohani atau pun siksaan rohani di dalam hidupnya; dan yang akan menampakkan dampak-dampaknya secara nyata di dalam kehidupan kedua (akhirat). Pendeknya, pada derajat nafs lawwamah manusia sudah sedemi­kian rupa memiliki akal, makrifat, dan hati nurani yang suci sehingga ia menyesali dirinya sendiri apabila melakukan perbuatan buruk, lalu mendambakan dan menghasratkan perbuatan yang baik. Pada derajat itulah manusia memperoleh akhlak fadhilah (budipekerti luhur).

Khalq dan Khulq

Pada tempat ini ada baiknya jika saya juga menjelaskan definisi kata khulq dalam kadar tertentu. Hendaknya dimaklumi bahwa khalq        (      ) dengan tanda fatah di atas huruf kha (   ) merupakan nama dari penciptaan/kelahiran lahiriah. Sedangkan khulq (     ) dengan tanda dhammah (   ) di atas huruf kha (   ) merupakan nama dari penciptaan/kelahiran batiniah. Dikarenakan penciptaan/kelahiran batiniah baru akan mencapai kesempurnaan hanya melalui akhlak, bukan melalui gejolak-gejolak alami, oleh sebab itulah kata khulq dipakai untuk akhlak dan tidak digunakan untuk gejolak-gejolak alami. Lalu, patut diterangkan juga, sudah merupakan anggapan umum bahwa khulq itu hanya merupakan kelemah-lembutan, kehalusan dan kerendahan hati saja. Padahal, sebanding dengan anggota tubuh lahiriah, segala bentuk kelebihan manusiawi yang telah ditanamkan di dalam batin, kesemuanya itu dinamakan khulq. Misalnya, orang menangis melalui mata, dan seiring dengan itu di dalam hatinya terdapat rasa haru. Apabila itu digunakan pada tempatnya, melalui akal anugerah Tuhan, maka ia merupakan suatu khulq (akhlak). Begitu pula manusia melawan musuh dengan tangan, dan se­jalan dengan gerakan itu di dalam hati timbul suatu kekuatan yang disebut keberanian. Jadi, apabila manusia menggunakan kekuatan tersebut sesuai dengan tempat dan keadaan, itu pun di­namakan khulq. Demikian pula kadang-kadang manusia dengan tangan­nya ingin menyela­matkan orang‑orang teraniaya dari orang-orang zalim. Atau, ia ingin memberikan sesuatu kepada orang miskin dan orang‑orang lapar, atau dengan cara lain ingin mengkhidmati umat manusia. Dan sejalan dengan gerakan itu di dalam hatinya timbul suatu kekuatan yang disebut kasih sayang. Dan kadang‑kadang manusia memberi hukuman dengan tangannya kepada orang zalim, dan bersesuaian dengan itu di dalam hatinya terdapat suatu kekuatan yang disebut pembalasan. Kadang‑kadang manusia tidak ingin membalas serangan dengan serangan, dan membiarkan saja per­buatan zalim itu. Seiring dengan gerakan tersebut di dalam hatinya ter­dapat suatu kekuataan yang disebut maaf dan sabar. Dan kadang‑kadang manusia ingin membantu sesamanya dengan menggunakan tangan atau kakinya, perasaan dan pikirannya, serta membelanjakan harta bendanya untuk kesejahteraan mereka, maka sejalan dengan gerakan itu terdapat di dalam hatinya suatu kekuatan yang disebut kedermawanan. Pendeknya, apabila manusia menggunakan semua kekuatan sesuai dengan tempat dan keadaan, maka pada waktu itu kekuatan-kekuatan tersebut dinamakan khulq (akhlak).

Allah swt. berfirman kepada Nabi Muhammad saw.:

Yakni, engkau menempati khulq yang agung (68:5). Jadi, sesuai penjelasan itu, artinya adalah: “Segala macam akhlak --kedermawanan, keberanian, keadilan, kasih-sayang, baik hati, lurus hati, tabah hati, dan sebagainya -- terhimpun di dalam diri engkau (Rasulul­lah saw.).” Ringkasnya, sekian banyak kekuatan yang terdapat di dalam hati manusia -- seperti sopan, malu, jujur, sayang, harga diri, teguh, pembatasan diri/suci, bersih hati, keseimbangan, setia kawan, demikian pula keberanian, kedermawanan, maaf, sabar, baik hati, lurus hati, setia, dan sebagainya -- apabila semua keadaan thabi’i ini ditampilkan sesuai dengan tempat dan kesempatan, serta mengikutkan pertimbangan akal dan pikiran, maka semuanya akan dinamakan akhlak. Semua akhlak ini pada hakikatnya merupakan keadaan‑keadaan thabi’i serta gejolak-gejolak alami manusia, dan mereka baru dapat disebut akhlak apabila digunakan dengan sengaja, sesuai tempat dan keadaan. Dikarenakan pada potensi-potensi alami manusia terdapat suatu potensi sebagai makhluk hidup yang maju, maka dengan menganut agama yang benar; dengan berkumpul bersama orang-orang baik; dan dengan ajaran yang suci, maka gejolak-gejolak alami semacam itu dapat diubahnya menjadi akhlak. Dan hal ini tidak dimiliki oleh makhluk bernyawa lainnya.

Perbaikan Pertama:

Keadaan-keadaan Thabi’i Manusia

Sekarang kami akan membahas perbaikan pertama, berkaitan dengan keadaan-keadaan thabi’i (alami) yang paling rendah, salah satu di antara tiga per­baikan dari Alquran Suci. Perbaikan ini merupakan salah satu bagian dari akhlak yang disebut adab (sopan santun). Yakni, adab yang dengan menerapkannya, orang‑orang biadab dapat menjadi seimbang/normal dalam perkara-perkara alami: makan, minum, kawin dan tata cara peradaban lainnya serta melepaskannya dari kehidupan liar bagaikan hewan berkaki empat atau binatang buas. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Alquran Suci berkenaan de­ngan seluruh adab itu:

Terjemah: yakni, diharamkan atas kamu (mengawini) ibu‑ ibumu, demikian pula anakanak perempuanmu, saudara‑saudara perempuanmu, saudara‑saudara perempuan bapakmu, saudara‑ saudara perempuan ibumu, anak anak perempuan saudara laki‑ lakimu dan anakanak perempuan saudara perempuanmu dan ibu‑ ibu yang menyusuimu, saudara-saudara perempuan sepesusuanmu, ibu‑ibu istri-istrimu, dan anakanak tiri perempuan dari istri‑istrimu yang telah kamu gauli, dan apabila kamu belum menggauli­ mereka, maka tidak ada dosa bagimu. Dan istri‑istri anakanak lelaki dari sulbimu dan begitu pula dua saudara perempuan pada satu waktu. Semua hal yang sudah biasa kamu lakukan di masa lampau itu sekarang diharamkan atasmu (4:24). Ini pun tidak dibenar­kan bagimu mengambil warisan perempuan-perempuan dengan jalan paksa (4:20). Dan ini pun tidak dibenarkan bagimu mengawini perempuan‑perempuan yang pernah menjadi istri‑istri bapakmu kecuali yang telah terjadi pada masa lampau (4:23). Perempuan‑perempuan yang memelihara kehormatan mereka dari antara kamu atau dari antara Ahli Kitab yang terdahulu, dihalal­kan bagimu untuk mengawini mereka sesudah mas kawin mereka ditetapkan. Berbuat zina dan mempunyai perempuan‑perempuan piaraan tidak dibenarkan (5:6).

Di kalangan orang jahil Arab, jika seseorang tidak mempunyai anak, terdapat adat kebiasaan di antara mereka menyuruh istri‑istri mereka digauli orang lain untuk memperoleh anak. Alquran Suci mengharamkan perbuatan itu. Kebiasaan buruk itu disebut musafahat.

Lebih lanjut Dia berfirman: Janganlah kamu bunuh diri (4:30). Janganlah membunuh anakanakmu (6:152). Janganlah kamu memasuki rumah orang lain tanpa izin seperti orang biadab; meminta izin adalah syarat. Pada saat kamu me­masuki rumah orang lain ucapkanlah, “Assalamu’alaikum”.... Dan apabila tidak ada siapa‑siapa di dalam rumah itu, sebelum kamu diizinkan oleh penghuni rumah, kamu jangan memasuki rumah itu. Dan apabila penghuni rumah berkata kepadamu, “Pulang sajalah,” maka pulanglah kamu (24:28,29). Dan janganlah kamu memasuki rumah dengan melompati pagar­nya, melainkan hendaknya kamu memasukinya dari pintu-pintunya (2:190). Dan kalau ada seseorang memberi salam kepadamu, hendaknya kamu membalas salam kepadanya dengan cara yang lebih baik (4:87). Dan minuman keras, berjudi, menyembah berhala, dan panah undian, semua itu adalah pekerjaan kotor dan pekerja­an syaitan. Maka jauhilah pekerjaan‑pekerjaan itu (5:91). Janganlah kamu makan bangkai; jangan makan daging babi, jangan makan sesajen‑sesa­jen yang dipersembahkan bagi berhala‑berhala, jangan makan binatang yang dibunuh dengan tongkat; jangan makan binatang yang mati karena terjatuh, jangan makan binatang yang mati karena ditanduk; jangan makan binatang yang mati diterkam binatang buas; jangan makan binatang yang disembelih untuk berhala. Sebab, se­muanya itu termasuk bangkai (5:4). Dan jika orang-orang ini bertanya, “Lalu, apa yang harus kami ma­kan?” Maka jawablah, “Makan segala barang yang bersih di dunia ini, hanya janganlah kamu memakan bangkai dan yang se­bangsa bangkai, dan benda-benda yang kotor” (5:5).

Apabila di dalam acara-acara pertemuan dikatakan kepadamu, “Geserlah dudukmu,” yakni berilah orang lain tempat, maka segeralah lapang­kan tempat agar orang lain dapat duduk. Dan kalau dikatakan, “Berdirilah,” maka berdirilah tanpa bersungut‑ sungut (58:12). Boleh saja kamu makan daging, kacang‑kacangan dan segala ma­kanan lainnya yang bersih, akan tetapi janganlah kamu berlebihan terhadap satu jenis makanan saja, dan hindarilah diri dari hal-hal yang berlebih‑lebihan (7:32). Janganlah berbicara yang sia‑sia, tetapi berbicara­lah tepat sesuai dengan keadaan dan tempat (33:71). Peliharalah pakaianmu agar tetap bersih. Singkirkanlah kotor­an dan najis dari badan, rumah, jalan dan dari se­tiap tempat kediamanmu; yakni dengan jalan membiasakan man­di dan membersihkan rumah‑rumahmu (74:5,6). Janganlah berjalan terlampau cepat dan jangan pula terlampau lambat. Hendaknya sedang‑sedang sajalah. Dan jangan ter­lampau keras suaramu, jangan pula terlalu lemah (31:20). Apabila kamu hendak mengatakan perjalanan, maka persiapkanlah perjalananmu dari segala segi dan bawalah bekal dengan cukup, agar kamu terhindar dari meminta‑minta (2:198). Dalam keadaan junub hendaknya kamu mandi (5:7). Ketika kamu sedang makan, berikan jugalah kepada peminta‑minta, begitu juga kepada anjing, burung dan lain‑lain (51:20). Jika ada kelapangan, tiada salahnya kamu mengawini anakanak perempuan yatim yang ada di bawah asuhanmu. Akan tetapi jika kamu menimbang bahwa disebabkan mereka tidak berahli-waris mungkin kamu akan berlaku aniaya terhadap mereka, maka kawinilah perempuan‑perem­puan yang masih mempunyai ibu-bapak serta kerabat yang meng­hormati kamu dan kamu menyegani mereka. Kamu dapat mengawini satu, dua, tiga sampai empat dengan syarat kamu harus berlaku adil. Dan apabila kamu tidak dapat berlaku adil, maka seorang pun memadailah, walau sangat diperlukan. Penetapan batas bilangan empat ialah untuk menjaga agar kamu jangan berlebih-lebihan mengikuti kebiasaan lama, yaitu mengawini perempuan sampai beratus‑ratus jumlahnya. Atau supaya kamu jangan cenderung berbuat zina (4:4). Dan berikanlah kepada istri‑istrimu maskawin (4:5).

Ringkasnya, inilah perbaikan pertama dari Alquran Suci. Di dalamnya keadaan-keadaan alami manusia ditarik ke luar dari cara-cara yang biadab, lalu mengarahkannya kepada unsur-unsur manusiawi yang lazim dan kepada peradaban. Di dalam ajaran ini belum lagi disinggung tentang akhlak luhur, hanya mengenai adab manusiawi saja. Dan telah kami tuliskan bahwa ajaran ini diperlukan adalah karena bangsa yang untuk memperbaikinya Rasulullah saw. telah diutus, merupakan bangsa yang paling biadab dari segenap bangsa lainya. Dari segala segi, mereka tidak memiliki tata-cara manusiawi. Jadi, kepada mereka perlu diajarkan lebih dahulu adab manusiawi yang nyata.

Haramnya Babi      

Satu hal yang patut diingat disini ialah babi yang telah diharamkan. Tuhan semenjak awal telah mengisyaratkan keharaman itu di dalam namanya sendiri. Sebab, kata khinzir (babi) adalah paduan dari kata‑kata khinz dan ar, yang berarti, “Saya lihat dia sangat rusak dan buruk.” Kata khinz berarti “sangat rusak” dan ar berarti “saya lihat.” Pendeknya, nama binatang ini, yang diperolehnya dari Tuhan semenjak awal, itu pun menunjukkan keburukannya. Suatu kebetulan yang menakjubkan bahwa dalam bahasa Hindi binatang ini dinamakan suar. Kata itu paduan dari kata su’ dan ar, yang artinya “Saya lihat dia sangat buruk.” Jangan heran mengapa kata su’ itu berasal dari bahasa Arab, sebab di dalam kitab kami Minan‑ur‑Rahman kami telah membuktikan bahwa ibu segala bahasa adalah bahasa Arab, dan per­kataan bahasa Arab tidak hanya satu-dua buah terdapat dalam tiap‑tiap bahasa, melainkan ribuan. Jadi, suar adalah kata bahasa Arab. Oleh karena itu, terjemahan kata suar dalam bahasa Hindi ada­lah buruk. Ringkasnya, binatang itu disebut buruk. Dalam hal ini tidak ada suatu keraguan pun bahwa pada zaman ketika bahasa seluruh dunia adalah bahasa Arab, di negeri ini (Hindus­tan) binatang itu dikenal dengan nama yang searti dengan kata khinzir dalam bahasa Arab, dan kemudian masih berlaku sampai sekarang sebagai peninggalan. Ya, mungkin saja dalam bahasa Sansekerta terdapat kata yang mirip dengan itu telah mengalami perubahan, kemudian bentuknya menjadi lain. Akan tetapi, inilah kata yang benar, sebab dia mengandung makna demikian, dan kata khinzir merupakan saksi yang berbicara sendiri atas hal itu. Adapun arti kata tersebut  -- yakni sangat rusak -- tidak memerlukan penjelasan lebih dalam. Siapa yang tidak tahu bahwa binatang ini paling hebat dalam hal makan kotoran dan juga tidak punya malu serta dayyus 4). Sekarang nyatalah penyebab mengapa ia diharamkan, yaitu menurut hukum alam, daging binatang yang kotor dan buruk, juga berpengaruh buruk pada badan dan ruh. Sebab telah kami buktikan bahwa makanan juga pasti berpengaruh pada ruh manusia. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa yang buruk itu juga memberikan pengaruh buruk. Tabib‑tabib Yunani di masa sebelum Islam berpendapat bahwa daging binatang ini mengurangi khususnya rasa malu dan memperbesar sifat dayyus. Itulah sebab­nya di dalam syariat Islam memakan bangkai juga dilarang, karena bangkai pun

menarik pemakannya ke dalam sifat bangkai, dan menimbul­kan mudarat pula pada kesehatan jasmani. Binatang‑binatang yang mati dengan darah masih tetap di dalam badannya -- misalnya dicekik atau dipukul mati dengan tongkat -- sebenarnya semua binatang ini termasuk kategori bangkai. Apakah darah bangkai, dengan tetap berada dalam badannya, masih tetap dalam keadaan semula? Tidak! Justru,  kare­na kelembaban, darah akan segera busuk dan kebusukannya akan merusak seluruh daging. Dan bakteri-bakteri di dalam darah yang juga telah terbukti melalui penelitian-penelitian mutakhir, akan mati, lalu menyebarkan suatu kebusukan yang beracun di dalam tubuh.

__________________________________

4). Dayyus adalah ungkapan bagi suami yang isterinya tidak setia dan dia tidak peduli serta tidak punya rasa malu.

Perbaikan Kedua:

Keadaan-keadaan Akhlaki Manusia

Bagian kedua dari perbaikan menurut Alquran Suci ialah, meningkatkan keadaan‑keadaan thabi’i menjadi akhlak fadhilah dengan memenuhi syarat-syarat yang diperlukan. Hendaknya jelas, bahwa ini merupakan bagian yang sangat luas. Seandainya bagian ini kami uraikan secara rinci -- yakni menuliskan disini semua akhlak yang dijelaskan oleh Alquran Suci -- maka karangan ini akan demikian rupa panjangnya sehingga waktu tidak memadai untuk mengetengahkan bagian seper­sepuluhnya pun. Oleh karena itu bebera­pa akhlak fadhilah saja yang dipaparkan sebagai contoh. Ketahuilah, akhlak terdiri dari dua macam:

1.  Akhlak-akhlak yang dengan perantaraannya manusia mampu meninggalkan kejahatan.

2.  Akhlak-akhlak yang dengan perantaraannya manusia mampu berbuat kebaikan.

Di dalam makna “meninggalkan kejahatan” terkandung akhlak-akhlak yang dengan perantaraannya manusia berusaha agar lidah, tangan, mata atau salah satu anggota badan lainnya tidak mendatangkan kerugian pada harta, kehormatan, dan jiwa orang lain; atau berniat menimbulkan kerugian serta ke­rusakan pada nama baik seseorang.

Sedangkan di dalam makna “berbuat kebaikan” terkan­dung semua akhlak yang dengan perantaraannya manusia ber­usaha agar lidah, tangan, harta, dan ilmunya, atau dengan perantaraan sarana lain, memberikan manfaat pada harta atau kehormatan orang lain; atau bermaksud menzahirkan kemegahan maupun kehormatannya. Atau, bila seseorang telah berbuat suatu aniaya terhadapnya, ia mampu memberi maaf atas hukuman yang patut ditimpakan kepada si penganiaya, dan melalui cara itu dapat memberi faedah kepada orang tersebut dengan menghindarkannya dari kesusahan, dan hukuman badan serta denda. Atau, memberi orang itu hukuman sedemikian rupa yang pada hakikatnya bagi dia merupakan suatu rahmat.

(i). Akhlak-akhlak yang Berkaitan dengan

Meninggalkan Kejahatan

Sekarang, baiklah dimaklumi bahwa akhlak-akhlak yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta untuk meninggalkan kejahatan disebut dengan empat nama dalam bahasa Arab yang masing-masing mengandung kata mufrad (tunggal), untuk men-zahirkan seluruh pemikiran, tingkah laku, dan budipekerti manusia.

1. Kesucian Farji             

Akhlak pertama dinamakan ihshon (       ). Yang dimaksud dengan kata ini khususnya adalah kesucian diri yang ada kaitannya dengan kemampuan kembang biak laki-laki dan perempuan.

Adapun sebutan muhshin (      ) dan muhshinah (      ) ditujukan pada laki‑laki dan perempuan yang mencegah dirinya dari ketidak sucian dengan cara menghindari perbuatan zina mau-pun perbuatan yang mendekati itu, yang dapat mengakibatkan kehinaan dan laknat di dunia ini serta azab akhirat di alam nanti bagi mereka berdua. Dan bagi kaum kerabat, selain pencemaran nama baik, juga mendatangkan kerugian yang sangat besar. Misalnya, seseorang telah melakukan per­buatan tidak senonoh terhadap isteri orang lain, atau mungkin bukan berupa zina, akan tetapi laki‑laki dan perempuan melakukan hal-hal yang mendekati itu, maka tidak diragukan lagi kepada istri dari suami yang teraniaya dan punya harga diri itu -- yakni isteri yang membiarkan dirinya memancing perzinahan, atau benar-benar telah terjadi perzinahan -- terpaksa dijatuhkan talak. Dan jika dari kandungan perem­puan itu lahir anak keturunan, maka mereka pun akan mengalami kekacauan. Dan sang kepala keluarga akan memikul segala kerugian yang disebabkan oleh orang yang buruk itu.

Disini hendaknya diingat, bahwa akhlak yang dinamakan ihshon atau ‘iffat (       ) -- yakni menjaga kesucian diri -- itu baru akan disebut akhlak apabila di dalam diri seseorang terdapat kemampuan untuk memandang dengan pandangan berahi atau untuk berbuat tidak senonoh. Yakni, kodrat telah memberinya kemampuan yang dengan perantaraan itu dia memperoleh peluang untuk melakukan pelanggaran, namun dia menyelamatkan dirinya dari perbuatan tercela itu. Dan apabila kemampuan serupa itu tidak terdapat dalam dirinya -- kare­na masih kanak-kanak, atau lemah syahwat, atau kasim (yang di­kebiri), atau tua-renta -- maka dalam keadaan demikian kita tidak dapat menamakannya akhlak ihshon atau ‘iffat.

Ya, memang di dalam dirinya pasti terdapat ihshon atau ‘iffat yang tampil dalam keadaan alami. Akan tetapi, berkali‑kali telah kami tuliskan bahwa keadaan-keadaan alami itu tidak dapat disebut akhlak. Justru keadaan-kadaan itu baru dapat dimasukkan dalam kategori akhlak apabila berlangsung sesuai pertimbangan akal, tepat pada tempat dan kondisinya; atau keadaan-keadaan itu menimbulkan kemampuan untuk terjadi. Oleh karenanya seperti telah kami tuliskan, kanak-kanak atau laki‑laki lemah syahwat dan orang‑orang yang melalui suatu upaya telah memadamkan kejantanannya sendiri, tidak dapat dikatakan memiliki akhlak ter-sebut; walaupun secara zahir mereka menjalani hidup dengan warna ‘iffat dan ihshon. Justru ‘iffat dan ihshon mereka dalam segala bentuk berlangsung dalam keadaan alami -- tidak lebih dari itu.

     Dan dikarenakan perbuatan tidak senonoh serta pendahuluan-pendahuluannya dapat berlangsung dari laki-laki maupun perempuan, maka di dalam Kitab Suci Tuhan terdapat ajaran berikut yang ditujukan kepada laki‑laki dan perempuan keduanya.

Yakni, katakanlah kepada orang‑orang mukmin laki‑laki agar menahan mata mereka dari memandang wanita‑wanita yang bukan muhrim dan janganlah mereka memandang dengan cara menyolok kepada wanita‑wanita yang dapat membangkit­kan syahwat, dan pada keadaan serupa itu hendaklah membiasa­kan memandang mereka dengan pandangan redup. Dan menjaga kemaluan mereka dengan segala cara yang mungkin. Begitu pula hendaknya memelihara telinga mereka dari wanita‑wanita yang bukan muhrim, yaitu janganlah mereka mendengarkan nyanyian dan suara merdu wanita‑wanita lain. Janganlah mendengarkan ceritera‑ceritera tentang keelokan paras wanita‑wanita. Cara demikian merupakan yang terbaik untuk memelihara kesucian mata dan kalbu. Begitu juga katakanlah kepada wanita‑wanita mukmin supaya mereka menahan pandangan mereka dari laki‑laki yang bukan muhrim. Dan begitu pula hendaknya memelihara telinga mereka dari yang bukan muhrim, yaitu janganlah mereka men­dengar suara yang dapat membangkitkan syahwat dan tutuplah aurat dan jangan menampakkan bagian keindahan mereka kepada yang bukan muhrim. Dan kenakanlah kain kudungan demikian rupa sehingga menutup kepala sampai ke dadanya, yakni kedua daun telinga, kepala dan kedua belah pelipis tertutup kudungan semuanya. Dan janganlah menghentak-hentakkan kedua kaki seperti para penari. Inilah upaya yang dengan mengikutinya akan dapat menyelamatkan dari ketergelinciran.

Dan cara kedua untuk menyelamatkan diri ialah dengan kembali kepada Allah Ta’ala dan memanjatkan do’a kepada-Nya supaya Dia menyelamat­kan dari ketergelinciran dan keter­pelesetan (24:31,32). Janganlah mendekati zina, yaitu hindarilah pertemuan yang karena­nya di dalam hati dapat timbul pikiran ke arah itu. Dan janganlah menempuh jalan-jalan yang dengan melaluinya dikhawatirkan timbul dosa tersebut. Orang yang berzina sungguh melakukan suatu perbuatan buruk bertaraf puncak. Jalan zina adalah sangat buruk karena menghalangi sasaran yang dicita-citakan, dan sangat berbahaya bagi tujuan akhir kalian (17:33). Orang‑orang yang belum mampu kawin hendaknya menjaga ‘iffat-nya (ke­sucian farji) dengan cara-cara lain, misalnya, berpuasa atau mengu­rangi makan, atau mengerjakan pekerjaan yang melelahkan tubuh (24:34). Dan orang‑orang ada juga yang memilih cara dengan sengaja untuk selamanya tidak kawin atau menjadi kasim 5) dan dengan cara tertentu menempuh jalan hidup rahbaniyyat 6). Akan tetapi, Kami tidak mewajibkan perintah-perintah ini atas manusia. Oleh karenanya, mereka tidak dapat melaksanakan bid’ah‑bid’ah itu dengan sepenuhnya (57:28).

__________________________________

5).  Kasim adalah orang yang dikebiri.

6).  Rahbaniyyat artinya tidak beristeri atau bersuami seperti biarawati dan biarawan, atau para rahib.

Firman Tuhan yang menyatakan bahwa Dia tidak memerintahkan orang agar menjadi kasim, mengisyaratkan bahwa sekiranya itu merupakan perintah Tuhan, maka semua orang akan berkewajiban mengamalkan perintah itu. Sehingga dalam keadaan demikian anak keturunan manusia akan terputus, lalu dunia akan punah sejak lama. Kemudian, jika untuk memperoleh kesucian, perlu memotong alat kelamin laki-laki, maka hal itu seolah‑olah celaan terhadap Sang Pencipta yang telah membuat bagian tubuh tersebut. Dan demikian pula, bahwa tumpuan sentral dari pahala terletak pada adanya suatu potensi, kemudian manusia karena takut kepada Allah terus melawan dorongan-dorongan buruk dari potensi tersebut, dan dengan mengambil manfaat-manfaat dari potensi itu maka manusia meraih pahala dari dua sisi. Jadi, nyata-lah bahwa dengan menghilangkan bagian tubuh itu, manusia luput dari kedua pahala tersebut. Pahala justru diperoleh karena adanya dorongan negatif, kemudian manusia melawannya. Namun seseorang yang seperti anak kecil tidak memiliki potensi tersebut, pahala apa yang akan ia peroleh? Apakah anak kecil dapat menerima pahala karena ‘iffat-nya?

Lima Resep untuk Memelihara Kesucian Farji

Di dalam ayat‑ayat tersebut, untuk meraih akhlak ihshon yakni ‘iffat, Allah Ta’ala tidak hanya mengemukakan ajaran mulia saja, melainkan Dia juga memberitahukan lima resep untuk tetap memelihara kesucian diri. Yakni: 1. mencegah mata memandang yang bukan muhrim; 2. mencegah telinga mendengar suara orang-orang yang bukan muhrim; 3. tidak mendengarkan ceritera‑ceritera tentang orang-orang yang bukan muhrim; 4. mencegah diri dari segala acara yang dikhawatirkan dapat menimbulkan perbuatan buruk tersebut; 5. jika tidak kawin hendaknya berpuasa, dan sebagainya.

Pada tempat ini kami menyatakan sepenuhnya bahwa ajaran mulia yang diterangkan oleh Alquran Suci dengan segala tata cara itu hanya khusus terdapat dalam Islam. Dan disini ada satu hal yang patut diingat, yaitu dikarenakan keadaan thabi’i manusia --yang merupakan sumber nafsu syah­wat; yang tanpa suatu perubahan sempurna, manu­sia tidak dapat menghindarkan diri daripadanya -- dengan menemukan suasana dan kesempatan maka dorongan-dorongan syahwatnya tidak akan tinggal diam. Atau katakanlah akan terjerumus ke dalam bahaya yang besar. untuk itulah Allah Ta’ala tidak mengajarkan kepada kita agar memandangi wanita-wanita bukan muhrim walau tanpa sengaja, dan memperhatikan segala keindahan mereka serta menyaksikan liuk‑lenggang mereka menari dan sebagainya asal kita memandang dengan pandangan yang suci. Dan Dia tidak pula mengajarkan kepada kita agar kita mende­ngarkan nyanyian gadis‑gadis bukan muhrim, dan agar kita mendengarkan ceritera‑ceritera tentang kecantikan mereka, asal kita mendengarkan­nya dengan pikiran yang bersih.

Justru kepada kita ditekankan supaya sekali‑kali jangan memandang wanita‑wanita bukan muhrim dan keindahan-keindahan mereka, baik dengan pan­dangan suci maupun dengan pandangan berahi. Jangan mendengarkan suara-suara merdu mereka serta kisah‑kisah kecantikan mereka, baik dengan pikiran bersih maupun dengan pikiran kotor. Bahkan hendaknya kita merasa jijik mendengarkan serta memandang mereka seperti melihat bangkai, agar kita tidak jatuh terge­lincir. Sebab, pasti pada suatu waktu pandangan yang tanpa kendali akan menggelincirkan. Oleh sebab itu, dikarenakan Allah Ta’ala menghendaki supaya mata, hati dan resiko-resiko kita semuanya tetap terpelihara suci, untuk itulah Dia telah memberikan ajaran yang mulia ini. Memang tidak diragukan lagi bahwa tidak adanya ikatan dapat menimbulkan ketergelinciran. Apabila kita letakkan roti-roti lembut di depan seekor anjing lapar dan kita berharap anjing itu tidak akan menghiraukan roti tersebut, maka dengan mempunyai pikiran itu sesungguhnya kita melakukan suatu kekeliruan. Jadi, Allah Ta’ala telah menghendaki agar kekuatan nafsu itu tidak memperoleh kesempatan melakukan gerakan-gerakan tersembunyi, begitu pula tidak dihadapkan kepada kesempatan apa pun yang dapat menimbulkan bahaya-bahaya buruk.

__________________________________

7).  Pardah ialah cara pembatasan pergaulan antara kaum pria dan wanita.

Ini jugalah yang merupakan falsafah pardah 7) menurut Islam dan inilah petunjuk syariat. Di dalam Kitab Allah, yang dimaksudkan dengan pardah bukanlah sekedar mengurung wanita‑ wanita seperti para tahanan dalam penjara. Itu adalah tang­gapan orang‑orang yang tidak mengetahui tata-cara Islami. Justru yang dimaksudkan adalah, wanita dan laki­-laki keduanya dicegah memandang secara bebas dan memamerkan keindahan masing-masing. Sebab di situ terdapat suatu kebaikan bagi kaum pria dan wanita keduanya. Akhirnya, hendaklah diingat juga bahwa sikap menghindarkan diri dengan memandang secara redup dan melihat benda-benda yang dibenarkan untuk dipandang, dalam bahasa Arab sikap demikian disebut ghadhu bashar (             ). Dan setiap orang mutaki yang ingin tetap memelihara hatinya dengan suci, hendaknya ia jangan melayangkan pandangannya dengan liar kesana-kemari, seperti binatang-binatang, melainkan wajib baginya menerapkan kebiasaan ghadhu bashar dalam pergaulan hidupnya. Dan ini adalah suatu kebiasaan beberkat yang mengakibatkan keadaan thabi’i tersebut berubah masuk ke

dalam warna suatu akhlak yang kokoh, dan tidak akan menimbulkan perbedaan di dalam keperluan-keperluan pergaulan hidupnya. Inilah akhlak yang disebut ihshon dan ‘iffat.

2. Kejujuran

Corak kedua dalam meningggalkan kejahatan adalah akhlak yang disebut amanah (     ) atau diyanah (     ). Yakni, tidak suka merugikan orang lain de­ngan jalan merampas hartanya secara licik dan dengan niat jahat. Hendaknya jelas bahwa diyanah dan amanah merupakan salah satu keadaan thabi’i. Untuk itulah bayi yang masih menyusu pun, disebabkan oleh umurnya yang masih dini, memiliki kepolosan alami. Dan kemudian, dikarenakan usia yang masih dini, ia belum biasa terhadap kebiasaan‑kebiasaan buruk. Ia demikian rupa tidak menyukai barang milik orang lain sehingga ia sulit sekali menetek dari wanita lain. Jika di waktu masih belum punya kesadaran tidak ditetapkan se­orang ibu-inang, maka ketika sudah memiliki kesadaran sangatlah sukar memberikan susu kepadanya dari wanita lain, dan jiwanya sangat menderita. Dan mungkin sekali, akibat penderitaan itu ia bisa mati. Sebab secara alami ia tidak suka menetek dari wanita lain. Apa rahasia yang terkandung di dalam ketidak-sukaan semacam itu? Tidak lain adalah kare­na ia secara alami tidak suka meninggalkan ibunya lalu beralih kepada barang milik orang lain. Sekarang, jika kita perhatikan, renung­kan, dan selami hakikat kebiasaan bayi tersebut, maka akan nam­pak dengan jelas kepada kita bahwa kebiasaan tidak menyukai milik orang lain -- sampai-sampai ia rela menyusahkan diri sendiri -- itu adalah akar dari kejujuran dan amanah. Dan dalam hal akhlak diyanah, seseorang tidak dapat dikatakan jujur selama ia -- seperti bayi tersebut -- belum menimbulkan di dalam hatinya rasa benci dan jijik yang se-sungguhnya terhadap harta benda orang lain. Akan tetapi, bayi tidak menerapkan kebiasaan itu tepat pada tempat­nya, dan karena belum berakal maka ia memikul cukup banyak penderitaan. Oleh karenanya, kebiasaan serupa itu hanyalah gejala keadaan alami belaka, yang secara spontan diperlihatkannya; sehingga tingkah‑lakunya itu tidak dapat digolongkan sebagai akhlaknya, walaupun itu merupakan akar akhlak jujur dan amanah yang sesungguhnya sebagai pembawaan fitrat manusia. Seperti halnya bayi tidak dapat dikatakan bersifat amiin (ter­percaya) dan jujur karena tingkah lakunya yang belum berdasarkan pada pertimbangan akal. Begitu pula seseorang tidak dapat dika­takan memiliki akhlak tersebut karena tidak mempergunakan keadaan alami itu tepat pada tempatnya. Untuk menjadi seorang amiin dan jujur bukanlah suatu hal yang mudah. Selama manusia belum memperhatikan segala segi, maka ia tidak dapat disebut amiin dan jujur. Berkenaan dengan itu Allah Ta’ala dalam ayat‑ayat berikut ini mengemukakan cara‑cara amanah sebagai contoh. Dan cara-cara amanah itu adalah:

Terjemah: yakni, andaikata di antara kamu ada orang berharta yang belum sempurna akalnya -- misalnya anak yatim atau yang belum baligh -- dan kamu khawatir bahwa dia akan menyia-nyiakan hartanya karena kebodohannya, maka janganlah kamu (sebagai wali) menyerahkan seluruh harta yang merupakan modal perniagaan dan penghidupan kepada mereka yang belum sempurna akalnya itu. Dan dari harta itu berikanlah seperlunya untuk makan dan pakaian mereka. Dan hendaklah kamu ucapkan kepada mereka perkataan-perkataan yang baik, yakni perkataan-perkataan yang dapat meningkatkan akal dan pemahaman mereka. Dan dengan demikian mereka akan memperoleh didikan yang layak, dan mereka tidak selalu menjadi terkebelakang serta tidak berpengalaman. Seandainya mereka anakanak saudagar, ajarilah mereka cara-cara berniaga. Jika berasal dari suatu bidang usaha lainnya, maka kokohkanlah mereka dalam bidang itu sebaik-baik-nya. Pendeknya, berilah secara bersamaan pelajaran kepada mereka dan secara berkala ujilah pengetahuan mereka, apakah mereka sudah memahami segala sesuatu yang kamu ajarkan atau belum. Kemudian, kalau mereka sudah layak menikah, yakni sudah mencapai usia kurang lebih delapan belas tahun, dan kamu lihat bahwa akal mereka telah mampu mengelola harta mereka sendiri, maka serahkanlah kepada mereka harta mereka itu. Dan janganlah belanjakan harta mereka dengan tujuan yang sia-sia, serta janganlah kamu tergesa-gesa merugikan harta mereka dengan mengkhawatirkan bahwa mereka akan dewasa sehingga mereka akan mengambil alih harta mereka. Barangsiapa yang kaya, hendaknya jangan mengambil sebagian dari harta itu sebagai imbalan jasa. Akan tetapi yang kurang mampu dapat mengambil sepantasnya (4:6,7).

Di kalangan bangsa Arab terdapat cara yang lazim bagi para pengurus harta (anak yatim), yaitu jika pengurus anakanak yatim ingin mengambil dari harta anakanak itu, maka sedapat mungkin hendaknya mereka menaati kaedah ini. Yakni mereka mengambil dari laba hasil usaha perputaran harta anakanak yatim itu dan jangan menghancurkan modal pokoknya. Jadi, ke arah tradisi inilah diisyaratkan supaya kalian pun menerapkan demikian. Kemudian Dia berfirman, apabila kamu hendak mengem­balikan harta kepada anakanak yatim, maka serahkanlah harta mereka itu dihadapan saksi‑saksi. Dan barangsiapa hampir meninggal dunia sedangkan anakanaknya masih lemah serta di bawah umur, maka hendaknya mereka jangan membuat wasiat yang akan mengabaikan hak anakanaknya. Barangsiapa memakan harta anakanak yatim hingga mengakibatkan aniaya terhadap anakanak yatim itu, maka mereka bukannya memakan harta, melainkan api. Dan pada akhirnya mereka akan dimasukkan ke dalam api yang menyala-nyala (4:10,11).

Kini perhatikanlah, betapa hebatnya Allah Ta’ala menjelaskan aspek-aspek mengenai kejujuran dan amanah. Jadi, kejujuran dan amanah yang hakiki ialah yang merangkum seluruh aspek itu. Dan jika dalam amanah itu semua aspek tidak diperhatikan tanpa disertai bimbingan akal sepenuhnya, maka ke­jujuran dan amanah seperti itu akan diiringi oleh beraneka ragam unsur ­khianat yang terselubung, melalui berbagai cara. Kemudian pada tempat lain Allah Ta’ala berfirman,

Yakni, janganlah kamu makan harta sesamamu dengan jalan tidak sah. Dan janganlah kamu memberikan hartamu kepada petugas pemerintah sebagai suapan sehingga dengan bantuan si petugas itu kamu menguasai harta orang lain (2:189). Serahkanlah amanat‑amanat itu kepada orang‑orang yang ber­hak memilikinya (4:59). Allah tidak bersahabat dengan orang‑orang yang berkhianat (8:59). Apabila kamu mengukur maka ukurlah dengan sempurna. Dan apabila kamu menimbang, maka timbanglah dengan sempurna dan dengan timbangan yang benar (17:36). Dan janganlah kamu merugikan harta orang lain dengan cara apa pun (7:86). Dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan niat meng­adakan kekacauan, yakni dengan niat mencuri atau merampok atau mencopet atau menguasai harta orang lain dengan cara‑cara yang tidak sah (2:61). Kemudian Dia berfirman: Janganlah kamu pertukarkan barang-barang yang buruk dan jelek sebagai ganti barang-barang yang baik. Yaitu, seperti halnya menguasai harta orang lain tidak dibenarkan, demikian pula tidak di­benarkan menjual barang yang buruk, atau janganlah kamu memberi­kan barang yang buruk dan jelek sebagai ganti yang baik. Yakni, seperti halnya tidak dibenarkan menguasai harta orang lain, begitu pula tidak dibenarkan menjual barang buruk, memberikan yang buruk sebagai ganti yang baik (4:3).

Dalam semua ayat ini Allah Ta’ala telah menerangkan segala cara ketidakjujuran. Dan firman itu begitu luasnya sehingga tidak ada unsur ketidak­jujuran apa pun yang tidak tercakup di dalamnya. Tidak hanya sekedar mengatakan, janganlah kamu mencuri; sehingga seseorang yang bodoh tidak sampai beranggapan bahwa mencuri baginya diharamkan tetapi cara-cara tidak sah lainnya dibenarkan semua. Mengharamkan segala cara yang tidak sah, adalah hikmah uraian yang terkandung di dalam firman yang luas tersebut. Ringkasnya, jika seseorang tidak memiliki akhlak kejujuran dan amanah dengan wawasan tersebut serta tidak memperhatikan semua aspeknya itu, sekalipun ia memperlihatkan juga kejujuran dan amanah dalam beberapa hal, maka perbuatannya itu tidak dapat digolongkan ke dalam akhlak kejujuran, melainkan merupakan suatu keadaan thabi’i yang hampa dari pertimbangan akal dan pengertian.

3. Tidak Jail dan Bersikap Rukun

Corak ketiga dari akhlak-akhlak meninggalkan kejahatan ialah yang disebut dalam bahasa Arab hudnah (      ) dan haun (      ) yakni tidak menyakiti jasmani orang lain secara aniaya dan menjadi manusia yang tidak jail serta menjalani hidup yang rukun. Jadi, tidak ragu lagi bahwa bersikap rukun merupakan akhlak yang tinggi derajatnya dan amat penting bagi kemanusiaan. Dan sesuai dengan akhlak tersebut, di dalam diri bayi terdapat ulfat (        ) -- yakni keakraban -- yang merupakan suatu potensi alami, yang bila diterapkan secara seimbang dapat menjadi akhlak. Adalah jelas bahwa seorang manusia hanya di dalam keadaan thabi’i saja, -- yakni di dalam keadaan manusia belum menggunakan akalnya -- tidak akan dapat memahami arti rukun dan tidak pula dapat memahami arti berkelahi. Jadi, pada saat itu di dalam dirinya terdapat kebiasaan untuk hidup serasi/akrab; dan itulah yang merupakan akar dari sikap rukun. Akan tetapi, oleh karena belum diterapkan dengan pertimbangan akal, renungan mendalam dan iradah (kehendak) yang khusus, maka hal itu tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan akhlak. Melainkan apabila manusia dengan sadar mem­buat dirinya sendiri menjadi seorang yang tidak jail lalu mengguna­kan akhlak rukun tepat pada tempatnya serta menghindarkan diri dari penggunaannya yang tidak tepat, barulah hal itu dapat dimasukkan ke dalam golongan akhlak. Berkenaan dengan itu Allah Ta’ala mengajarkan:

Yakni, berukun‑rukunlah antara sesamamu (8:2). Di dalam rukun terdapat kebaikan (4:129). Dan jika mereka cenderung ke arah perdamaian, maka cenderung pulalah engkau ke arah itu (8:62). Hamba‑hamba Allah yang saleh berjalan di muka bumi dengan rukun (25:64). Dan jika mendengar suatu ucapan sia‑sia, beru­pa pendahuluan dan mukadimah yang menjurus kepada pertentangan dan perkelahian, maka berlalulah mereka secara terhormat (25:73). Dan mereka tidak memulai pertengkaran karena perkara-perkara kecil. Yakni, selama tidak menimbulkan penderitaan besar maka mereka tidak merasa pantas untuk bersengketa. Dan dasar untuk menerapkan sikap rukun yang tepat sesuai keadaan adalah mengabaikan perkara-perkara kecil dan bersedia memaafkannya. Dan kata laghw (       -- sia‑sia) yang terdapat di dalam ayat ini hendaknya jelas bahwa di dalam bahasa Arab perkataan laghw itu menunjukkan kepada perbuatan demikian, misalnya, seseorang yang karena nakalnya mengucapkan kata‑kata yang tidak senonoh atau melakukan suatu perbuatan dengan maksud menyakiti, sedangkan pada hakikatnya hal itu tidak mendatangkan suatu kerugian dan kemudaratan bagi si pen­derita. Jadi, tanda hidup rukun ialah mengabaikan perbuatan-perbuatan menyakiti yang sia-sia itu dan menerapkan perilaku yang mulia. Tetapi jika perbuatan menyakiti itu tidak hanya se-batas laghw saja, malahan benar‑benar mendatangkan kerugian pada jiwa, harta atau kehormatan, maka akhlak rukun sedikit pun tidak ada kaitannya dengan itu. Melainkan, jika dosa semacam itu diampuni, maka akhlak yang demikian disebut ‘afw (    ), yang uraiannya insya Allah akan dijelaskan kemudian.

Lebih lanjut Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa yang karena nakalnya mengucapkan kata‑kata tidak senonoh, maka hendaklah kamu membalasnya dengan sikap rukun melalui cara yang baik. Maka dengan jalan demikian musuh pun akan menjadi kawan (41:35).

Ringkasnya, penggunaan sikap mengabaikan dengan cara rukun hanyalah bagi jenis keburukan yang tidak mendatangkan kerugian, dan hanya berupa ucapan-ucapan yang tidak berarti dari musuh.

4. Ucapan yang Sopan dan Tutur Kata yang Baik

Corak keempat dari akhlak-akhlak meninggalkan kejahatan adalah rifq (      = ucapan yang sopan) dan qaulu hasan (        = tutur kata yang baik). Se­dangkan akhlak ini timbul dari keadaan alami yang dinamakan thalaqat (       = kefasihan lidah).

Sebelum seorang anak mampu mengungkapkan isi hatinya melalui kata-kata, dia hanya mem­perlihatkan kefasihan lidah, bukannya ucapan yang sopan dan tutur kata yang baik. Inilah dalil yang membuktikan bahwa akar rifq yang daripadanya tumbuh cabang ini adalah thalaqat. Thalaqat adalah sebuah potensi, sedangkan rifq merupakan sebuah akhlak yang timbul melalui peng­gunaan potensi tersebut tepat pada tempatnya. Berkenaan dengan itu Tuhan mengajarkan:

Terjemah: yakni, ucapkanlah kepada orang‑orang kata‑kata yang benar-benar baik (2:84). Janganlah suatu kaum memperolok-olokkan kaum lain, boleh jadi kaum yang diperolok‑olokkan itulah yang baik. Sebagian wanita janganlah memperolok‑olokkan sebagian wanita yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan itulah yang baik. Janganlah timbulkan aib. Jangan beri julukan-julukan buruk kepada orang-orangmu... Janganlah berprasangka buruk dan jangan mencari-cari aib orang lain. Janganlah mempergunjingkan satu sama lain (49:12,13). Janganlah kamu menuduh seseorang yang mengenainya kamu tidak mempunyai bukti. Dan ingatlah bahwa semua anggota tubuh akan dimintai pertanggungjawaban, dan telinga, mata, serta hati masing-masing akan ditanyai (17:37).

(ii) Akhlak-akhlak yang Berkaitan dengan   Berbuat Kebaikan

Jenis-jenis akhlak meninggalkan keja­hatan telah selesai dan sekarang kami akan menjelaskan jenis-jenis akhlak berbuat kebaikan. Jenis kedua dari akhlak-akhlak itu berkaitan dengan berbuat kebaikan.

1. Sikap Memaafkan

Akhlak pertama dari antaranya ialah ‘awf (   ) yakni memaafkan dosa orang lain. Disini, berbuat kebaikan adalah: Se-seorang melakukan dosa sehingga dia mengakibatkan kemudaratan, dan dia sendiri layak untuk dibalas dengan kemudaratan -- dihukum, dipenjara, didenda, atau menghukum dirinya sendiri -- jika memaafkannya adalah sesuatu yang tepat, maka hal itu sudah merupakan sikap berbuat kebaikan. Dalam hal ini ajaran Alquran Suci adalah:

Yakni, orang‑orang baik ialah mereka yang menahan amarah pada saat kemarahan itu harus ditahan, dan memaafkan dosa pada saat harus dimaafkan (3:135). Balasan bagi kejahatan adalah se-timpal dengan keja­hatan yang dilakukan. Akan tetapi, seseorang yang memaafkan suatu dosa -- dan pemberian maaf itu dilakukan pada kesempatan yang dapat mendatangkan perbaikan dan tidak menimbulkan keburukan; yakni tepat pada kondisi ‘awf (pemberian maaf) serta bukan tidak pada tempatnya -- maka ia akan memperoleh pahalanya (42:41).

Dari ayat ini jelas bahwa bukanlah ajaran Alquran untuk --tanpa sebab dan dalam setiap kasus -- tidak memerangi kejahatan serta tidak menghukum para penjahat dan orang-orang aniaya. Melainkan ajarannya adalah, hendaknya dilihat, apakah kondisi dan kesempatan itu merupakan tempat pemberian maaf atau tempat pemberian hukuman. Jadi, yang benar-benar terbaik bagi si pelaku kejahatan dan juga bagi khalayak umum, itulah yang hendaknya diterapkan. Kadangkala dengan diberi maaf, seorang pelaku kejahatan akan ber­tobat, dan adakalanya dengan diberi maaf, seorang pelaku kejahatan akan bertambah berani.

Ringkasnya, Allah Ta’ala berfirman, janganlah membiasakan diri memberi maaf secara membuta, melain­kan pertimbangkanlah dengan seksama, dimana terletak kebaikan yang sejati: apakah dalam sikap memaafkan, atau dalam sikap memberi hukuman. Jadi, ambillah tindakan yang tepat menurut keadaan dan tempat-nya. Dengan memperhatikan banyak orang, nampak jelas bahwa sebagian orang sangat berhasrat membalas dendam, sampai-sampai mereka tetap mempertahankan dendam-dendam yang berasal dari nenek moyang mereka. Demi­kian pula sebagian orang mempunyai kebiasaan memaafkan serta merelakan yang sangat berlebihan. Dan kadang-kadang kebiasaan ini begitu keterlaluan-nya sehingga menimbulkan dayus. 8) Sikap lunak, memaafkan dan merelakan -- yang memalukan itu -- benar-benar bertentangan dengan martabat, harga diri, dan kesucian farji, bahkan menodai norma-norma baik. Dan dampak sikap memaafkan serta merelakan seperti ini, membuat semua orang membencinya. Dengan memperhatikan keburukan‑keburukan semacam inilah, Alquran Karim telah menetapkan syarat ketepatan tempat dan keadaan bagi setiap akhlak. Dan Alquran tidak menyetujui akhlak yang dilakukan pada tem­pat dan keadaan yang salah.

__________________________________

8). Lihat catatan kaki No. 4.

Hendaklah diingat bahwa sikap memaafkan semata tidak dapat disebut akhlak, melainkan hal itu merupakan suatu potensi alami yang terdapat pada diri anakanak. Seorang anak yang terluka oleh seseorang, walaupun sekedar karena main‑main, sebentar kemudian ia akan melupakan peristiwa itu dan akan menghampiri orang tersebut dengan akrab. Dan kendatipun orang itu benar‑benar berniat hendak membunuhnya, tetap saja si anak senang terhadap kata-kata yang manis. Jadi, sikap memaafkan serupa itu, bagaimanapun tidak dapat di­golongkan ke dalam akhlak. Ia baru dapat digolongkan ke dalam akhlak apabila kita menggunakannya tepat sesuai dengan tempat dan keadaan. Jika tidak demikian halnya, maka itu hanyalah berupa suatu potensi alami belaka. Sedikit sekali orang di dunia ini yang dapat membedakan antara potensi alami dengan akhlak. Telah berulang-kali kami katakan bahwa perbedaan antara akhlak hakiki dan keadaan‑keadaan thabi’i ialah: akhlak senantiasa mengandung

pertimbangan tempat dan keadaan yang tepat, sedangkan potensi alami dapat menampilkan dirinya tanpa memper­dulikan tempat dan keadaan yang tepat. Benar, di antara binatang berkaki empat, lembu tidak berbahaya dan kambing pun lunak hatinya. Akan tetapi berdasarkan faktor-faktor itu, kita tidak dapat menyebutnya memiliki akhlak-akhlak tersebut, karena mereka tidak diberi akal untuk mengenal tempat dan keadaan. Hikmah kebijaksanaan Tuhan dan Kitab‑Nya yang benar lagi sempurna, telah menetapkan tempat dan keadaan bagi setiap akhlak.

2. Bersikap Adil

Akhlak kedua dari akhlak-akhlak berbuat kebaikan adalah‘adl      (     ) dan yang ketiga adalah ihsan, sedangkan yang keempat adalah itai zil. qurba. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

Yakni, Allah Ta’ala memerintahkan agar kamu berbuat kebaikan sebagai balasan terhadap kebaikan. Dan apabila kamu mendapat kesempatan serta kemungkinan untuk berbuat lebih dari bersikap adil, maka berbuatlah ihsan. Dan apa­bila lebih dari ihsan kamu mendapat kesempatan serta kemungkinan berbuat baik seperti kepada kaum kerabat yang timbul dari dorongan alami, maka berbuatlah kebaikan dengan kasih sayang alami. Dan Allah Ta’ala melarang kamu melampaui batas‑batas kewajaran atau dalam peluang berbuat ihsan kamu menampakkan kemunkaran yang tidak diterima oleh akal. Yakni, kamu berbuat ihsan yang tidak pada tempatnya, atau kamu tidak mau berbuat ihsan padahal dikehendaki oleh keadaan; atau kamu agak lalai dalam akhlak itai zil qurba pada tempat yang sepatutnya; atau melimpahkan kasih sayang berlebih‑lebihan sampai melampaui batas (16:91). Di dalam ayat suci ini diuraikan tiga derajat berbuat kebaikan.

Derajat per­tama ialah berbuat kebaikan sebagai balasan terhadap kebaikan. Ini merupakan derajat rendah. Dan orang-orang yang memiliki peradaban paling rendah dapat memiliki akhlak ini, yaitu ia tetap berbuat kebaikan terhadap orang‑orang yang berbuat ­baik kepadanya.

3. Berbuat Kebaikan yang Lebih

Derajat kedua adalah lebih sulit dari derajat pertama. Yakni, pertama‑tama ia sendiri yang berbuat kebaikan, dan tanpa adanya hak pada seseorang ia memberikan manfaat kepada orang itu sebagai perbuatan baik yang lebih (ihsan -    ). Dan ini merupakan akhlak derajat menengah. Kebanyakan orang berbuat kebaikan kepada orang‑orang miskin. Dalam berbuat ihsan itu terselip suatu aib terselubung. Yakni, orang yang berbuat ihsan mempunyai pikiran bahwa ia telah berbuat ihsan dan sekurang-kurangnya sebagai imbalan ihsan tersebut dia menginginkan ucapan terima kasih atau do’a. Dan apabila orang yang telah menerima kebaikannya itu melawannya, maka dia menyebut orang itu tidak tahu membalas budi. Kadangkala, disebabkan oleh ihsan-nya seseorang telah meletakkan beban yang tak terpikulkan pada orang lain dan mengungkit‑ungkit ihsan itu kepadanya. Sebagai-mana Allah Ta’ala telah berfirman untuk memperingatkan orang-orang yang berbuat ihsan:

Yakni, hai orang‑orang yang berbuat ihsan! Janganlah kamu merusak sedekah‑sedekahmu -- yang seharusnya diberikan berdasar hati tulus -- dengan menyebut‑nyebut ihsan itu serta dengan menyakiti hatinya (2:265).

Kata sadaqah (     ) berasal dari kata sidq (    - ketulusan). Jadi, jika di dalam hati tidak ada rasa tulus serta ikhlas, maka sedekah itu tidak lagi merupakan sedekah, melainkan suatu perbuatan ria. Ringkasnya, di dalam diri orang yang berbuat ihsan, terdapat suatu kekurangan. Yaitu, kadangkala bila sedang emosi ia mengungkit-ungkit kebaikannya. Itulah sebabnya Allah Ta’ala memperingat­kan orang‑orang yang berbuat ihsan.

4. Memberi Tanpa Perhitungan Seperti Kepada Kaum Kerabat

Derajat ketiga berbuat kebaikan yang telah diterangkan oleh Allah Ta’ala ialah, hendaknya jangan sampai ada anggapan telah melakukan kebaikan yang lebih (ihsan) dan tidak mengharap­kan balasan terima kasih. Melainkan hendaklah kebaikan itu dilakukan atas dorong­an rasa kasih sebagaimana terhadap kerabat terdekat  (                   ). Misalnya, seorang ibu berbuat kebaikan terhadap anaknya se­mata‑mata hanya karena dorongan rasa kasih. Inilah derajat terakhir dalam rangka berbuat kebaikan yang tidak mungkin lagi ada langkah lebih dari itu. Akan tetapi Allah Ta’ala telah mengaitkan semua jenis perbuatan baik itu dengan tempat dan keadaan yang tepat. Dan di dalam ayat tersebut di atas, telah diterangkan dengan jelas, apabila kebaikan-kebaikan itu dilakukan tidak pada tempatnya masing-masing, maka akan berubah men-jadi keburukan. Dari ‘adl akan berubah menjadi fahsya, yaitu demikian rupa melampaui batas sehingga keadaannya berubah men­jadi buruk. Demikian pula dari ihsan akan berubah menjadi munkar, yaitu keadaan yang ditolak oleh akal dan hati nurani. Dan dari itai zil qurba akan berubah menjadi baghy, yaitu dorongan rasa kasih yang tidak pada tempatnya sehingga akan menimbulkan suatu keadaan yang buruk. Pada dasarnya yang disebut baghy itu adalah hujan yang turun melampaui batas dan membinasakan sawah ladang. Atau, sikap keterlaluan yang melebihi hak semesti-nya, juga merupakan baghy. Ringkasnya, di antara ketiga derajat tersebut, jika dilakukan tidak pada tempat yang tepat, akan berubah menjadi buruk keadaannya. Untuk itulah pada ketiga derajat tersebut telah dipersyaratkan ketepatan tempat dan keadaan. Disini hendaklah diingat, bahwa ‘adl atau ihsan atau rasa kasih itai zil qurba itu sendiri tidak dapat disebut akhlak, melainkan itu semua merupakan keadaan‑keadaan dan potensi-potensi alami di dalam manusia, yang juga terdapat pada diri kanak-kanak sebelum akalnya bekerja. Akan tetapi, bagi akhlak terdapat persyaratan akal, kemudian persyaratan penerapan segala potensi alami yang tepat sesuai keadaan dan tempatnya.

Beberapa Contoh Ihsan

Selanjutnya, berkenaan dengan ihsan, di dalam Alquran Suci ter­dapat juga petunjuk‑petunjuk penting lainnya. Dan kesemuanya diawali dengan alif lam (   ) untuk memberi tekanan khusus yang mengisyaratkan agar dilakukan sesuai dengan keadaan dan tempat yang tepat. Sebagaimana Dia berfirman:

Terjemahnya adalah: hai orang‑orang yang beriman, berikanlah dari harta yang kamu usahakan dengan jalan bersih kepada orang-orang sebagai kemurahan hati atau kebaikan atau sedekah dan sebagainya. Yakni harta yang tidak dicampuri oleh harta hasil pencurian atau suapan atau pengkhianatan atau korupsi atau hasil perampasan hak orang lain. Dan jangan sampai timbul niat di dalam hatimu untuk memberikan harta yang tidak bersih kepada orang lain (2:268). Dan perkara yang kedua ialah jangan kamu gugurkan sedekah‑sedekahmu dan kemurahan hatimu karena niat agar orang berhutang budi dan dengan niat menyakiti. Yakni, janganlah sekali‑kali menyebut‑nyebut kepada orang yang menerima kebaikanmu bahwa kamu telah memberi­kan sesuatu kepadanya. Dan janganlah menyakitinya. Sebab, dengan demikian kebaikanmu akan hilang. Dan janganlah kamu melakukan suatu langkah dimana kamu membelanjakan hartamu dengan jalan ria (2:265). Berbuatlah kebaikan kepada makhluk Allah karena Allah menyukai orang‑orang yang berbuat baik (2:196). Orang‑orang yang berbuat kebaikan hakiki akan diberi minum dari mangkuk minuman yang campurannya adalah kafur (sejenis kamper). Yakni, kepedihan duniawi dan hasrat-hasrat serta keinginan-keinginan kotor akan dijauhkan dari hati mereka (76:6,7). Kata kafur (     ) berasal dari kata kafara (     ). Ada­pun kata kafara dalam bahasa Arab mengandung arti menekan dan menutupi. Maksudnya, dorongan-dorongan tidak benar yang ada pada mereka akan di­tekan, dan batin mereka akan menjadi suci, serta kesejukan makrifat akan mencapai mereka.

Kemudian difirmankan bahwa orang-orang itu akan meminum air dari mata air yang sekarang sedang dipancarkan oleh tangan mereka sendiri. Disini telah dibukakan sebuah rahasia mendalam tentang fal­safah surga. Barangsiapa yang ingin memahaminya, pahamilah. Dan kemudian telah difirmankan bahwa tanda-tanda orang‑orang yang mengerjakan kebaikan hakiki ialah, semata‑mata karena kecin­taan Ilahi mereka memberi makanan yang mereka sendiri sukai kepada orang‑orang miskin, anakanak yatim dan para tawanan, seraya mengatakan: “Kami tidak berbuat ihsan atas kalian, melainkan kami lakukan ini agar Tuhan ridha kepada kami, dan pengkhidmatan ini adalah untuk Wajah-Nya (untuk menarik perhatian-Nya). Kami tidak menghendaki sesuatu imbalan dan tidak pula menghendaki agar kalian kesana-kemari berterima kasih kepada kami” (76:9,10). Ini mengisyaratkan kepada derajat ketiga berbuat kebaikan, yang diamalkannya semata‑mata karena terdorong oleh rasa kasih. Kebiasaan orang-orang saleh sejati ialah, untuk meraih keridhaan Tuhan, mereka membantu karib‑kerabat dengan harta mereka. Dan kemudian dari harta itu mereka senantiasa membelanjakan untuk pengawasan, pengurusan dan pendidikan anakanak yatim dan sebagainya. Dan mereka menye­lamatkan orang‑orang miskin dari kelaparan serta memberi pertolongan kepada para musafir dan peminta‑minta. Dan me­reka memberikan harta benda itu untuk memerdekakan sahaya‑sahaya dan juga untuk melunasi hutang orang‑orang yang berhutang (2:178). Dan dalam membelanjakan harta, mereka tidak boros dan tidak pula kikir dan bersikap mengambil jalan tengah (25:68). Mereka menghubungkan sesuatu yang harus dihubungkan dan mereka takut kepada Allah (13:22). Dan di dalam harta mereka ada hak bagi orang yang minta-minta dan juga bagi yang tidak dapat berbicara (51:20). Yang tidak dapat berbicara, maksudnya ialah anjing, kucing, burung, lembu, keledai, kambing dan lain‑lain. Dalam keadaan susah dan surutnya pendapatan serta dalam musim paceklik, mereka dari bermurah hati tidak berubah menjadi kikir. Dan dalam keadaan sempit pun mereka tetap bermurah hati menurut kemampuan mereka (3:135). Mereka membelanjakan harta secara diam-diam dan secara terbuka. Dilakukannya secara diam‑diam adalah agar mereka terhindar dari perbuatan ria, dan dilakukanya secara terbuka adalah agar orang‑orang lain tergugah (13:23). Harta benda yang diberikan dalam bentuk sumbangan, sedekah dan sebagainya, hendaknya diperhatikan agar pertama-tama diberikan kepada yang memerlukannya. Ya, orang‑orang yang bertugas mengawas, mengurus dan mengelola harta-harta itu dapat memperoleh sedikit dari harta tersebut. Dan kemudian dari itu dapat juga diberikan untuk menyelamatkan seseorang dari perbuatan buruk. Begitu pula harta itu hendaknya dibelanjakan untuk membebaskan sahaya‑sahaya, dan untuk membantu orang‑orang yang memerlukan dan orang‑orang yang berhutang serta orang-orang yang tertimpa musibah, dan untuk hal-hal lainnya yang semata-mata demi Allah (9:60). Sekali‑kali tidak akan kamu capai kebaikan yang hakiki selama dalam menunaikan kasih-sayang terhadap umat manusia kamu belum membelanjakan harta yang kamu cintai (3:93). Penuhilah hak orang‑orang yang tidak mampu, berilah orang-orang miskin, khidmatilah para musafir, dan hindarkanlah dirimu dari hal-hal yang sia-sia (17:27). Yakni, hindarkanlah dirimu dari pemborosan-pemborosan biaya dalam perkawinan-perkawinan, berbagai macam kemeriahan dan upacara-upacara kelahiran anak. Berbuat baiklah terhadap ibu‑ bapakmu, kaum kerabat, anakanak yatim, orang‑orang miskin, tetangga yang sesanak-saudara, dan tetangga yang bukan kerabat, dan terhadap orang‑orang yang ada da­lam perjalanan (musafir), pembantu rumah-tangga, sahaya, kuda, kambing, kerbau, lembu, dan binatang‑binatang lainnya yang kamu kuasai. Sebab, Tuhan --yang merupakan Tuhan-mu -- menyu­kai perbuatan-perbuatan itu. Dia tidak mencintai orang‑orang yang tidak perduli dan yang mementingkan diri sendiri. Dan Dia tidak menginginkan orang‑ orang bakhil serta yang mengajarkan kebakhilan kepada orang‑ orang, dan yang menyembunyikan hartanya sendiri. Yakni, mereka ber­kata kepada orang‑orang yang memerlukan bahwa mereka tidak mempunyai sesuatu (4:37,38).

1. Keberanian Sejati

Di antara keadaan‑keadaan thabi’i manusia terdapat suatu keadaan yang menyerupai keberanian. Misalnya, anak yang masih menyusu pun disebabkan oleh potensi itu kadang-kadang ingin memasukkan tangannya ke dalam api. Sebab, anak manusia, dikarenakan adanya potensi fitrati berupa kecenderungan manusia yang selalu ingin dominan, tidak takut terhadap suatu apa pun sebelum nampak contoh-contoh yang menakutkan. Dalam keada­an itu manusia dengan sangat berani melawan singa-singa atau binatang‑binatang buas lainnya; dan tampil seorang diri untuk berkelahi melawan beberapa orang. Dan orang‑orang mengetahui bahwa ia seorang yang sangat pemberani. Akan tetapi, ini hanyalah suatu keadaan thabi’i belaka yang terdapat juga pada binatang‑ binatang buas lainnya; bahkan juga terdapat pada anjing. Sedangkan, keberanian sejati (       - sajaah) -- yang berkaitan khusus dengan ketepatan tempat dan keadaan, serta yang merupakan salah satu akhlak dari antara akhlak-akhlak fadhilah --adalah nama dari sikap-sikap yang tepat sesuai dengan tempat dan keadaannya, yang di dalam Kalam Suci Allah Ta’ala dikemukakan sebagai berikut:

Yakni, pemberani ialah mereka yang tidak melarikan diri pada saat bertempur, atau pada saat mereka ditimpa suatu musibah (2:178). Kesabaran mereka pada waktu bertempur dan pada saat-saat susah ialah demi keridhaan Allah untuk meraih Wajah-Nya. Bukan memamerkan keberanian (13:23). Mereka ditakut‑takuti bahwa orang‑orang telah sepakat untuk menghukum mereka, maka hendaklah mereka takut kepada orang‑orang itu. Ternyata dengan ditakut-takuti itu keimanan mereka semakin bertambah, dan mereka berkata, “Cukuplah Tuhan bagi kami” (3:174). Yakni, keberanian mereka tidaklah seperti anjing-anjing dan binatang-binatang buas yang bertumpu pada gejolak alami belaka, yang hanya cenderung ke satu sisi saja. Sebaliknya keberanian mereka mengandung dua sisi. Kadang‑kadang dengan keberanian yang mereka miliki, mereka mela­wan serta menundukkan dorongan-dorongan nafsu mereka sendiri. Dan kadang‑kadang apabila mereka melihat bahwa melawan musuh adalah kebijakan yang tepat, maka mereka tidak hanya terdorong oleh nafsu saja, melainkan mereka melawan musuh demi membela kebenaran. Akan tetapi dalam menunjukkan keberanian, mereka tidak mengandalkan diri sendiri, melainkan mereka bertumpu kepada Tuhan. Dan di dalam keberanian mereka tidak terdapat unsur pamer serta menonjolkan diri, dan tidak pula untuk menuruti nafsu, melainkan dari segala segi keridhaan Allah-lah yang diutamakan (8:48). Di dalam ayat‑ayat itu dijelaskan bahwa akar keberanian sejati ialah sabar dan keteguhan langkah. Tetap teguh dan tidak melarikan diri sebagai pengecut dalam menghadapi setiap dorongan nafsu atau musibah yang menyerang bagaikan musuh, inilah keberanian. Jadi, di antara keberanian manusia dan binatang terdapat perbedaan besar. Binatang buas hanya pada satu sisi saja memanfaatkan dorongan nafsu dan amarahnya. Sedangkan manusia, yang memiliki keberanian sejati, memilih kebijakan yang tepat antara melawan atau tidak.

2. Lurus Hati/Kejujuran

Di antara keadaan‑keadaan thabi’i manusia, yang merupakan ciri khas fitratnya ialah lurus hati (        - Ash-shidq). Manusia tidak ingin berkata dusta selama tidak terdorong oleh kepentingan pribadinya. Dan dalam berdusta dia merasakan di dalam hatinya semacam kebencian serta ganjalan. Itulah sebabnya dia tidak senang dan me­mandang rendah orang yang terbukti telah berkata dusta. Akan te­tapi, keadaan alami itu saja tidak dapat masuk dalam kategori akhlak. Bahkan anakanak dan orang‑orang gila pun dapat memperlihatkan sikap itu. Jadi, hakikat yang sebenarnya ialah, selama manusia belum terlepas dari kepentingan-kepentingan pribadi yang menjadi hambatan untuk berkata jujur, selama itu ia secara hakiki tidak dapat dikatakan sebagai orang yang lurus hati. Sebab, jika seseorang berkata jujur hanya mengenai hal-hal yang tidak seberapa merugikan dirinya sedangkan ia berkata dusta dan bungkam dari berkata jujur pada saat kehormatan atau harta atau jiwanya ter­ancam kerugian, maka apalah kelebihannya dibandingkan dengan orang‑orang gila dan anakanak. Tidakkah orang gila dan anakanak pun suka lurus hati seperti itu? Barang-kali tidak ada seorang pun di dunia ini yang begitu saja ber­dusta tanpa sebab. Jadi, kejujuran yang ditinggalkan pada saat terancam suatu kerugian, sama sekali tidak tergolong dalam akhlak sejati. Keadaan dan kesempatan yang sangat tepat untuk lurus hati ialah pada saat jiwa atau harta atau kehormatannya terancam bahaya. Berkenaan dengan itu ajaran Allah adalah sebagai berikut:

Terjemah: hindarilah perbuatan menyembah berhala‑berhala dan berkata dusta (22:31). Yakni, dusta pun merupakan sebuah berhala; orang yang bertumpu padanya berarti telah melepaskan tumpuan (tawakal) terhadap Allah. Jadi, dengan berkata dusta, Tuhan pun terlepas dari tangan. Dan kemudian difirmankan, apa-bila kamu di­panggil untuk memberi kesaksian yang benar, maka janganlah kamu menolak untuk pergi (2:283). Dan janganlah kamu sembunyikan kesaksian-benar dan barangsiapa menyembunyikan-nya berdosalah hatinya (2:284). Dan apabila kamu berkata, maka ucapkanlah sama sekali kata‑kata jujur serta adil, sekalipun kesaksian yang kamu berikan itu untuk salah seorang kerabatmu (6:153). Berdirilah kamu di atas kebenaran serta keadilan, dan hendaknya tiap-tiap kesaksianmu itu adalah karena Allah, jangan kamu berkata dusta walaupun dengan berkata jujur itu jiwamu akan mendapat kerugian, atau dengan itu ibu-bapakmu serta kerabat-kerabatmu -- seperti anak dan sebagainya -- akan men-dapat kemudaratan (4:136). Dan hendaknya permusuhan terhadap suatu kaum tidak menghalangi kamu untuk memberi kesaksian yang jujur (5:9). Laki‑laki yang lurus hati dan wanita‑wanita yang lurus hati akan mendapat pahala-pahala besar (33:36). Kebiasaan mereka adalah menasihati orang lain agar lurus hati (103:4). Dan mereka tidak ikut di dalam majelis-majelis para pendusta (25: 73).

3. Sabar

Di antara keadaan‑keadaan thabi’i manusia, salah satunya adalah sabar (     - ash-shabr), yang terpaksa manusia lakukan ketika menghadapi musibah-musibah, penyakit-penyakit, dan penderitaan-penderitaan yang senantiasa menimpanya. Dan manusia memilih bersabar setelah banyak meratap dan berkeluh-kesah. Tetapi ketahuilah, menurut Kitab Suci Ilahi kesabaran semacam itu tidak tergolong akhlak, melainkan suatu keadaan yang pasti akan tampil setelah mengalami keletihan. Yakni, di antara keadaan‑keadaan thabi’i manusia terdapat juga suatu keadaan, ketika datang musibah maka ia pertama‑tama menangis, meraung-raung dan memukul-mukul kepala. Setelah semua emosi terluapkan akhirnya gejolak itu terkendali, dan pada puncaknya ia ter-paksa mundur. Jadi, kedua sikap ini merupakan keadaan-keadaan thabi’i. Sedikit pun tidak ada kaitannya dengan akhlak. Justru akhlak yang berkaitan dengan itu ialah, bila suatu benda terle­pas dari tangan, maka dia tidak berkeluh-kesah seraya menganggap benda itu sebagai amanat Allah. Dan dia mengatakan, “Ini tadinya merupakan milik Tuhan, dan Tuhan telah mengambilnya. Kami rela terhadap kehendak‑Nya.” Berke­naan dengan akhlak ini, Alquran Suci, Kalam Suci Allah Ta’ala mengajarkan kepada kita:

Yakni, hai orang‑orang yang beriman! Kami senantiasa akan menguji kamu. Kadang‑kadang kepadamu akan didatangkan keadaan yang menakutkan dan kadang‑kadang kamu akan mengalami kekurangan serta kelaparan, dan kadang‑kadang kamu akan menderita ke­rugian harta dan kadang‑kadang kamu akan mengalami kehilangan jiwa. Dan kadang‑kadang kamu mengalami kegagalan dalam usaha-usahamu, dan upaya-upayamu tidak akan membawa hasil sebagaimana yang diinginkan. Dan kadang-kadang anakanak kesayanganmu akan meninggal. Jadi, bagi mereka ada khabar suka. Apabila mereka tertimpa suatu musibah, mereka mengatakan, “Kami ada­lah kepunyaan Tuhan, amanat-Nya, dan milik‑Nya.” Jadi, yang benar ialah, kembalikan segala sesuatu kepada Sang Pemilik amanat. lnilah orang-orang yang mendapat rahmat Ilahi dan inilah orang-orang yang telah mene­mukan jalan Tuhan (2:156‑158). Ringkasnya, nama akhlak ini adalah sabar dan rela terhadap keputusan Ilahi. Dalam pengertian lainnya, akhlak ini juga dinamakan adil. Sebab, tatkala Allah Ta’ala melakukan segala sesuatu di dalam seluruh kehidupan manusia sesuai dengan keinginannya, dan kemudian ribuan hal telah tampil sesuai kehendaknya, dan sekian banyak nikmat telah dianugerahkan kepada manusia yang selaras dengan keinginannya, yang tidak dapat dihitung oleh manusia; maka tidaklah adil apabila Tuhan ingin menerapkan kehendak-Nya lalu manusia mengelak dan tidak setuju terhadap kehendak-Nya itu serta membuat-buat alasan atau meninggalkan agama dan menyimpang dari jalan-Nya.

4. Solidaritas terhadap Sesama Makhluk

Di antara keadaan‑keadaan thabi’i manusia yang menjadi bagian mutlak fitratnya ialah suatu gejolak solidaritas terhadap sesama makhluk (       - al muwasah). Gejolak membela kaum terdapat secara alami di dalam diri para penganut setiap agama. Dan kebanyakan orang karena gejolak alami solidaritas terhadap kaumnya, berlaku aniaya terhadap kaum lain seakan-akan menganggap mereka itu bukan manusia. Jadi, keadaan itu tidak dapat dikatakan akhlak. Ini hanyalah suatu gejolak alami belaka. Dan jika diperhatikan dengan seksama, keadaan alami ini juga terdapat di kalangan burung gagak serta burung-burung lainnya. Ketika seekor burung gagak mati, maka ribuan burung gagak lainnya datang berkumpul. Akan tetapi kebiasaan ini baru akan tergolong dalam akhlak insani apabila solidaritas tersebut diterapkan tepat sesuai tempat dan waktunya, dengan memperhatikan keadilan dan keseimbangan. Pada waktu itu ia akan menjadi suatu akhlak agung yang di dalam bahasa Arab disebut muwasah dan di dalam bahasa Farsi, hamdardi.

Ke arah itulah Allah swt. mengisyaratkan dalam Alquran Suci:

 Yakni, solidaritas dan dukungan terhadap kaummu hendaknya dilakukan dalam perkara-perkara kebaikan. Dan dalam perkara-perkara aniaya serta pelanggaran hendaknya sama sekali jangan mendukung mereka (5:3). Dan selalu giatlah dalam berlaku solider terhadap kaummu, dan jangan letih (4:105). Janganlah membela orang‑orang khianat (4:106). Adapun orang‑orang yang tidak jera dari perbuatan khianat, Allah Ta’ala tidak menyu­kai para pengkhianat (4: 108).

5. Mencari Wujud Yang Maha Agung

Di antara keadaan‑keadaan thabi’i manusia, yang merupakan ba­gian mutlak fitratnya, ialah mencari Wujud Yang Maha Agung. Untuk pencarian itulah di dalam lubuk hati manusia terdapat suatu tarikan. Dan pengaruh pencarian itu mulai terasa pada saat bayi lahir dari kandungan ibu. Sebab, begitu bayi lahir, pertama-tama sifat rohani yang ditampakkannya adalah lekat pada ibunya dan secara alami mencintai ibunya. Kemudian dengan terbukanya indera-indera yang dia miliki dan semakin berkembang fitratnya, tarikan kecintaan yang semula tersembunyi di dalam dirinya kian menampakkan warna dan bentuk­nya. Kemudian, keadaannya ialah, ia tidak merasa tenang di tempat lain kecuali di pangkuan ibunya. Anugerah berada di sisi ibunya itulah merupakan ketenangan sempurna yang dia miliki. Apabila ia dipisahkan dan dijauhkan dari ibunya, maka seluruh ketenangannya akan hilang. Dan walaupun dihadapannya disodorkan banyak ke­nikmatan, tetap saja dia melihat kebahagiaan sejatinya berada di dalam pangkuan ibu. Dan tanpa itu, bagai­manapun ia tidak memperoleh ketenangan. Jadi, apa sebenarnya tarikan kecintaan yang timbul di dalam dirinya terhadap sang ibu?

Pada hakikatnya tarikan itu jugalah yang telah ditanamkan dalam fitrat bayi untuk mencari Ma’bud Haqiqi (Tuhan Sejati yang disembah). Bahkan hubungan kecintaan yang dijalin manusia di setiap tempat, pada hakikatnya tarikan itu jugalah yang tengah bekerja. Dan di tempat mana pun manusia menampakkan gejolak asmara, pada hakikatnya itu merupakan suatu pantulan kecintaan tersebut. Seakan‑akan dia membongkar-bongkar barang lain sedang mencari sesuatu yang hilang yang namanya pun dia sudah lupa.

Jadi, kecintaan manusia kepada harta, anak keturunan, isteri, atau ketertarikan hatinya terhadap suatu nyanyian suara merdu, pada hakikatnya itu merupakan pencarian terhadap Sang Kekasih yang telah hilang. Dikarenakan manusia tidak mampu melihat dengan mata jasmaninya sendiri Wujud Yang Maha Halus itu --yang bagaikan api tersembunyi di dalam setiap sesuatu dan terselubung dari semua orang -- dan tidak pula akal manusia yang tak sempurna dapat mene­mukan-Nya, maka berkenaan dengan makrifat Ilahi, manusia telah melakukan kesalahan-kesalahan besar. Dan dengan kesalahan-kesalahan itu hak-Nya telah dialihkan manusia kepada yang lain. Di dalam Alquran Suci Allah telah memberikan tamsil ini, bahwa dunia bagaikan istana kaca yang lantainya terbuat dari kaca bening, dan kemudian di bawah kaca itu dialirkan air yang melaju dengan sangat deras. Jadi, setiap penglihatan yang tertuju pada kaca itu dapat keliru mengira bahwa kaca-kaca itu pun air. Kemudian manusia demikian rupa takutnya berjalan di atas kaca itu sebagai­mana ia takut berjalan di atas air. Padahal sebenarnya itu adalah kaca be­ning yang tembus cahaya. Jadi, benda‑benda langit raksasa yang kelihatan, se­perti matahari, bulan, dan sebagainya merupakan kaca-kaca bening yang dengan keliru telah disembah. Dan dibalik benda-benda itu ada suatu kekuatan tinggi yang sedang bekerja, bagaikan air yang mengalir dengan derasnya di bawah kaca. Dan kekeliruan yang telah dilakukan oleh penglihatan para penyembah makhluk ialah, mereka menganggap pekerjaan itu dilakukan oleh kaca-kaca tersebut yang memperlihatkan kekuatan bawahnya. Demikianlah tafsir ayat suci ini:

Sesungguhnya itu adalah istana yang berlantaikan kaca (27:45). Ringkasnya, oleh karena Dzat Allah Ta’ala yang kendati pun sangat cemerlang namun tetap saja terselubung, sebab itulah untuk menge­nali-Nya tidak cukup hanya dengan menyaksikan tatanan jasmani yang nampak di hadapan kita saja. Itulah sebabnya kebanyakan orang yang menggantungkan diri pada tatanan ini, tetap saja tidak dapat melepaskan diri dari gelapnya keraguan dan kebimbangan. Dan kebanyakan mereka terperangkap dalam berbagai kekeliruan, serta karena terjerat dalam syak-wasangka yang sia-sia, maka mereka telah tersesat jauh. Padalah mereka merenungkan dengan seksama gugusan sempurna dan kokoh itu, yang mengandung ribuan keajaiban. Bahkan mereka telah menciptakan kemahiran-kemahiran di bidang astronomi, ilmu alam, dan filsafat, seolah-olah mereka telah menyatu dengan langit dan bumi. Dan seandainya terpikirkan juga sedikit oleh mereka tentang Sang Pencipta, maka itu hanyalah sekedar anggapan yang timbul setelah menyaksikan tatanan yang tinggi dan sempurna, sehingga di dalam hati mereka muncul anggapan bahwa hendaknya memang harus ada suatu wujud yang menciptakan tatanan agung yang mengandung sistem yang penuh hikmah ini. Akan tetapi jelas bahwa pemikiran demikian tidak sempurna dan itu merupakan pengetahuan yang dangkal. Sebab mengatakan, “Untuk tatanan ini perlu ada suatu tuhan,” sekali‑kali tidak sama dengan ucapan bahwa, “Tuhan itu benar‑benar ada.” Ringkasnya, itu hanyalah merupakan pengetahuan mereka yang bersifat dugaan, yang tidak dapat memberikan ketenangan dan ketenteraman kepada hati serta sama sekali tidak dapat menghapuskan kebimbangan kalbu. Dan itu bukanlah suatu mangkuk yang dapat menghilangkan kedahagaan akan makrifat kamil yang telah dipatrikan pada fitrat manusia. Justru pengetahuan dangkal demikian itu sangat berbahaya, karena setelah heboh demikian rupa akhirnya tanpa hasil dan tidak membuahkan apa-apa.

Ringkasnya, selama Allah Ta’ala sendiri belum menzahirkan keberadaan-Nya melalui Kalam‑Nya -- sebagaimana yang telah Dia zahirkan melalui Kalam‑Nya -- selama itu pula penelaahan terhadap perbuatan‑Nya semata, tidak akan memberikan kepuasan. Misalnya, jika kita melihat sebuah kamar yang terasa mengherankan karena terkunci dari dalam, maka dari perbuatan itu pertama-tama yang pasti terpikirkan oleh kita adalah bahwa di dalam pasti ada orang yang telah memasangkan rantai dari dalam. Sebab, dari luar tidak mungkin rantai bagian dalam itu dapat dipasangkan. Akan tetapi apabila sampai masa tertentu -- bahkan sampai bertahun‑tahun -- kendati pun telah berulang‑ulang dipanggil, dari orang itu tidak juga ada sahutan, maka akhirnya pikiran kita yang beranggapan bahwa ada orang di dalam, akan berubah. Dan kita akan berpikir bahwa di dalam tidak ada orang, dan kunci itu telah terpasang dari dalam melalui suatu hikmah tertentu. Demikianlah keadaan para ahli filsafat yang telah membatasi pengetahuan mereka hanya pada penelaahan terhadap perbuatan Tuhan. Ini adalah suatu kekeliruan besar menganggap Tuhan seperti sesuatu yang telah mati, yang dapat dikeluarkan dari dalam kubur hanya oleh manusia. Seandainya Tuhan itu demikian -- yang diketahui hanya oleh usaha manusia saja -- maka seluruh harapan kita berkenaan dengan Tuhan yang demikian itu akan sia-sia. Justru Tuhan itu adalah Dia yang selamanya dan yang sejak awal terus memanggil manusia ke arah‑Nya dengan menyatakan sendiri:                  (Aku ada !)

Ini sungguh sangat lancang apabila kita berpikiran bahwa dalam mengetahui tentang Tuhan terdapat ihsan manusia atas diri‑Nya, dan jika para ahli filsafat tidak ada, maka Dia seakan-akan tetap tidak akan ditemukan. Dan mengatakan bahwa, “Bagaimana Tuhan dapat berbicara? Apakah Dia memiliki lidah?” Itu pun suatu kekurang-ajaran. Tidakkah Dia telah menciptakan benda-benda langit dan bumi tanpa tangan-tangan jasmani? Tidak-kah Dia melihat seluruh alam semesta tanpa mata jasmani? Tidakkah Dia mendengar suara-suara kita tanpa telinga jasmani? Jadi, tidaklah mutlak bahwa Dia juga berbicara dengan cara demikian? Sungguh tidak benar bahwa di masa mendatang Tuhan tidak bercakap­-cakap, melainkan hanya di masa lampau saja. Kita tidak dapat menutup ucapan dan percakapan-percakapan-Nya se-batas zaman tertentu saja. Tidak diragukan lagi, sekarang pun Dia siap mencurahkan mata-air ilham kepada orang-orang yang mencari, sebagaimana sebelumnya Dia siap. Dan sekarang juga pintu-pintu karunia-Nya tetap terbuka seperti halnya dahulu. Ya, karena segala keperluan telah sempurna, maka syariat serta hukum-hukum pun telah sempurna. Dan seluruh kerasulan serta kenabian telah mencapai kesempurnaannya pada titik yang ter-akhir, dalam wujud Junjungan kita Muhammad saw.

Hikmah Kedatangan Rasulullah saw. di Negeri Arab

Munculnya nur terakhir di negeri Arab pun bukanlah tanpa hikmah. Arab adalah kaum Bani Ismail yang terputus dari Israil yang atas hikmah Ilahi telah terdampar di belantara Faran. Dan arti faran ialah dua orang yang melarikan diri, yakni pelarian. Jadi, orang‑orang yang telah dipisahkan sendiri oleh Nabi Ibrahim a.s. dari Bani Israil, tidak lagi mempunyai bagian dalam syariat Taurat, seperti telah tercantum bahwa mereka itu tidak akan memperoleh bagian bersama Ishak a.s. Jadi, mereka telah ditinggalkan oleh orang-orang yang memiliki pertalian dengan mereka, dan tidak pula mereka memiliki hubungan dengan yang lainnya. Dan di semua negeri lainnya terdapat sedikit banyak tata-cara per­ibadatan dan peraturan. Dari itu dapat diketahui bahwa pa­da suatu masa tertentu ajaran nabi-nabi pernah sampai kepada mereka. Tetapi hanya negeri Arab saja satu‑satunya negeri yang sama sekali tidak me­ngenal ajaran‑ajaran tersebut, dan paling terkebelakang di seluruh dunia. Oleh karena itu, akhirnya tiba giliran mereka, dan Nabi mereka itu diperuntukkan bagi semesta alam supaya semua negeri kembali memperoleh berkat‑berkat serta memperbaiki kekeliruan yang telah terjadi. Jadi, sesudah Kitab Kamil seperti ini -- yang telah menangani seluruh perbaikan manusia dan tidak seperti halnya kitab-kitab terdahulu yang hanya diperuntukkan bagi satu kaum saja, melainkan bermaksud memperbaiki seluruh kaum serta telah menguraikan segenap jenjang tarbiyat manusia; telah mengajarkan peradaban manusiawi kepada orang-orang biadab, lalu mengajarkan akhlak fadhilah setelah membentuk mereka sebagai manusia -- kita harus menunggu kitab apa lagi?

Jasa Alquran Suci kepada Dunia

Merupakan kebaikan/jasa Alquran Suci yang telah menunjukkan perbeda­an antara keadaan‑keadaan thabi’i dan akhlak fadhilah. Ia tidak berhenti sekedar mengangkat dari keadaan‑ keadaan thabi’i lalu menyampaikannya sebatas mahligai mulia akhlak fadhilah saja, melainkan pintu-pintu makrifat suci telah dibukakannya untuk mencapai tahapan berikut yang masih tersisa, yakni derajat keadaan-keadaan rohani. Dan tidak hanya sekedar membukakan, bahkan ia telah pula berhasil mengantarkan ratusan ribu insan sampai ke derajat itu. Ringkasnya, demikianlah Alquran Suci menjelaskan dengan amat indahnya tiga macam ajaran sebagaimana telah kami paparkan di atas. Jadi, dikarenakan Alquran adalah himpunan sempurna segenap ajaran yang merupakan landasan unsur‑unsur pendidikan agama, untuk itulah Alquran Suci menyatakan bahwa ia telah mengembangkan wawasan ajaran agama sampai ke taraf yang sempurna. Sebagai-mana Dia berfirman: ­

Yakni, pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu dan telah melengkapkan nikmat‑Ku atasmu dan Aku telah meridhai Islam sebagai agamamu (5:4). Yakni, derajat tertinggi dalam agama ialah hal-hal yang mengan­dung makna “Islam”, yaitu menyerahkan diri semata-mata kepada Tuhan dan mengupayakan keselamatan dirinya melalui pengorbanan diri sendiri, bukan dengan cara lain; dan memperlihatkan niat serta tekad itu secara amalan. Itulah titik dimana segenap kesempurnaan berakhir. Jadi, Alquran Suci telah menunjukkan Tuhan sejati yang tidak dikenali oleh para cendekiawan. Alquran Suci telah menetapkan dua cara untuk memperoleh makri­fat Ilahi. Cara pertama ialah yang dengan menempuhnya, maka akal manusia akan menjadi amat kuat dan cemerlang dalam mencetuskan dalil-dalil logika, sehingga ter-hindar dari melakukan kekeliru­an. Yang kedua ialah cara rohaniah yang insya Allah sebentar lagi akan kami uraikan dalam pembahasan masalah ketiga.

Dalil-dalil Adanya Tuhan

Sekarang perhatikanlah dalil-dalil hebat dan tidak ada bandingannya yang telah dipaparkan oleh Alquran Suci secara logika tentang Wujud Tuhan, sebagaimana firman‑Nya di satu tempat:

Yakni, Tuhan adalah Dia Yang telah menganugerahkan kepada tiap sesuatu penciptaan/kelahiran yang sesuai dengan keadaannya, kemudian me­nunjukinya jalan untuk mencapai kesempurnaannya yang diinginkan­ (20:51). Kini jika dengan memperhatikan makna ayat tersebut kita menelaah bentuk ciptaan --mulai dari manusia hingga binatang‑bina­tang daratan dan lautan serta burung‑burung -- maka timbul ingatan akan kekuasaan Ilahi. Yakni, bentuk ciptaan setiap benda tampak sesuai dengan keadaannya. Para pembaca dipersilahkan memikirkannya sendiri. Sebab masalah ini sangat luas.

Dalil kedua mengenai adanya Tuhan ialah, Alquran Suci telah menyatakan Allah Ta’ala sebagai sebab dasar dari segala sebab, sebagaimana Alquran Suci menyatakan:

Yakni, seluruh rangkaian sebab dan akibat berakhir pada Tuhan engkau (53:43). Rincian dalil ini ialah, berdasarkan penelaahan cermat akan diketahui bahwa seluruh alam se­mesta ini terjalin dalam rangkaian sebab dan akibat. Dan oleh karena itu, di dunia ini timbul berbagai macam ilmu. Sebab, karena tiada bagian ciptaan yang terlepas dari tatanan itu. Sebagian merupakan landasan bagi yang lain, dan sebagian lagi merupakan pengembangan-pengembangannya. Adalah jelas bahwa suatu sebab timbul karena zatnya sendiri, atau berlandaskan pada sebab yang lain. Kemudian sebab yang lain itu pun berlandaskan pada sebab yang lain lagi. Dan demikianlah seterusnya. Tidak benar bah­wa di dalam dunia yang terbatas ini rangkaian sebab dan akibat tidak mempunyai kesudahan dan tiada berhingga. Maka terpaksa diakui bahwa rangkaian ini pasti berakhir pada suatu sebab ter­akhir.

Jadi, puncak terakhir semuanya itu ialah Tuhan. Perhatikanlah dengan seksama betapa ayat: “Wa anna ilaa rabbikal-muntahaa” itu dengan kata‑katanya yang ringkas telah menjelaskan dalil ter­sebut di atas, yang artinya, puncak terakhir segala rangkaian ialah Tuhan engkau.

Kemudian satu dalil lagi mengenai adanya Tuhan ialah, sebagaimana firman‑Nya:

Yakni, matahari tidak dapat mengejar bulan dan juga malam yang merupakan penampakkan bulan tidak dapat mendahului siang yang merupakan penampakkan mata­hari. Yakni, tidak ada satu pun di antara mereka yang keluar dari batas-batas yang ditetapkan bagi mereka (36:41). Jika di balik semua itu tidak ada Wujud Sang Perencana, niscaya segala rangkaian tersebut akan hancur. Dalil ini sangat bermanfaat bagi orang-orang yang gemar menelaah benda-benda langit, sebab benda‑benda langit tersebut merupakan bola-bola raksasa yang tiada terhitung banyaknya, sehingga dengan sedikit saja terganggu maka seluruh dunia dapat hancur. Betapa ini merupakan suatu kekuasaan yang hakiki sehingga benda‑benda langit itu tidak saling bertabrakkan dan kecepatannya tidak berubah seujung rambut pun, serta tidak aus walau telah sekian lama bekerja dan tidak terjadi perubahan sedikit pun. Sekiranya tidak ada Sang Penjaga, bagaimana mungkin jalinan kerja yang demikian besar ini dapat berjalan dengan sendirinya sepanjang masa. Dengan mengisyaratkan kepada hikmah-hikmah itulah, di tempat lain Allah Ta’ala berfirman:

Yakni, dapatkah Wujud Tuhan Yang telah menciptakan langit dan bumi demikian itu diragukan? (14:11)

Lalu sebuah dalil lagi tentang keberadaan-Nya, difirmankan:

Yakni, tiap sesuatu akan mengalami kepunahan dan yang kekal itu ha­nyalah Tuhan Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan (55:27,28). Kini perhatikanlah! Jika kita bayangkan dunia ini menjadi hancur-lebur dan benda-benda langit pun pecah berkeping‑keping, serta bertiup angin yang melenyapkan seluruh jejak benda-benda itu, namun demikian akal mengakui serta menerima -- bahkan hati nurani menganggapnya mutlak -- bahwa sesudah segala kebinasaan itu terjadi, pasti ada sesuatu yang bertahan yang tidak mengalami kepunahan serta perubahan-perubahan dan tetap utuh seperti keadaannya semula. Jadi, itulah Tuhan yang telah menciptakan semua wujud fana (tidak kekal), sedangkan Dia sendiri terpelihara dari kepunahan.

Kemudian satu dalil lagi berkenaan dengan keberadaan-Nya yang Dia dikemukakan di dalam Alquran Suci adalah:

Yakni, Aku berkata kepada setiap ruh: “Bukankah Aku Tuhan­ kamu?” Mereka berkata, “Ya, sungguh benar!” (7:173). Di dalam ayat ini Allah Ta’ala menerangkan dalam bentuk kisah, suatu ciri khas ruh yang telah ditanamkan-Nya di dalam fitrat mereka. Ciri khas itu ialah, pada fitratnya tiada satu ruh pun yang dapat mengingkari hanyalah karena mereka tidak menemukan apa pun di dalam pikiran mereka. Kendati mereka ingkar mereka mengakui bahwa tiap‑tiap kejadian pasti ada penyebabnya. Di dunia ini tidak ada orang yang begitu bodohnya, misalnya jika pada tubuhnya timbul suatu penyakit, dia tetap bersikeras menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada suatu sebab yang menimbulkan penyakit itu. Seandainya rangkaian dunia ini tidak terjalin oleh sebab dan akibat, maka tidaklah mungkin dapat membuat prakiraan bahwa pada tanggal sekian akan datang taufan atau badai; akan terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan; atau seseorang yang sakit akan wafat pada waktu tertentu; atau sampai pada waktu tertentu suatu penyakit akan muncul bersamaan dengan penyakit lain. Jadi, seorang peneliti, walaupun tidak mengakui Wujud Tuhan, namun dari satu segi dia telah meng­akuinya. Yakni ia pun, seperti halnya kita, mencari-cari penyebab dari sebab akibat. Jadi, itu pun merupakan suatu bentuk pengakuan, walaupun bukan pengakuan yang sempurna.

Selain itu, apabila seseorang yang mengingkari Wujud Tuhan, dengan cara tertentu kesadarannya dihilangkan -- yaitu ia sama sekali dijauhkan dari segala keinginan rendah ini dan segala hasratnya dihilangkan, lalu diserahkan ke dalam kendali Wujud Yang Maha Tinggi -- maka dalam keadaan demikian ia akan mengakui Wujud Tuhan, tidak akan ingkar. Hal serupa itu telah dibuktikan melalui percobaan orang-orang yang berpengalaman luas. Jadi, ke arah kondisi demikianlah isyarat yang terdapat di dalam ayat itu. Dan makna ayat itu adalah, pengingkaran Wujud Tuhan hanya terjadi sebatas kehidupan rendah saja. Sebab, fitrat yang asli dipenuhi oleh pengakuan itu.

Sifat-sifat Allah Ta’ala

Itulah dalil-dalil tentang Wujud Tuhan yang kami tuliskan sebagai contoh. Kemudian hendaklah diketahui bahwa Tuhan yang ke arah-Nya Alquran Suci mengimbau kita, sifat-sifat-Nya telah ia terangkan sebagai berikut:

 Yakni, Dia itulah Tuhan Yang Esa, dan tiada sekutu bagi‑ Nya, tidak ada yang patut disembah dan ditaati kecuali Dia (59:23). Hal itu dikatakan karena seandainya Dia bukan sesuatu yang tanpa sekutu, mungkin saja kekuatan-Nya dapat ditaklukkan oleh kekuatan musuh‑Nya. Dalam keadaan demikian, posisi Ketuhanan akan tetap berada dalam ancaman bahaya. Dan yang difirmankan bahwa, “Tidak ada yang patut disembah kecuali Dia,” artinya adalah, Dia merupakan Tuhan Yang Sempurna sedemikian rupa yang sifat-sifat, kelebihan‑kelebihan serta kesempurnaan‑ kesempurna­an‑Nya demikian tinggi dan agung sehingga jika kita ingin memilih satu tuhan dari segala wujud yang ada berdasarkan sifat-sifatnya yang sempurna, atau kita di dalam hati membayangkan sifat‑sifat tuhan yang paling indah dan paling tinggi, maka Dia-lah yang paling tinggi, yang selain-Nya tidak ada yang dapat lebih tinggi dari Dia. Dia-lah Tuhan yang di dalam penyembahan-Nya menyekutukan sesuatu yang lebih rendah merupakan suatu keaniayaan. Lebih lanjut Dia berfirman, bahwa Dia ‘Alimul Ghaib. Yakni, hanya Dia-lah yang mengetahui tentang diri-Nya sendiri. Tidak ada satu pun yang mampu meliputi batas Zat‑Nya. Kita dapat melihat matahari, bulan dan tiap makhluk seutuhnya, akan tetapi kita tidak dapat melihat Tuhan secara utuh. Kemudian firman-Nya bahwa Dia ‘Alimul Syahadah. Yakni, tak ada suatu benda pun tersembunyi dari pandangan-pandangan‑Nya. Tidaklah layak apabila Dia dikatakan sebagai Tuhan, lalu Dia tidak memiliki pengetahuan tentang benda‑benda. Dia memiliki peng-lihatan atas partikel-partikel alam ini, sedangkan manusia tidak memilikinya. Dia mengetahui kapan Dia akan menghancurkan tatanan alam ini dan akan mendatangkan kiamat. Dan selain daripada-Nya tidak ada yang mengetahui kapan hal itu akan terjadi. Jadi, Dia itulah Tuhan Yang Mengetahui semua waktu tersebut. Kemudian firman‑Nya: “Hua rahmaanu,” yakni sebelum ada wujud makhluk-makhluk hidup dan usaha-usaha mereka,. semata‑mata karena Dia senang, bukan karena suatu maksud tertentu, dan bukan sebagai balasan bagi suatu perbuatan, Dia telah menyediakan sarana-sarana kemudahan bagi mereka. Contohnya, Dia telah menciptakan matahari, bumi, dan segala benda lain sebelum adanya wujud serta perbuatan-perbuatan kita. Di dalam Kitab Ilahi anugerah demikian itu dinamakan rahma-niyyat dan karena pekerjaan-Nya itulah Allah Ta’ala disebut Rahman. Kemudian firman-Nya lagi: ”Ar-rahiim,” yakni Dia‑lah Tuhan yang memberikan ganjaran terbaik bagi amal per­buatan yang baik, dan Dia tidak menyia‑nyiakan upaya gigih seseorang. Berdasarkan pekerjaan‑Nya ini, Dia disebut Rahim, dan sifat itu disebut rahimiyyat (59:23).

Kemudian firman-Nya: “Maaliki yaumiddiin,” yakni, Dia-­lah Tuhan Yang menyimpan di tangan-Nya balasan bagi segala sesuatu. Dia tidak memiliki petugas yang kepadanya Dia serahkan pemerintahan langit dan bumi, sedangkan Dia sendiri tidak campur-tangan duduk tanpa pekerjaan; hanya si petugas itu sajalah yang memberikan segala ganjaran maupun hukuman di alam ini atau di Hari Kemudian (1:4).

Kemudian firman‑Nya: “Almalikul-qudduus,” Yakni, Tuhan itu Dia‑lah Raja Yang tiada bernoda dan tiada ber­cacat (59:24). Adalah jelas bahwa kerajaan manusia tidak bersih dari keaiban. Seandainya seluruh penduduk suatu negeri meninggalkan negeri mereka beramai‑ramai dan mengungsi ke negeri lain, niscaya kerajaan itu tidak akan dapat berdiri. Atau, andaikata seluruh rakyat di­landa musim kemarau, dari manakah akan diperoleh upeti bagi raja? Sekiranya rakyat mulai mempersoalkan apa kelebihan raja dari mereka, maka kekuasaan apa yang dapat dibuktikan oleh sang raja? Jadi, kerajaan Allah Ta’ala tidaklah demikian. Dia dalam sekejap mata dapat melenyapkan seluruh negeri, dan Dia dapat menciptakan makhluk‑makhluk. Sekiranya Dia bukan Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Kuasa, maka tatanan kerajaan‑Nya tidak dapat berjalan kecuali dengan menggunakan cara‑cara kezaliman. Sebab, satu kali Dia memberikan pengampunan dan ke­selamatan kepada dunia, maka dari mana Dia akan mendatangkan dunia yang lain? Apakah orang‑orang yang sudah mendapat keselamatan itu harus ditangkapi untuk diturunkan lagi ke dunia dan dengan cara aniaya Dia menarik kembali ampunan dan keselamatan yang telah dilimpahkan-Nya? Jika demikian, pasti terdapat cela pada sifat Ketuhanan‑Nya, dan Dia pun tak ubahnya seperti raja‑raja dunia mempunyai noda. Raja‑raja membuat undang‑undang bagi dunia, lalu murka pada hal‑hal kecil, dan jika untuk kepentingan pribadi mereka tidak melihat cara lain kecuali berbuat zalim, maka mereka akan mengangap perbuatan zalim itu halal bagaikan susu ibu. Misalnya, undang‑undang kerajaan mengizinkan agar sebuah perahu bersama penumpang-penumpangnya dibiarkan tenggelam untuk menyelamatkan sebuah kapal. Akan tetapi, ketidak-berdayaan seperti itu tidak berlaku pada Tuhan. Jadi, seandainya Tuhan bukan merupakan Penguasa penuh dan bukan Pencipta dari sesuatu yang tidak ada, maka Dia akan bertindak seperti raja‑raja lemah yang menggunakan kezaliman untuk menegakkan kekuasaan; atau berlaku adil tetapi melepaskan sifat Ketuhanan-Nya. Justru Bahtera Tuhan beserta segala kodrat‑Nya melaju dengan anggun di atas keadilan sejati.

Kemudian firman-Nya: “Assalaam,” yakni Dia‑lah Tuhan Yang terpelihara dari segala aib, musibah dan kesulitan. Justru Dia‑lah Pemberi keselamatan. Maksudnya pun jelas, sebab seandainya Dia sendiri tertimpa musibah-musibah, dipukuli orang‑orang dan rencana-rencana‑Nya tidak berjaya, maka dengan melihat contoh buruk itu bagaimana mungkin manusia akan merasa tenang hatinya bahwa tuhan yang semacam itulah yang akan melepaskan mereka dari musibah-musibah? Berkenaan dengan sembahan‑sembahan palsu, Allah Ta’ala berfirman:

Mereka yang kamu anggap sebagai Tuhan, keadaannya adalah demikian, jika mereka semua bersatu lalu ingin menciptakan seekor lalat, sampai kapan pun mereka tidak akan dapat menciptakan, walaupun mereka saling membantu. Bahkan jika lalat itu meram­pas sesuatu milik mereka, maka mereka tidak kuasa untuk mengambilnya kembali dari lalat itu. Orang‑orang yang menyembah mereka, akalnya lemah dan yang disembah pun kekuatannya tidak berdaya. Apakah Tuhan itu demikian? Tuhan adalah Dia yang lebih perkasa dari segala yang perkasa dan unggul atas semuanya; tidak ada yang dapat menangkap-Nya maupun memukul-Nya. Orang‑orang yang jatuh dalam kesalahan-kesalahan serupa itu tidaklah mengenal nilai Tuhan dan tidak tahu Tuhan itu seharusnya yang bagaimana (22:74,75).

Kemudian firman-nya: “Almu’min,” bahwa Tuhan adalah Sang Pemberi keamanan dan yang menegakkan dalil-dalil tentang kesempurnaan-kesempurnaan dan Tauhid‑Nya. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang yang beriman kepada Tuhan sejati tidak akan malu di hadapan orang banyak, dan tidak pula akan malu di hadapan Tuhan. Sebab, ia memiliki dalil‑dalil yang kuat. Akan tetapi orang yang percaya kepada tuhan palsu, berada dalam kesulitan besar. Bukannya dia mengemukakan dalil‑dalil, justru dia memasukkan seluruh perkara sia-sia itu sebagai rahasia supaya jangan sampai diter­tawakan, dan dia ingin menyembunyikan kekeliruan-kekeliruan yang telah terbukti nyata.

Dan kemudian firman-Nya:

Dia merupakan pelindung bagi semua dan unggul atas segala sesuatu serta memperbaiki apa yang rusak, dan Zat‑Nya sangat berkecukupan (59:24). Dan difirmankan:

Yakni, Dia adalah Tuhan yang menciptakan tubuh-tubuh dan juga yang menciptakan ruh-ruh. Dia yang membentuk rupa di dalam rahim. Segala nama baik yang dapat terlintas di pikiran, semua itu hanyalah bagi-Nya (59:25). Kemudian firman-Nya:      

Yakni, para penghuni langit menyanjung nama‑Nya, demikian pula para penghuni bumi (59:25). Di dalam ayat ini diisyaratkan bahwa di benda‑ benda langit ada penghuni dan mereka pun terikat dengan petunjuk‑petun­juk Tuhan. Dan kemudian firman‑Nya pula:     

Yakni, Tuhan adalah Maha Kuasa (2:21). Ini merupakan ketenteraman bagi para penyembah, sebab jika Tuhan itu lemah dan tidak ­kuasa, maka apalah yang dapat diharapkan dari tuhan seperti itu? Dan kemudian firman-Nya:

Yakni, Dia‑lah Tuhan Pemelihara sekalian alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, serta Dia sendirilah Pemilik Hari Pembalasan. Wewenang itu tidak diserahkan-Nya kepada siapa pun (1:2-4). Dia mendengar dan menjawab seruan setiap penyeru-Nya, yakni mengabulkan do’a‑do’a (2:187). Kemudian firmannya:

Yakni, Dia‑lah Yang Hidup selama‑lamanya dan Sumber segala kehidupan serta Tumpuan segala wujud (3:3). Hal ini dikatakan karena seandainya Dia tidak kekal abadi, maka berkenaan dengan hidup‑Nya pun akan tetap diragukan bahwa jangan-jangan Dia telah mati sebelum kita. Dan kemudian difirmankan bahwa, Dia‑lah Tuhan Yang Esa; bukan anak siapa pun, dan tidak pula ada anak‑Nya; tidak ada yang menyamai-Nya dan tidak ada yang sejenis dengan-Nya (112:2‑5). Dan hendaknya diingat, mengakui secara benar Tauhid Allah Ta’ala dan tidak menambah serta menguranginya, itu merupakan sikap adil yang dilakukan manusia terhadap Majikan-nya Yang Hakiki. Seluruh bagian ini merupakan pelajaran akhlak yang telah dipaparkan dari ajaran Alquran Suci. Azas yang terdapat di dalamnya ialah Allah Ta’ala telah menyelamatkan seluruh akhlak dari batas-batas yang terlalu berlebihan dan terlalu kurang. Dan setiap akhlak baru dapat dinamakan akhlak apabila diterapkan tidak lebih dan tidak kurang dari batas-batas yang sebenarnya dan yang wajib. Adalah jelas bahwa kebaikan hakiki ialah sesuatu yang dilakukan di tengah-tengah kedua batas tersebut, yakni di antara batas-batas yang terlalu berlebihan dan yang terlalu kurang. Setiap kebiasaan yang menarik orang supaya berjalan di tengah-tengah dan mempertahankannya, itulah yang menciptakan akhlak fadhilah. Mengenal keadaan dan kesempatan adalah suatu jalan tengah. Misalnya, jika seorang petani menyemai­ benih sebelum waktunya, atau sesudah lewat waktunya, dalam kedua bentuk itu berarti dia telah meninggalkan jalan tengah.

Kebaikan, kebenaran, dan kebijaksanaan, semuanya berada di jalan tengah; sedangkan jalan tengah itu memperhatikan situasi. Atau, katakanlah, kebenaran itu merupakan sesuatu yang selalu terletak di tengah dua kebatilan yang berlawanan. Dan sedikit pun tidak diragukan lagi bahwa sikap yang tepat sesuai keadaan, senantiasa menempatkan manusia pada jalan tengah.

Dan berkenaan dengan pengenalan terhadap Tuhan, jalan tengahnya ialah, tidak condong ke arah penolakan terhadap sifat‑sifat-Nya dan tidak pula menyamakan Tuhan dengan benda-benda jasmani. Cara inilah yang diterapkan Alquran Suci berkenaan dengan sifat‑sifat Allah Ta’ala. Demikianlah, Alquran juga menyatakan bahwa Tuhan melihat, mendengar, mengetahui, berbicara, dan bercakap‑cakap, dan kemudian untuk menghindarkan kesamaan terhadap makhluk, Alquran pun menyatakan:

Yakni, tidak ada yang menyekutui-Nya dalam hal zat dan sifat-sifat-Nya (42:12). Jangan ciptakan bagi-Nya persamaan-persamaan dari kalangan makhluk (16:75). Jadi, menempatkan Zat Tuhan tepat di antara batas-batas tasybih (sifat-sifat yang dapat ditamsilkan) dan tanzih (sifat-sifat asli Tuhan yang tidak dapat ditamsilkan), itulah jalan tengah. Ringkasnya, ajaran Islam adalah ajaran yang mengambil jalan tengah. Surah Al‑Fatihah pun memberi petunjuk mengenai jalan tengah ini, sebab Allah Ta’ala berfirman:

Yang dimaksud dengan orang‑orang yang dimurkai ialah orang‑orang yang menggunakan emosi untuk melawan Allah Ta’ala lalu mengikuti nafsu rendah. Sedangkan yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat ialah mereka yang mengikuti nafsu kebinatangan. Dan jalan tengah adalah apa yang disebut dengan kata             . Ringkasnya, bagi umat yang berbahagia ini di dalam Alquran Suci terdapat petunjuk tentang jalan tengah. Di dalam Taurat, Allah Ta’ala telah menekankan perkara-perkara pembalasan. Dan di dalam Injil, Dia telah memberikan penekanan pada pemberian maaf dan sabar. Sedangkan umat ini telah mendapat ajaran tentang ketepatan situasi dan jalan tengah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

Yakni, Kami telah menjadikan kamu orang-orang yang mengamalkan jalan ­tengah dan kepada kamu telah diajarkan jalan tengah (2:144). Maka berbahagialah mereka yang mengikuti jalan tengah.

[Jalan tengah adalah yang terbaik]

Perbaikan Ketiga:

Keadaan-keadaan Rohani Manusia

Persoalan ketiga ialah: apakah keadaan‑keadaan rohani itu? Hendaknya jelas bahwa sebelum ini kami sudah menerang­kan bahwa menurut petunjuk Alquran Suci, sumber dan mata-air keadaan‑keadaan rohani adalah nafs muthma’innah, yang mengantarkan manusia dari derajat akhlak sampai pada derajat kedekatan dengan Tuhan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

Yakni, wahai jiwa yang mendapat ketenteraman dari Tuhan! Kembalilah kepada Rabb-mu! Dia senang kepadamu dan kamu senang kepada-Nya. Maka bergabunglah dengan hamba‑hamba‑ Ku dan masuklah ke dalam surga‑Ku (89:28‑31).

Pada tempat ini ada baiknya kalau kami menafsirkan ayat suci ini agak lebih luas untuk menjelaskan keadaan‑keadaan rohani. Jadi hendaknya diingat bahwa di dalam kehidupan manusia di dunia ini keadaan rohani tertinggi adalah memperoleh ketenteraman bersama Allah Ta’ala; dan segala ketenangan, kebahagiaan, dan kelezatan baginya terpusat pada Tuhan. Inilah keadaan yang dengan kata lain disebut kehi­dupan surgawi. Dalam keadaan itu manusia langsung mendapat surga sebagai ganjaran atas kejujuran hati, ketulusan, dan kesetiaannya yang sempurna. Orang‑orang lain masih mengharapkan surga yang dijanjikan, sedangkan orang yang memiliki derajat rohani tertinggi ini telah masuk ke dalam surga yang sudah menjadi kenyataan. Setelah mencapai derajat ini barulah manusia mengerti bahwa ibadah yang telah dibebankan atasnya justru merupakan makanan yang dengan itu ruhnya akan tumbuh berkembang dan merupakan landasan yang kuat sekali bagi kehidupan rohaninya. Untuk meraih hasilnya, tidak bergantung pada suatu alam lain. Justru di tempat ini jugalah hasil itu diperoleh. Segala penyesalan yang dilakukan oleh nafs lawwamah manusia atas kehidupannya yang kotor -- dan nafs lawwamah itu tetap tidak mampu membangkitkan secara benar keinginan-keinginan baik; dan tidak dapat membangkitkan kebencian sejati terhadap keinginan-keinginan buruk; serta tidak pula dapat memberikan kekuatan sempurna untuk bertahan di atas kebaikan -- melalui gerakan suci inilah hal-hal tersebut berubah. Itulah yang merupakan awal pertumbuhan nafs muthma’innah. Dan setelah mencapai derajat tersebut, tibalah saatnya manusia meraih kejayaan yang sempurna. Sejak itu dorongan-dorongan nafsu mulai padam dengan sendirinya. Dan angin pemberi kekuatan mulai bertiup di atas ruh, yang dengan itu manusia memandang kelemahan-kelemahannya yang sudah-sudah dengan penyesalan. Pada saat itu di dalam diri manusia timbul suatu revolusi besar, dan timbullah perubahan luar biasa dalam tingkah‑lakunya. Kemudian ia sangat jauh meninggalkan keadaan-keadaannya semula, dibasuh dan dibersihkan. Dan Tuhan dengan tangan‑Nya sendiri menuliskan di dalam hati orang itu kecintaan akan kebaikan, serta dengan tangan‑Nya sendiri Dia mencampakkan keluar kotoran keburukan dari dalam hatinya. Segenap lasykar kebenaran memasuki lubuk hatinya dan kebenaran menguasai seluruh kubu fitratnya. Dan kebenaran pun meraih kemenangan, sedangkan kebatilan melarikan diri dan membuang senjatanya. Pada kalbu orang itu terdapat Tangan Tuhan, dan setiap langkah bergerak di bawah naungan Tuhan. Di dalam ayat-ayat berikut ini Allah Ta’ala mengisyaratkan kepada hal‑hal tersebut:

Yakni, Allah Ta’ala telah menuliskan dengan tangan‑Nya sendiri ke­imanan dalam kalbu orang‑orang mukmin dan menolong mereka dengan Ruhulkudus (58:23). Hai orang‑orang mukmin, Dia telah menjadikan keimanan sebagai sesuatu yang kamu cintai, dan telah menanamkan dalam hatimu keindahan serta kecantikannya. Dan Dia telah menanamkan dalam hatimu kebencian terhadap kekufuran, perbuatan buruk, dan perbuatan dosa. Dan Dia telah menanamkan di dalam hatimu rasa jijik terhadap segala jalan yang buruk. Kesemuanya itu adalah ber­kat karunia serta rahmat Allah (49:8,9). Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Dan kebatilan tidak mungkin bertahan terhadap kebenaran (17:82)

Ringkasnya, semua isyarat ini mengarah kepada keadaan rohani yang diraih manusia pada derajat ketiga. Dan manusia kapan pun tidak dapat memperoleh penglihatan sejati selama keadaan ini belum diraihnya. Dan yang difirmankan Allah Ta’ala bahwa, “Aku telah menuliskan dengan tangan‑Ku sendiri keimanan di dalam kalbu mereka serta telah menolong mereka melalui Ruhul­kudus”, hal itu mengisyaratkan, manusia sekali-kali tidak akan dapat meraih kebersihan dan kesucian sejati selama pertolongan samawi belum menyertainya. Keadaan manusia pada derajat nafs lawwamah adalah, ia berulangkali bertaubat dan berulangkali pula tergelincir. Bahkan acapkali ia putus-asa terhadap kemampuan dirinya dan menganggap penyakitnya tidak dapat disembuhkan lagi. Hingga satu jangka waktu tertentu keadaannya demikian. Kemudian ketika waktu yang ditetapkan telah sempurna, maka pada malam hari atau siang, turunlah suatu nur kepadanya. Dan di dalam nur itu terkandung kekuatan Ilahi. Bersamaan dengan turunnya nur itu timbul suatu perubah­an menakjubkan di dalam dirinya dan terasa adanya suatu kekuatan Tangan Gaib, lalu nampaklah di hadapannya suatu alam yang menakjubkan. Pada saat itu manusia menyadari bahwa Tuhan benar‑benar ada, dan pada matanya muncul cahaya yang tidak ada sebelumnya. Akan tetapi, bagaimanakah kita dapat menemui jalan itu dan bagaimana kita dapat memperoleh cahaya itu? Jadi hendaknya diketahui bahwa di dunia ini -- yang merupakan tempat berlakunya faktor-faktor sebab -- bagi setiap akibat ada satu penyebabnya, dan bagi setiap gerak ada satu penggeraknya. Dan untuk meraih setiap ilmu ada satu jalan yang dinamakan sirathal mustaqim. Tiada suatu pun di dunia ini yang dapat diperoleh tanpa mengikuti peraturan‑peraturan yang telah ditetapkan oleh Kodrat (kekuasaan Tuhan) baginya sejak awal. Hukum Kodrat menunjukkan bahwa untuk memperoleh sesuatu ada sirathal mustaqim, yang secara kodrati dengan bertumpu kepadanyalah hal itu baru dapat diperoleh. Umpamanya, jika kita duduk di dalam sebuah kamar yang gelap dan memerlukan cahaya matahari, maka sira­thal mustaqim bagi kita ialah, kita harus membuka jendela yang menghadap ke arah matahari. Dengan demikian barulah cahaya matahari akan masuk ke dalam, lalu menyinari kita. Jadi, adalah jelas, untuk memperoleh karunia Tuhan yang sejati dan hakiki pasti ada suatu jendela tertentu, dan untuk mencapai kerohanian yang suci pasti ada suatu cara tersendiri. Dan caranya, carilah sirathal mustaqim bagi hal-hal rohaniah, sebagaimana kita senantiasa men­cari sirathal mustaqim bagi keberhasilan-keberhasilan dalam segala urusan kehi­dupan kita. Akan tetapi, apakah memang demikian caranya, yaitu kita mencari perjumpaan dengan Tuhan hanya bertumpu pada kemampuan akal kita dan melalui hal-hal yang kita rancang sendiri saja? Apakah hanya melalui logika dan falsafah kita saja maka pintu‑pintu itu akan terbuka bagi kita, padahal terbukanya pintu-pintu tersebut sangat bergantung pada Tangan-Nya yang perkasa? Pahamilah dengan seyakin‑yakinnya bahwa hal demikian sama sekali tidak benar. Kita sama sekali tidak dapat meraih Sang Hayyul Qayyum (Tuhan Yang Maha Hidup dan Maha Tegak) dengan hanya melalui upaya-upaya kita sendiri. Justru pada jalan ini satu-satunya sirathal mustaqim ialah, pertama-tama kita harus menyerahkan kehidupan kita beserta segala kemampuan kita pada jalan Allah, kemudian tetap tekun memanjatkan do’a untuk meraih perjumpaan dengan Allah, agar kita dapat menjumpai Tuhan dengan peran­taraan Tuhan sendiri.

Sebuah Do’a yang Indah

Do’a paling indah yang diajarkan kepada kita selaras dengan waktu dan keadaan yang tepat, dan yang menampilkan di hadapan kita gambaran gejolak rohaniah yang dimiliki oleh fitrat, ialah do’a yang telah diajarkan kepada kita oleh Tuhan Yang Maha Pengasih di dalam Kitab Suci-Nya, Alquran Suci, yakni dalam Surah Al‑Fati­hah. Dan do’a itu ialah:

Segala pujian suci yang ada ialah bagi Allah Yang menciptakan dan memelihara sekalian alam (1:1,2).

Dia‑lah Tuhan yang menyediakan bagi kita sarana-sarana rahmat sebelum kita melakukan amal perbuatan, dan Dia-lah yang dengan rahmat-Nya mem­berikan ganjaran sesudah kita melakukan amal per­buatan (1:3).

Dia‑lah Tuhan yang Satu-satunya Pemilik Hari Pembalasan (1:4). Dan tidak Dia serahkan Hari itu kepada siapa pun.

Wahai Dia Yang merupakan himpunan segala pujian itu, hanya kepada Engkau‑lah kami menyembah dan hanya dari Engkau-lah kami memohon taufik dalam segala pekerjaan (1:5). Disini ungkapan penyembahan dengan kata “kami”, mengisyaratkan bahwa, “seluruh kekuatan kami telah terpaut pada penyembahan terhadap Engkau dan tunduk di hadapan singgasana-Mu.” Sebab, manusia dari segi kekuatan batiniahnya merupakan satu jemaat dan satu ummat. Dan dalam keadaan demikian, bersujud-nya seluruh kekuatan kepada Tuhan, itulah keadaan yang disebut Islam.                                 

Tunjukkanlah kami jalan Engkau yang lurus dan teguhkanlah kami di atas jalan itu, lalu tunjukkanlah jalan orang‑orang yang kepada mereka telah Engkau turunkan nikmat serta kemurahan Engkau, dan yang telah menjadi penerima anugerah serta karunia Engkau (1:6).

Dan hindarkanlah kami dari jalan orang‑orang yang Engkau murkai dan yang tidak dapat mencapai Engkau serta yang telah sesat (1:7). Amin! Wahai Tuhan, lakukanlah demikian.

Ayat-ayat ini menerangkan bahwa nikmat‑nikmat Allah Ta’ala -- yang dalam perkataan lain disebut karunia‑karunia -- turun hanya kepada orang‑orang yang telah mengorbankan hidup mereka di jalan Tuhan dan mewakafkan seluruh wujud mereka di jalan-Nya, serta tenggelam dalam keridhaan‑Nya, lalu senantiasa berdo’a agar segala sesuatu yang dapat diperoleh manusia berupa nikmat-nikmat kerohanian, kedekatan dan perjumpaan dengan Tuhan serta percakapan dan dialog dengan-Nya, semuanya itu dapat mereka peroleh. Dan bersama do’a itu mereka melaksanakan ibadah dengan segenap kemampuan mereka, serta menjauhi dosa dan senantiasa merebahkan diri di singgasana Ilahi. Dan sejauh yang mungkin bagi mereka, mereka menghindarkan diri dari keburukan serta menjauhi jalan-jalan kemurkaan Ilahi. Jadi, karena mereka mencari Tuhan dengan semangat serta ketulusan yang tinggi, maka mereka menemu­kan-Nya dan mereka diberi minum dari mangkuk makrifat suci Allah Ta’ala.

Istiqamah (kegigihan) yang telah disebut dalam ayat ini mengisyarat­kan bahwa karunia sejati lagi sempurna yang menyampaikan kita ke alam kerohanian adalah berkaitan erat dengan istiqamah yang sempurna. Dan yang dimaksud dengan istiqamah yang sempurna ialah suatu kondisi tulus dan setia sedemikian rupa yang tidak dapat dirusak oleh suatu ujian apa pun. Yakni, suatu jalinan yang tidak dapat dipotong oleh pedang, tidak dapat di bakar oleh api, dan tidak dapat dicelakakan oleh bencana apa pun. Kematian sanak‑saudara tidak dapat memutuskan jalinan itu. Perpisahan dari segala yang dicintai tidak dapat mengganggunya. Kekhawatiran akan runtuhnya kehormatan, sedikit pun tidak dapat membuatnya takut. Penderitaan karena dera siksaan yang dahsyat, sedikit pun tidak membuat hatinya gentar. Jadi, jalan ini memang sangat sempit dan jalan ini sangat sulit ditempuh. Ah, betapa sulitnya! Ke arah inilah Allah swt. memberikan isyarat di dalam ayat-ayat berikut:

Yakni, katakanlah kepada mereka, “Sekiranya bapak-bapakmu dan anakanak lelakimu atau saudara-saudara lelakimu dan isteri‑isterimu dan kaum keluargamu dan harta kekayaan yang kamu usahakan dengan susah-payah dan perniagaan yang kamu khawatir akan terhenti dan gedung‑gedungmu yang disukai hatimu, adalah lebih berharga daripada Allah dan Rasul‑Nya, dan lebih berharga dari berjihad pada jalan Allah, maka tunggulah saat ketika Allah menurunkan perintah‑Nya, dan Allah sekali‑kali tidak akan me­nunjuki jalan‑Nya kepada orang‑orang yang berbuat jahat” (9:24). Dari ayat‑ayat ini jelaslah bahwa orang-orang yang meninggalkan ke­hendak Allah, kemudian mencintai sanak‑saudara serta harta-kekayaannya, mereka pada pandangan Allah merupakan orang‑orang jahat, mereka niscaya akan binasa. Sebab, mereka telah meng­utamakan sesuatu selain Allah.

Itulah derajat ketiga, yang di dalamnya orang itu menjadi dekat dengan Tuhan, yang untuk mencapainya ia telah menanggung ribuan penderitaan dan telah menundukkan kepala di hadapan Tuhan dengan ketulusan dan keikhlasan sedemikian rupa sehingga tiada lagi yang ia miliki selain Tuhan, seakan‑akan semuanya telah mati. Jadi, hakikat sebenarnya ialah, selama kita sendiri belum mati, Tuhan Yang Hidup tidak akan dapat kelihatan. Hari bagi penzahiran Tuhan adalah ketika kehidupan jasmani kita mengalami maut. Kita buta selama kita belum menutup mata terhadap benda lain selain Tuhan. Kita mati selama kita belum seperti orang mati di tangan Tuhan. Tatkala wajah kita betul-betul tertuju ke hadapan-Nya, maka barulah istiqamah sejati -- yang mengalahkan seluruh hawa nafsu -- akan kita peroleh. Sebelumnya tidak. Istiqamah inilah yang mendatangkan maut kepada kehidupan nafsu. Istiqamah kita adalah, sebagaimana Dia berfirman:

Yakni, letakkanlah leher di hadapan‑Ku bagai hewan kurban (2:113). Demikian pula kita baru akan mencapai derajat istiqamah tatkala segala bagian wujud kita dan segala kemampuan diri kita tercurahkan kepada pekerjaan demikian, dan maut kita serta hidup kita menjadi untuk-Nya semata. Sebagaimana Dia berfirman:

Yakni, katakanlah, sembahyangku dan pengorbananku, dan hidupku, dan matiku, semuanya adalah untuk Tuhan (6:163). Dan tatkala kecintaan manusia terhadap Tuhan mencapai derajat demikian -- yakni matinya serta hidupnya tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Tuhan semata -- maka barulah Tuhan yang senantiasa mencurahkan kasih sayang-Nya kepada orang-orang yang cinta kepada‑Nya, menurunkan kecintaan-Nya terhadap manusia itu. Dengan bertemunya dua kecintaan itu, di dalam diri manusia timbul sebuah nur yang tidak di­kenali dan tidak dapat dipahami oleh dunia. Dan ribuan orang shiddiq serta yang berkepribadian suci telah dibunuh disebabkan dunia tidak mengenali mereka. Mereka dikatakan pembuat makar dan mementingkan diri sendiri dikarenakan dunia tidak mampu menyaksikan wajah nurani mereka, sebagaimana Dia berfirman:

Yakni, orang‑orang yang ingkar, memang mereka melihat ke arah engkau, namun engkau tidak kelihatan oleh mereka (7:199).

Ringkasnya, ketika nur itu mulai muncul, maka sejak hari kemunculan nur tersebut seorang duniawi berubah menjadi seorang wujud samawi. Dia (Allah) Yang memiliki segala wujud, berbicara di dalam diri orang itu dan Dia memperlihatkan kilauan Ketuhanan‑Nya. Dan kalbu orang itu -- yang dipenuhi oleh kecintaan suci -- dijadikan-Nya sebagai singgasana‑Nya. Dan semenjak orang itu meraih suatu perubahan nuraniah, lalu dia menjadi seorang pribadi baru, maka Dia menjadi suatu Tuhan yang baru baginya, dan menampakkan kebiasaan dan sunnah-sunnah yang baru. Bukan berarti Dia merupakan Tuhan yang baru atau kebiasaan‑kebiasaan yang baru, melainkan kebiasaan-kebiasaan tersebut berlainan dari kebiasaan‑kebiasaan umum Tuhan yang tidak dikenal oleh falsafah dunia. Berkenaan dengan orang semacam itu Allah swt. telah berfirman:

Yakni, yang tinggi derajatnya di antara manusia ialah mereka yang telah sirna di dalam keridhaan Tuhan. Mereka menjual jiwa mereka dan membeli keridhaan Tuhan. Inilah orang‑orang yang mendapat rahmat Tuhan. Demikian pula orang yang telah mencapai derajat keadaan rohani, mereka menjadi rela berkorban di jalan Tuhan (2:208).­

Dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman bahwa orang yang mendapat keselamatan dari segala penderitaan ialah dia yang menjual jiwanya di jalan Tuhan dan di jalan keridhaan-Nya, dan dia dengan sepenuh hati membuktikan keadaan dirinya bahwa dia merupakan kepunyaan Tuhan dan mengang­gap seluruh wujudnya sebagai sesuatu yang telah diciptakan untuk menaati Sang Khaliq serta untuk mengkhidmati makhluk. Kemudian dia begitu minatnya dan dengan sepenuh hati mengerjakan kebaikan-kebaikan hakiki yang berkaitan dengan setiap potensi, seakan-akan dia sedang menyaksikan Sang Kekasih Hakiki di dalam cermin kesetiaannya. Dan kehendaknya menjadi sewarna dengan kehendak Allah Ta’ala. Dan segala kelezatan tampil di dalam kesetiaan terhadap-Nya. Dan segenap amal saleh mulai tampil bukan dalam bentuk upaya gigih, melainkan dalam bentuk ketertarikan terhadap kelezatan dan kenikmatan. Itulah surga yang diperoleh insan rohani sebagai panjar, sedangkan surga yang akan diperoleh kelak, pada hakikatnya merupakan cerminan dan bayangan surga tersebut yang akan diperlihatkan oleh kodrat Ilahi dalam bentuk jasmani di alam ukhrawi. Mengisyaratkan kepada hal inilah Allah swt. berfirman:

Yakni, barangsiapa takut kepada Allah Ta’ala dan gentar terhadap martabat kebesaran serta keagungan‑Nya, baginya tersedia dua surga, yang satu di dunia ini dan yang lainnya di akhirat (55:47). Dan orang-orang yang tenggelam di dalam Tuhan, Tuhan telah memberi minum kepada mereka serbat yang mensucikan kalbu, pikiran-pikiran dan kehendak-kehendak mereka (76:22). Orang‑orang baik meminum serbat yang campurannya kafur. Mereka minum dari mata air yang mereka alirkan sendiri (76:6,7).

Hakikat Serbat Kafur dan Zanjabil

Dan sebelumnya pun sudah saya uraikan bahwa kata kafur telah digunakan dalam ayat ini dengan maksud tertentu. Sebab, di dalam bahasa Arab, kafara artinya adalah menekan ser­ta menutupi. Jadi, ini mengisyaratkan bahwa mereka telah meneguk mangkuk inqitha’ dan ruju’ ilallah (pemutusan hubungan dan kembali kepada Allah) dengan ketulusan sedemikian rupa sehingga kecintaan kepada dunia menjadi dingin sama sekali. Ini merupakan hal prinsip bahwa segala dorongan nafsu timbul dari keinginan di dalam hati. Dan ketika hati betul-betul jauh dari keinginan-keinginan yang tidak layak serta sedikit pun tidak lagi memiliki kaitan dengannya, maka dorongan-dorongan nafsu itu pun lambat-laun mulai berkurang hingga akhirnya lenyap. Jadi, disini demikian jugalah maksud Allah Ta’ala. Dan itu juga yang Dia jelaskan di dalam ayat tersebut bahwa orang-orang yang telah tunduk secara sempurna kepada-Nya, mereka telah keluar sangat jauh dari dorongan-dorongan nafsu. Dan mereka telah tunduk kehadapan Tuhan sedemikian rupa sehingga kalbu mereka menjadi dingin terhadap kesibukan du­niawi, dan dorongan-dorongan nafsu mereka telah tertekan tak ubahnya seperti kafur yang menekan unsur-unsur beracun.

Kemudian difirmankan bahwa, setelah meneguk mangkuk kafur itu, orang-orang tersebut meneguk mangkuk yang campurannya zanjabil (76:18,19). Kini hendaklah diketahui bahwa zanjabil terdiri dari dua ­kata. Yakni, zana dan jabal. Dalam bahasa Arab, zana berarti mendaki dan jabal berarti gunung. Arti paduannya adalah mendaki gunung. Kini hendaknya diketahui bahwa pada manusia, dari saat setelah mengalami suatu penyakit beracun hingga mencapai derajat kesehatan yang tinggi, terdapat pula dua kondisi. Kondisi pertama ialah ketika gejolak unsur-unsur beracun menjadi lenyap sama sekali dan gejolak unsur-unsur berbahaya mulai membaik dan serangan infeksi telah pulih dan taufan fatal yang tadinya bergejolak telah mereda. Akan tetapi, hingga saat itu tubuh masih lemah, tidak mampu melakukan pekerjaan berat dan jalannya pun masih terhuyung‑huyung. Sedangkan kondisi kedua ialah tatkala kesehatan semula telah kembali muncul dan kekuatan terkumpul penuh di dalam tubuh, dan karena kembalinya kekuatan maka timbullah semangat sehingga dengan serta-merta dia mendaki ke atas gunung dan untuk meluapkan kegembiraan dia berlari-lari di dataran tinggi. Jadi, kekuatan ini diraih pada derajat suluk (jalan ke arah kesempurnaan rohani) yang ketiga. Mengenai kondisi ini Allah Ta’ala mengisyaratkan dalam ayat tersebut bahwa orang-orang yang sangat dekat dengan Tuhan meneguk mangkuk yang mengandung campuran zanjabil (jahe). Yakni, mereka meraih kekuatan penuh kondisi rohani, lalu memanjat puncak-puncak tinggi, dan pekerjaan-pekerjaan sulit dapat diselesaikan oleh tangan mereka dan mereka memperlihatkan pengorbanan-pengorbanan yang sangat menakjubkan di jalan Allah Ta’ala.

Khasiat Zanjabil

Disini hendaknya jelas pula bahwa menurut ilmu ketabiban, zanjabil merupakan obat yang dalam bahasa Hindi disebut sunth. Zanjabil banyak memberikan kekuatan pada daya panas tubuh dan menghentikan disentri. Dan dinamakan zanjabil karena memberikan kekuatan serta menimbulkan panas sedemikian rupa kepada orang yang lemah, sehingga ia mampu memanjat gunung-gunung.

Maksud Allah Ta’ala memaparkan ayat-ayat yang berlawanan arah ini -- di satu tempat memaparkan masalah kafur, dan di tempat lainnya masalah zanjabil -- adalah untuk menjelaskan kepada hamba‑hamba‑Nya bahwa tatkala manusia bergerak dari dorongan-dorongan nafsu menuju ke arah kebaikan, maka pertama-tama kondisi yang timbul setelah gerakan itu adalah lumpuhnya unsur‑unsur beracun yang ia miliki. Dan dorongan-dorongan nafsu mulai berkurang seperti halnya unsur-unsur beracun yang dilumpuhkan oleh kafur. Oleh karena itulah kafur bermanfaat untuk penyembuhan penyakit kolera dan typhus. Dan kemudian, ketika gejolak unsur-unsur berbahaya telah lenyap sama sekali serta kesehatan rapuh yang bercampur kelemahan telah dicapai, maka tahapan yang kedua adalah, orang sakit yang lemah itu akan mendapatkan kekuatan dari serbat zanjabil. Dan serbat zanjabil merupakan perwujudan keindahan serta kecantikan Allah Ta’ala, yang merupakan makanan bagi ruh. Apabila manusia mem­peroleh kekuatan dari perwujudan itu, maka dia akan mampu memanjat puncak-puncak yang tinggi serta memperlihatkan pekerjaan-pekerjaan besar yang begitu menakjubkan di jalan Allah Ta’ala. Sebab, seseorang sama sekali tidak akan sanggup memperlihatkan pekerjaan demikian selama di dalam hatinya belum terdapat api kecintaan. Jadi disini, untuk menjelaskan kedua keadaan itulah Allah Ta’ala telah menggunakan kedua kata bahasa Arab tersebut. Pertama kafur, yang berarti sesuatu yang menekan; dan yang kedua zanjabil, yang berarti sesuatu yang mendaki. Dan di jalan ini pun bagi para pencari Tuhan terdapat kedua keadaan itu.

Ayat selanjutnya adalah:

Yakni, kami telah menyediakan bagi orang‑orang ingkar --yang tidak mau menerima kebenaran -- rantai-rantai, belenggu leher, dan nyala api yang membakar (76:5). Maksud ayat ini ialah, barangsiapa yang tidak mencari Tuhan dengan tulus hati, mereka akan mendapat siksaan dari Tuhan. Mereka terperangkap dalam jeratan-jeratan dunia sehingga seakan-akan kaki mereka terikat rantai. Dan mereka begitu tunduk kepada urusan‑urusan dunia sehingga seakan-akan pada leher mereka terdapat sebuah belenggu yang menghalangi mereka menengadah ke langit. Dan hati mereka terbakar oleh api ketamakan serta nafsu untuk mendapatkan kekayaan; untuk memperoleh harta; untuk menguasai negeri tertentu; untuk menaklukkan musuh; untuk men­dapatkan sekian banyak uang dan harta. Jadi, dikarenakan Allah Ta’ala mendapatkan mereka dalam kondisi tidak layak dan tenggelam dalam pekerjaan-pekerjaan buruk, itulah sebabnya ketiga bencana ini Dia lekatkan pada mereka. Dan disini juga disyaratkan bahwa apabila manusia melakukan suatu perbuatan, maka bersesuaian dengan itu Allah Ta’ala pun dari pihak-Nya melakukan suatu perbuatan. Misalnya, pada saat manusia menutup semua pintu kamarnya, maka sesudah perbuatan manusia itu, perbuatan Allah Ta’ala adalah, Dia akan menciptakan kegelapan di dalam kamar tersebut. Oleh karena hal-hal tersebut di dalam hukum kodrat Allah Ta’ala, telah ditetapkan sebagai dampak mutlak bagi perbuatan-perbuatan kita, kesemuanya itu merupakan perbuatan Allah Ta’ala. Karena, Dia‑lah yang merupakan sebab dari segala sebab. Demikian pula misalnya, jika seseorang menelan racun mematikan, maka setelah perbuatannya itu, perbuatan Allah Ta’ala adalah Dia akan mematikan orang tersebut. Demi­kian pula jika seseorang melakukan suatu perbuatan tak se­nonoh yang dapat mendatangkan penyakit menular, maka setelah perbuatannya itu perbuatan Allah Ta’ala adalah, Dia akan membuat penyakit menular itu menjangkiti orang tersebut. Jadi, sebagaimana di dalam kehidupan duniawi kita tampak jelas bahwa bagi setiap perbuatan kita terdapat suatu akibat yang mutlak, dan akibat itu merupakan perbuatan Allah Ta’ala, demikian pula berkenaan dengan kerohanian pun berlaku hukum serupa. Sebagaimana Allah Ta’ala dengan jelas berfirman di dalam kedua tamsil berikut:

Yakni, orang‑orang yang mengamalkan perbuatan ini -- yaitu, mereka telah berusaha keras mencari Allah Ta’ala -- maka bagi perbuatan itu sikap Kami secara mutlak adalah, Kami akan menunjukkan jalan Kami kepada mereka (29: 70). Dan orang-orang yang memilih jalan bengkok serta tidak ingin menempuh jalan lurus, maka sikap Kami yang bersesuaian dengan itu adalah, Kami akan membengkokkan hati mereka (61:6). Kemudian untuk lebih memperjelas keadaan ini, Dia berfirman:

Yakni, barangsiapa buta di dunia ini, maka di akhirat pun dia akan tetap buta, bahkan lebih buruk dari orang-orang buta (17: 73). Ini mengisyaratkan bahwa bagi hamba-hamba saleh, penampakkan Tuhan akan tampil di dunia ini juga, dan disini pulalah mereka meraih penampakkan Sang Kekasih itu, yang untuknya mereka meninggalkan segala sesuatu. Ringkasnya, makna ayat ini adalah, landasan kehidupan surgawi justru tertanam di dunia ini juga, sedangkan akar kebutaan jahannami terletak di dalam kehidupan kotor lagi jijik yang ada di dunia ini juga. Kemudian Dia berfirman:

Yakni, orang‑orang yang beriman dan beramal saleh, mereka merupakan pewaris kebun‑kebun yang di bawahnya mengalir sungai‑sungai (2:26). Di dalam ayat ini Allah Ta’ala telah menamsilkan iman dengan kebun yang di bawahnya mengalir sungai‑sungai.

Jadi jelas, disini telah diungkapkan dalam warna falsafah yang tinggi bahwa seperti hubungan sungai-sungai dengan kebun, demikian pulalah hubungan amal perbuatan dengan iman. Jadi, sebagaimana sebuah kebun tidak dapat hidup dengan subur tanpa air, demikian pulalah iman tanpa amal saleh tidak dapat dikatakan iman yang hidup. Andaikata iman ada, namun tidak ada amal, maka sia‑sialah keimanan itu. Dan apabila amal perbuatan ada, sedangkan iman tidak ada, maka amal perbuatan itu merupakan pamer. Hakikat surga menurut Islam ialah, surga merupakan bayangan amal dan iman di dunia ini. Surga bukanlah suatu barang baru yang didapat manusia dari luar. Justru surga bagi manusia muncul dari dalam diri manusia sendiri. Dan surga bagi setiap orang merupakan iman dan amal salehnya yang sejak di dunia ini juga mulai terasa kelezatannya, serta kebun iman dan amal-amalnya kelihatan secara terselubung. Dan sungai-sungai pun kelihatan. Tetapi kebun itu jugalah yang akan terasa secara nyata di alam akhirat. Ajaran suci Allah Ta’ala menerangkan kepada kita bahwa keiman­an yang sejati, suci, teguh, dan sempurna -- yang bertalian dengan sifat-sifat dan kehendak-kehendak-Nya -- itu merupakan surga yang indah dan pohon‑pohon yang berbuah lebat; sedangkan amal‑amal saleh me­rupakan sungai-sungai surgawi. Sebagaimana Dia berfirman:

Yakni, kalimah keimanan -- yang suci dari segala kelebihan serta kekurangan, cela, cacat, kepalsuan dan kesia-siaan serta sempurna dari segala segi -- adalah ibarat pohon yang terhindar dari segala macam kekurangan yang akarnya menghunjam ke dalam bumi, sedangkan cabang‑cabangnya menjangkau langit, dan berbuah sepanjang masa, dan tiada musim ketika dahan‑dahannya tidak berbuah (14:25,26). Di dalam uraian ini Allah Ta’ala telah mengibaratkan kalimah keimanan sebagai pohon yang ber­buah sepanjang masa, lalu menerangkan tiga tandanya:

1. Pertama, akarnya -- yakni, maknanya yang hakiki -- menghunjam ke dalam kalbu manusia. Yakni, fitrat dan hati nurani manusia telah menerima hakikat dan kemurniannya.

2. Tanda kedua ialah, cabang‑cabang kalimah itu menjangkau langit. Yak­ni, dia mengandung unsur-unsur logika dan bersesuaian dengan hukum kodrat samawi yang merupakan pekerjaan Tuhan. Artinya, dalil-dalil kebenaran serta kemurniannya dapat dibuktikan melalui hukum kodrat. Kemudian dalil-dalil itu demikian luhurnya sehingga seakan‑akan ada di langit, yang tidak da­pat dijangkau oleh bantahan.

3. Tanda ketiga ialah, buah yang layak untuk dimakan itu selamanya ada dan tidak pernah habis. Yakni, setelah penerapannya secara amalan, maka berkat-berkat serta pengaruh-pengaruhnya tampak dan terasa di setiap zaman -- tidak hanya muncul disuatu zaman tertentu saja, lalu selanjutnya hilang.

Dia kemudian berfirman:

Yakni, kalimah yang buruk adalah ibarat pohon yang tercabut dari bumi. Yakni, fitrat manusia tidak menerimanya dan dari segi apa pun tidak dapat berdiri tegak -- baik dari segi dalil-dalil logika, dari segi hukum kodrat, maupun dari segi hati nurani (14:27). Ia hanya berupa kisah dan dongengan belaka. Dan sebagaimana Alquran Suci telah mengibaratkan iman di alam akhirat sebagai pohon-pohon suci, anggur, deli­ma, dan buah‑buah lezat, dan telah Dia uraikan bahwa pada hari itu keimanan tersebut akan menjelma dan tampak dalam bentuk buah-buah tadi, maka seperti itu pula pohon buruk kekufuran di akhirat telah Dia namakan zaqqum. Sebagaimana Dia berfirman:

Yakni, katakanlah oleh kamu, apakah kebun-kebun surga yang baik, ataukah pohon zaqqum yang merupa­kan satu cobaan bagi orang‑orang zalim? Zaqqum adalah sebuah pohon yang tumbuh dari akar jahannam, yak­ni yang tumbuh dari ketakaburan dan kesombongan (37:63‑65). Itulah akar jahannam. Putiknya berbentuk sedemikian rupa seperti kepala syaitan. Syaitan artinya yang binasa. Kata syaitan berasal dari kata syayatha. Jadi, kesimpulannya adalah, memakannya berarti suatu kebinasaan. Dan kemudian difirmankan, pohon zaqqum merupakan makanan bagi orang-orang neraka yang sengaja melakukan dosa. Makanan itu bagaikan cairan tembaga yang akan bergolak di dalam perut seperti air mendidih. Kemudian difirmankan kepada orang neraka, rasakanlah pohon itu, kamu orang terhormat lagi mulia (44:44‑47;50). Ini merupakan kalimat kemurkaan yang amat sangat. Maksudnya adalah: jika kamu tidak takabur dan mempertimbangkan kemuliaan serta kehormatanmu sehingga tidak berpaling dari kebenaran, maka pada hari ini tentu kamu tidak akan merasakan kepahitan-kepahitan tersebut. Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa sebenarnya kata zaqqum merupakan gabungan kata zuq dan am. Sedangkan am merupakan ringkasan dari kalimat                yang di dalamnya terdapat satu huruf pertama  (alif) dan satu huruf akhir  (mim). Dan penggunaan yang berulang kali telah mengubah huruf   (dzal) menjadi  (zai).

Kini, kesimpulannya adalah, sebagaimana Allah Ta’ala telah mengibaratkan kalimat-kalimat imaniah dunia ini sebagai surga, demikian pula Dia telah mengibaratkan kalimat-kalimat kekufuran dunia ini dengan zaqqum dan menetapkannya sebagai pohon neraka. Dan Dia telah menyatakan bahwa akar surga serta akar neraka bermula dari dunia ini juga. Dia ber­firman pada tempat lain mengenai neraka sebagai berikut:

Yakni, neraka adalah api yang bersumber pada kemurkaan Tuhan dan dikobarkan oleh dosa, dan pertama-tama menguasai hati (104:7,8). Hal itu mengisyaratkan bahwa sumber asli api tersebut ialah kedukaan, kekecewaan, dan derita yang merenggut hati. Sebab, segala siksaan rohani bermula dari hati, lalu menjalari sekujur tubuh.

Kemudian di tempat lain Dia berfirman:

Yakni, bahan bakar api neraka yang membuat api itu terus menerus berkobar, terdiri dari dua bahan (2:25). Pertama adalah manusia yang meninggalkan Tuhan hakiki dan menyembah benda‑benda lain, atau atas kehendak sendiri membuat diri mereka disembah. Sebagaimana Dia berfirman:

Yakni, kamu dan sembahan-sembahan palsumu -- yang merupakan manusia tetapi disebut tuhan -- akan dilemparkan ke dalam Jahannam. Bahan bakar yang kedua bagi neraka adalah berhala-berhala. Artinya adalah jika kedua benda ini tidak ada maka neraka pun tidak akan ada (21:99).

Jadi, dari seluruh ayat ini nyatalah bahwa di dalam Kalam Suci Allah Ta’ala, surga dan neraka tidaklah sama seperti dunia jasmani ini, melainkan pangkal dan sumber keduanya adalah perkara-perkara rohani. Ya, benda-benda itu di alam akhirat akan tampak dalam bentuk jasmani. Akan tetapi di alam jasmani ini tidak akan demikian.

Sarana untuk Menciptakan Hubungan Rohani yang Sempurna dengan Allah Ta’ala

Sekarang saya kembali kepada tujuan semula, mengatakan bahwa sarana untuk menciptakan hubungan rohani dan hubungan yang sempurna dengan Allah Ta’ala yang telah diajarkan Alquran Suci kepada kita adalah Islam dan do’a Al-Fati­hah. Yakni, pertama‑tama mewakafkan seluruh hidup kita di jalan Allah, dan kemudian senantiasa memanjatkan do’a yang telah diajarkan kepada orang‑orang Islam dalam Surah Al‑Fatihah. Kedua hal ini merupakan intisari Islam. Islam dan do’a Al‑Fatihah merupakan suatu sarana mulia un­tuk mencapai Allah di dunia dan untuk mereguk air keselamatan hakiki. Bahkan inilah sarana yang telah ditetapkan oleh hukum kodrat untuk meraih kemajuan tertinggi bagi manusia dan untuk memperoleh perjumpa­an Ilahi. Dan yang menemukan Allah adalah mereka yang masuk ke dalam api rohani makna Islam dan yang senantiasa memanjatkan do’a Al‑Fatihah. Apakah Islam itu? Islam adalah api menyala yang membakar kehidupan rendah kita dan menghanguskan berhala-berhala palsu kita, lalu mempersembahkan pengorbanan jiwa kita, harta kita, dan kehormatan kita di hadapan Sang Sembahan Yang Mahabenar dan Mahasuci. Setelah masuk ke dalam mata air yang demikian, kita meminum air kehidupan baru. Dan segenap kekuatan rohani kita lekat menyatu dengan Allah sedemikian rupa bagaikan seutas tali yang diikatkan dengan tali lainnya. Bagai api halilintar, dari dalam diri kita muncul sebuah api, dan sebuah api lagi turun kepada kita dari atas. Dengan bertemunya kedua kobaran api ini, segenap hawa nafsu dan kecintaan kita terhadap wujud-wujud selain Allah menjadi hangus terbakar. Dan kita menjadi mati dari kehidupan pertama kita. Berdasarkan Alquran Suci, keadaan ini dinamakan Islam. Melalui Islam dorongan-dorongan hawa nafsu kita mengalami maut. Dan kemudian melalui do’a, kita memperoleh kehidupan baru. Untuk kehidupan kedua ini, keberadaan ilham Ilahi adalah penting. Pencapaian pada derajat itulah yang dinamakan liqa Ilahi, yakni penampakan dan perwujudan Allah. Setelah mencapai derajat ini, manusia meraih suatu kedekatan dengan Allah, sehingga manusia seakan‑akan melihat-Nya dengan mata. Dan si manusia itu diberikan kekuatan. Seluruh indera serta segala ke­mampuan batinnya dicemerlangkan, dan daya tarik kehidup­an suci mulai berlangsung dengan sangat dahsyat. Setelah memasuki derajat ini, Allah menjadi mata bagi manusia yang dengan itu ia melihat; dan menjadi lidah yang dengan itu ia berkata-kata; menjadi tangan yang dengan itu ia menyerang; menjadi telinga yang dengan itu ia mendengar; menjadi kaki yang dengan itu ia berjalan. Mengisyaratkan kepada derajat itulah Allah Ta’ala berfirman:

Tangannya (Muhammad saw.) merupakan tangan Allah Ta’ala yang ada di atas tangan-tangan mereka (48:11). Dan demikian pula Dia berfirman:

Yakni, yang engkau lemparkan, bukan engkau yang melemparkan, melainkan Allah-lah yang telah melemparkan (8:18). Ringkasnya, pada derajat ini timbul keterpaduan yang sem­purna dengan Allah Ta’ala. Dan kehendak suci Allah Ta’ala mengalir di dalam urat-urat nadi ruh. Dan kekuatan-kekuatan akhlak yang tadinya lemah, pada derajat ini tampak bagaikan gunung-gunung yang kokoh. Akal dan firasat menjadi sangat peka. Inilah makna ayat yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:

Pada derajat ini sungai-sungai kecintaan dan keasyikan bergejolak sedemikian rupa, sehingga mati untuk Allah Ta’ala, menanggung ribuan penderitaan, dan kehilangan kehormatan demi Allah menjadi begitu mudahnya seperti mematahkan sebuah ranting yang kecil. Ia ditarik terus-menerus ke arah Allah Ta’ala dan ia tidak tahu siapa yang sedang me­nariknya. Sebuah tangan gaib senantiasa menuntunnya. Dan memenuhi segala kehendak Allah Ta’ala merupakan tujuan utama hidupnya. Pada derajat ini Allah Ta’ala nampak sangat dekat, sebagaimana Dia telah berfirman:

Yakni, Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (50:17). Dalam kondisi seperti ini, orang yang memiliki derajat tersebut adalah bagaikan buah matang yang dengan sendirinya jatuh dari pohon. Seperti itulah segenap hubungan rendah yang dimiliki oleh orang pada derajat tersebut menjadi lenyap. Ia akan memiliki hubungan yang sangat dalam dengan Allah Ta’ala, dan menjadi jauh dari makhluk, serta meraih anugerah berkata-kata dan bercakap-cakap dengan Allah Ta’ala. Sekarang pun pintu-pintu untuk mencapai derajat itu masih ter­buka sebagaimana telah terbuka pada masa dahulu. Dan sekarang pun karunia Allah Ta’ala masih menganugerahkan nikmat ini kepada para pencari, sebagaimana Dia dahulu anugerahkan. Akan tetapi, jalan ini tidak dapat dicapai hanya dengan ucapan-ucapan kosong, dan pintu ini tidak dapat terbuka dengan ocehan dan bualan belaka. Banyak yang mendambakannya namun sedikit sekali yang berhasil mendapatkannya.

Apa yang menyebabkannya demikian? Sebabnya adalah, derajat ini sangat bertumpu pada kerja keras dan upaya yang sungguh‑sungguh. Teruslah bicara sampai Hari Kiamat, apalah yang dapat diperoleh! Dengan jujur melangkahkan kaki ke atas api ini -- yang justru karena sangat takut terhadapnya orang-orang lain pada berlarian -- adalah syarat pertama jalan itu. Jika tidak ada upaya gigih dalam bentuk amalan, maka sekedar berceloteh tidaklah berarti apa‑apa. Berkenaan dengan itu, Allah Ta’ala berfirman: