KATA PENGANTAR
oleh: Maulana Jalaluddin Shams*)
Seorang bernama Swami Sadhu Shugan Chandra sampai tiga atau empat tahun terus-menerus berupaya mengadakan perbaikan di golongan Kaaisth Hindu. Pada tahun 1892 terpikir olehnya bahwa selama semua orang belum dikumpulkan bersama, maka upayanya tidak akan bermanfaat. Akhirnya timbul gagasannya untuk menyelenggarakan suatu konferensi agama. Pertemuan pertama semacam itu berlangsung di Ajmir. Setelah itu, dengan mempertimbangkan bahwa suasana Lahore cukup baik untuk penyelenggaraan konferensi kedua, maka pada tahun 1896 ia mulai mengadakan persiapan untuk itu.[1]
Swami Sahib telah membentuk sebuah komite untuk penyelenggaraan konferensi agama ini. Ketuanya adalah Master Durgah Parshad. Dan Lala Dhanpat Roy, BA, LLB, seorang pengacara Hindu dari Pengadilan Tinggi Lahore, merupakan sekertaris jendralnya. Tanggal yang ditetapkan untuk konferensi tersebut adalah 26, 27, 28 Desember 1896. Dan berikut ini enam orang moderator yang telah ditunjuk:
1. Roy Bahadur Babu Partol Chand Sahib, hakim Pengadilan Tinggi, Punjab.
2. Khan Bahadur Sheikh Khuda Bakhs Sahib, hakim Pengadilan Rendah, Lahore.
3. Roy Bahadur Pandit Radhma Kishan Sahib Kole, pengacara Pengadilan Tinggi, Lahore; mantan Gubernur Jammu.
4. Hazrat Maulwi Hakim Nuruddin Sahib, tabib Kerajaan.
5. Roy Bhawani Das Sahib, MA, pejabat Extra Settlement, Jhelum.
6. Sardar Jawahar Singh Sahib, sekretaris Khalsa Committee, Lahore.[2]
Swami Sadhu Shugan Chandra Sahib, atas nama Komite, dalam selebaran konferensi tersebut mengundang para ulama kenamaan dari kalangan Islam, Kristen, dan Hindu Arya agar memaparkan keindahan-keindahan agama mereka masing-masing di dalam konferensi tersebut. Dan dituliskan bahwa tujuan Konferensi Agama-agama Besar yang diselenggarakan di Balai Kota Lahore ini adalah agar kelebihan-kelebihan serta keindahan-keindahan agama yang benar, dapat tampil di hadapan sekumpulan orang yang berperadaban, sehingga kecintaan terhadapnya dapat ter-tanam di dalam kalbu, serta dalil-dalil dan argumentasi-argumen-tasinya dapat dipahami oleh orang-orang secara mendalam. Dan dengan demikian para tokoh suci setiap agama akan dapat memperoleh kesempatan menanamkan kebenaran-kebenaran agamanya di dalam kalbu orang-orang. Dan para pendengar pun memperoleh peluang untuk membandingkan setiap pidato dengan pidato lainnya di dalam pertemuan seluruh tokoh tersebut, se-hingga dimana saja mereka menemukan cahaya kebenaran, mereka dapat menerimanya.
Dan pada masa sekarang ini, karena perselisihan-perselisihan antar agama, di dalam hati manusia timbul pula keinginan untuk mengetahui agama yang benar. Dan cara yang terbaik untuk itu adalah: segenap tokoh suci agama yang memiliki kemampuan berceramah dan memberikan nasihat, berkumpul di satu tempat, dan mereka dapat menguraikan keindahan-keindahan agama masing-masing berdasarkan topik-topik permasalahan yang telah diedarkan. Jadi, dalam Konferensi Agama-agama Besar ini, agama yang berasal dari Tuhan sejati akan menampakan cahayanya yang menonjol. Untuk tujuan itulah konferensi ini diselenggarakan. Dan para tokoh setiap agama mengetahui benar bahwa menzahirkan kebenaran agama mereka adalah kewajiban mereka. Jadi, sesuai dengan tujuan diselenggarakannya konferensi ini -- agar kebenar-an-kebenaran dapat zahir -- maka Tuhan telah memberikan kesempatan penuh bagi mereka untuk memenuhi maksud tersebut, yang selamanya tidak ada di dalam ikhtiar manusia.
Kemudian lebih lanjut dalam menarik kesan mereka, Swami Sahib menuliskan:
“Apakah saya dapat menerima, apabila seseorang menyaksikan orang-orang terkena penyakit fatal dan dia yakin bahwa keselamatan mereka berada di dalam obat yang dia miliki dan dia pun menyatakan solidaritasnya terhadap umat manusia, namun tatkala orang-orang sakit itu memanggilnya agar mengobati mereka ternyata dia dengan sengaja mengelak? Hati saya senantiasa bergejolak untuk mengetahui agama mana yang pada hakikatnya dipenuhi oleh kebenaran-kebenaran. Dan saya tidak memiliki kata-kata yang dapat mengungkapkan gejolak sejati saya ini.”
Para wakil dari berbagai agama telah menerima undangan Swami Sahib untuk turut serta di dalam konferensi agama atau pertemuan agama-agama besar di Lahore itu. Dan Konferensi Agama-agama Besar ini telah berlangsung di Lahore pada hari-hari libur umum bulan Desember 1896. Para wakil dari berbagai agama menyampaikan pidato mereka dalam acara tersebut, berkenaan dengan lima topik permasalahan yang telah diumumkan oleh Komite Konferensi. Kelima topik permasalahan itu sudah disebar-luaskan terlebih dahulu oleh komite untuk mendapatkan jawaban-jawabannya. Dan untuk jawaban tersebut komite mempersyaratkan agar para penceramah sedapat mungkin membatasi diri hanya pada kitab yang telah diakuinya sebagai kitab suci dari sudut pandang agamanya.
Permasalahan-permasalahan itu adalah:
1. Keadaan thabi’i (alami), akhlaki, dan rohani manusia.
2. Keadaan manusia sesudah mati.
3. Tujuan sebenarnya hidup manusia di dunia, dan bagaimana cara memenuhi tujuan tersebut.
4. Karma, yakni dampak amal perbuatan manusia di dunia dan di hari kemudian.
5. Apa saja sarana-sarana untuk mendapatkan ilmu, yakni irfan dan makrifat.
Konferensi ini berlangsung dari tanggal 26 sampai 29 Desember 1896. Wakil-wakil dari Sanatan Dharm, Hindu, Arya Samaj, Free Thinker, Brahmu Samaj, Theosophical Society, Religion of Harmony, Kristen, Islam dan Sikh menyampaikan pidato-pidato mereka. Akan tetapi hanya satu pidato saja yang berisikan jawaban sejati serta lengkap terhadap permasalahan-permasalahan tersebut. Tidak dapat digambarkan bagaimana suasana tatkala Hazrat Maulwi Abdul Karim Sialkoti r.a. mem-bacakan pidato Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s itu dengan suara yang menarik. Tidak seorang pun dari agama tertentu yang tidak memujinya secara spontan. Tiada seorang pun yang tidak terpukau serta tertegun. Cara penyampaiannya sangat menarik dan memikat hati. Tidak ada lagi bukti yang lebih besar tentang kehebatan artikel ini dari sikap para penentang yang memuji-mujinya. Sebuah surat kabar berbahasa Inggris yang terkenal dan terkemuka, Civil and Military Gazette Lahore, walaupun merupakan harian Kristen, telah memuat pujian yang tinggi terhadap artikel tersebut, dan menyatakannya sebagai sesuatu yang patut diperbincangkan.
Artikel ini merupakan tulisan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, dari Qadian, pendiri Jemaat Ahmadiyah. Jatah waktu yang ditetapkan untuk artikel tersebut adalah dua jam, namun karena belum tuntas, maka konferensi terpaksa diteruskan sampai tanggal 29 Desember. Harian Punjab Observer memenuhi kolom demi kolomnya dengan pujian terhadap artikel tersebut. Surat kabar Paisa Akhbaar, Chaudwi Shadi, Sadiqul Akhbaar, Makhbir-e-Dakkan, dan General-o-Gohari Ashifi dari Kalkuta, dan sebagai-nya, memuat sanjungan dan pujian atas artikel tersebut. Orang-orang non India maupun non Muslim menyatakan bahwa artikel itu adalah yang paling unggul atas artikel lainnya dalam konferensi tersebut.
Sekretaris Konferensi Agama-agama ini, Lala Dhanpat Roy, BA, LLB., pengacara pada Pengadilan Tinggi Lahore, menuliskan tentang pidato ini dalam Laporan Konferensi Agama-agama Besar (Dharam Mohotsu):
“Saat itu merupakan waktu rehat setengah jam setelah pidato Pandit Gurdhan Das Sahib. Akan tetapi dikarenakan sesudah rehat tersebut akan ditampilkan pidato seorang utusan ternama dari Islam, maka kebanyakan hadirin yang tertarik, tidak meninggalkan tempat mereka. Belum lagi pukul 1.30, gedung besar Islamia College dengan cepat mulai terisi dan dalam beberapa menit saja telah penuh. Pengunjung waktu itu antara tujuh sampai delapan ribu orang. Para intelek dan orang-orang terdidik dari berbagai agama dan suku bangsa hadir. Dan walaupun kursi-kursi, meja serta lantai yang disediakan sangat banyak dan luas, namun bagi ratusan orang tidak ada pilihan lain kecuali berdiri. Diantara mereka yang berdiri itu adalah para tokoh dan pemimpin Punjab, para ulama, barristers, pengacara, dosen, extra assisten dan dokter. Ringkasnya berbagai macam tokoh dari berbagai golongan hadir saat itu. Berkumpulnya orang-orang itu demikian dan tetap berdiri dengan penuh hikmat serta kesabaran, jelas menunjukkan sejauh mana mereka perduli terhadap gerakan suci ini. Penulis ceramah itu sendiri tidak dapat hadir dalam konferensi. Akan tetapi beliau telah mengutus sendiri murid istimewa beliau, Maulwi Abdul Karim Sahib Sialkoti untuk membacakan artikel tersebut. Walaupun untuk artikel itu dari panitia telah ditetapkan waktu hanya dua jam, namun para pengunjung konferensi secara umum telah tertarik sedemikian rupa sehingga para moderator dengan senang dan penuh semangat memberikan izin, bahwa selama artikel ini belum habis maka acara konferensi tidak akan ditutup. Keputusan mereka itu betul-betul sesuai dengan keinginan para hadirin dalam konferensi tersebut. Sebab ketika waktu yang ditetapkan telah habis dan Maulwi Abu Yusuf Mubarak Ali pun telah memberikan jatah waktunya agar pembacaan artikel ini diselesaikan, maka hadirin serta para moderator dengan luapan penuh kegembiraan mengucapkan terima kasih kepada maulwi tersebut. Acara konferensi ini semula akan selesai pada pukul setengah lima, akan tetapi dengan memperhatikan keinginan hadirin maka acara konferensi terpaksa harus diteruskan sampai jam setengah enam. Sebab, artikel ini selesai dalam tempo sekitar empat jam. Dan dari awal hingga akhir, orang-orang tetap tertarik serta mengikutinya.”
Perkara yang menarik adalah, sebelum pelaksanaan konferensi itu, pendiri Jemaat Ahmadiyah -- setelah mendapat kabar dari Allah Taala tentang keunggulan artikel beliau itu -- pada tanggal 21 Desember 1896 telah menyebarkan sebuah selebaran, yang berjudul Kabar Suka Agung bagi Para Pencari Kebenaran.*)
Tampaknya tepat apabila dipaparkan di bawah ini pandangan-pandangan dari media massa sebagai contoh.
Civil and Military Gazzette, Lahore, menuliskan:
“Di dalam konferensi ini perhatian mendalam serta istimewa dari hadirin, semuanya tertuju pada ceramah Mirza Ghulam Ahmad, dari Qadian, yang sangat cakap dalam membela dan melindungi agama Islam. Dari tempat-tempat jauh orang-orang dari berbagai aliran agama berbondong-bondong datang untuk mendengarkan ceramah itu. Dikarenakan Mirza Sahib sendiri tidak dapat hadir dalam konferensi ini, untuk itulah ceramah beliau tersebut dibacakan oleh murid pilihan beliau, Munshi Abdul Karim Sahib Sialkoti. Pada tanggal 27, ceramah ini terus berlangsung selama 3 jam, dan khalayak umum mendengarkan ceramah ini dengan antusias dan penuh perhatian. Akan tetapi saat itu baru satu permasalahan saja yang telah selesai. Maulwi Abdul Karim berjanji, jika diberi waktu, maka beliau akan membacakan bagian lainnya. Oleh karena itulah ketua dan panitia penyelenggara menyetujui usul itu agar dilanjutkan pada tanggal 29 Desember.”
Suratkabar Chaudwi Shadi, Rawalpindi, memberikan ulasan berikut terhadap ceramah Hazrat Masih Mau’ud a.s. itu sebagai berikut:
“Di antara ceramah-ceramah ini, ceramah paling baik dan merupakan ruh dari konferensi ini adalah ceramah Mirza Ghulam Ahmad, dari Qadian, yang telah dibacakan dengan sangat indah dan dengan suara yang menarik oleh orator terbaik dan terkenal, Maulwi Abdul Karim Sahib Sialkoti. Ceramah ini selesai dalam dua hari. Pada tanggal 27 Desember sekitar empat jam, dan pada tanggal 29 Desember berlanjut sampai dua jam. Ceramah ini habis dalam total waktu enam jam, dan terdiri dari sekitar 100 halaman. Ringkasnya, Maulwi Abdul Karim memulai ceramah tersebut, dan begitu mulai maka para hadirin langsung terpesona. Tiap-tiap kalimat mengundang sambutan dan pujian. Kadang-kadang ada kalimat yang diminta oleh hadirin agar diperdengarkan ulang. Sepanjang hidup, telinga kita belum pernah mendengar ceramah seindah itu. Para pembicara dari agama lain dalam ceramah masing-masing sebenarnya tidak memberi jawaban terhadap permasalahan yang telah ditetapkan. Kebanyakan pembicara banyak mengulas permasalahan nomor empat saja. Sedangkan permasalahan-permasalahan lainnya sedikit sekali mereka singgung. Namun di situ tidak ada hal-hal yang memiliki ruh, kecuali ceramah Mirza Sahib yang menjawab tiap-tiap permasalahan secara rinci lagi lengkap. Para hadirin dalam konferensi itu menyimak dengan penuh perhatian dan penuh minat serta memberikan penilaian yang tinggi.
Kami bukanlah murid Mirza Sahib, dan tidak pula kami memiliki hubungan apa pun dengan beliau. Akan tetapi kami tidak dapat memadamkan rasa adil, karena memang hal itu tidak dapat diterima oleh siapa pun yang berfitrat bersih dan berhati jujur. Mirza Sahib telah membahas seluruh permasalahan (sebagaimana dikehendaki) berdasar-kan Alquran Suci dan menghiasi dasar furu’ agama Islam dengan dalil-dalil akal serta argumentasi-argumentasi filsafat. Pertama-tama mem-buktikan masalah Ketuhanan dengan dalil-dalil secara akal, kemudian mengutip firman-firman Ilahi, memang memperlihatkan suatu kehebatan yang menakjubkan. Mirza Sahib tidak hanya mengupas falsafah perkara-perkara Alquran, melainkan juga secara beriringan menjelaskan falsafah serta filologi kata-kata dalam Alquran. Ringkasnya, ceramah Mirza Sahib secara keseluruhan merupakan suatu ceramah lengkap dan luas jangkauannya; di dalamnya terdapat mutiara-mutiara makrifat, hakikat, hukum, hikmah dan rahasia yang berkilau-kilauan. Dan falsafah Ketuhanan diterangkan dengan cara demikian rupa sehingga menyebab-kan semua ahli agama menjadi terpukau. Tidak ada sebanyak itu orang berkumpul pada waktu penceramah lain berpidato, yakni sebanyak orang yang memenuhi seluruh ruangan pada waktu ceramah Mirza Sahib. Dan para hadirin semuanya memperhatikan dengan seksama. Untuk mem-bandingkan bagaimana ceramah Mirza Sahib dan ceramah yang diberi-kan pembicara-pembicara lainnya, memadailah jika digambarkan bahwa pada waktu ceramah Mirza Sahib berlangsung, khalayak ramai ber-bondong-bondong datang bagaikan lebah mengerubuti madu. Tetapi pada waktu ceramah pembicara lainnya diperdengarkan, maka banyak orang yang meninggalkan tempat karena tidak merasa tertarik. Ceramah Maulwi Muhammad Hussein Batalwi hanya biasa-biasa saja. Yaitu pemikiran-pemikiran mullah (kiyai) yang setiap hari sering kita dengar. Di dalamnya tidak ada perkara yang menarik. Dan pada waktu ceramah kedua dari maulwi tersebut, banyak orang yang pergi meninggalkan tempat. Kepada maulwi tersebut waktu sedikit pun tidak diizinkan untuk menyelesaikan ceramahnya.” (Suratkabar Chaudwi Shadi, Rawalpindi, 1 Februari 1897).
Suratkabar General-o-Gohar Ashifi, Kalkuta, pada edisinya tanggal 24 Januari 1897, dengan judul “Konferensi Agama-agama Besar” dan subjudul “Kemenangan Islam,” menuliskan:
“Sebelum kita membicarakan acara konferensi, adalah penting untuk menyampaikan, sebagaimana diketahui oleh para pembaca, bahwa di kalangan kolumnis suratkabar ini telah diperbincangkan siapa yang paling hebat mewakili/membela Islam dalam Konferensi Agama-agama Besar itu. Seorang koresponden ternama kami, dengan pikiran lurus dan dengan mempertimbangkan kebenaran/kejujuran, di dalam pendapatnya beliau telah memilih Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Sahib Rais Qadian. Dan seorang tokoh senior kami, melalui suratnya, persis sekali mendukung hal itu. Maulwi Sayyid Muhammad Fakhruddin Sahib Fakhar dengan gamblang telah memaparkan pemilihan ini di hadapan publik dengan dasar-dasar pertimbangan beliau yang bebas, penuh dasar, dan berharga itu. Disitu terpilih Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Sahib Rais Qadian, Sir Sayyid Ahmad Khan dari Aligarh, dan urutan berikutnya dalam membela/mewakili Islam adalah: Maulwi Abu Sa’id Muhammad Hussein Batalwi, Maulwi Haji Sayyid Muhammad Ali Kanpuri, dan Maulwi Ahmad Hussein Azimabadi. Adalah sangat tepat bila dipaparkan disini bahwa seorang koresponden sebuah suratkabar lokal kita telah menunjuk Maulwi Abdul Haq Dhelwi, penulis Tafsir Haqqani, untuk tugas tersebut.”
Kemudian setelah menyadur selebaran dari Swami Shugan Chandra -- yang mengundang para tokoh ulama dari berbagai agama untuk menampilkan keindahan agama mereka masing-masing -- maka surat kabar ini menuliskan:
“Setelah menelaah selebaran-selebaran konferensi ini dan setelah menerima undangan-undangan, maka ulama-ulama Islam India mana saja yang telah memperlihatkan gejolak semangat untuk mewakili agama Islam yang suci ini? Dan sejauh mana mereka telah berusaha untuk membela Islam dan menanamkan kehebatan furqani ini ke dalam kalbu agama-agama lain melalui dalil dan argumentasi?
Melalui sumber-sumber yang terpercaya kami mengetahui bahwa para penyelenggara konferensi ini telah menulis surat secara khusus kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Sahib dan Sir Sayyid Ahmad Khan Sahib untuk ambil bagian dalam konferensi tersebut. Hazrat Mirza Sahib, karena kondisi kesehatan yang tidak baik, beliau tidak dapat hadir dalam konferensi itu. Akan tetapi beliau mengirimkan artikel beliau dan telah menetapkan murid pilihan beliau, Maulwi Abdul Karim Sahib Sialkoti, untuk membacakannya. Namun Sir Sayyid tidak mau ikut ambil bagian dalam konferensi itu dan tidak mau mengirimkan artikel. Itu bukan disebabkan oleh usia beliau yang telah lanjut, sehingga tidak mampu ambil bagian dalam konferensi seperti itu. Dan tidak pula karena pada hari-hari itu telah ditetapkan penyelenggaraan konferensi pendidikan di Merith. Melainkan karena beliau tidak tertarik pada konferensi agama. Sebab, beliau di dalam suratnya -- insya Allah pada waktu lain akan kami muat di dalam suratkabar ini -- dengan jelas menuliskan bahwa beliau bukanlah seorang wa’idz, atau nashih maupun maulwi, sedangkan ini merupakan pekerjaan para wa’idz dan nashih. Dengan memperhatikan dan menelaah acara konferensi itu diketahui bahwa Maulwi Sayyid Muhammad Ali Sahib Kanpuri, Maulwi Abdul Haq Sahib Dhelwi dan Maulwi Ahmad Hussein Sahib Azimabadi tidak memberikan tanggapan yang penuh semangat terhadap konferensi tersebut. Dan tidak pula ada dari kalangan ulama umat suci kita ini serta dari kalangan bawahan yang cukup cakap, yang telah mengemukakan tekad mereka untuk membacakan atau pun mengirimkan artikelnya. Ya, hanya satu dua orang ulama saja yang dengan semangat memenuhi tantangan itu, namun terbalik. Sebabnya adalah, mereka tidak menyinggung pokok-pokok bahasan yang telah ditetapkan, atau mereka hanya ribut berceloteh tentang hal-hal yang tidak relevan. Hal itu akan tampak dari laporan kami mendatang. Ringkasnya, dari pelaksanaan konferensi itu terbukti bahwa hanya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Sahib Rais Qadian sajalah yang telah tampil sebagai pembela Islam yang sempurna di arena pertandingan ini. Dan beliau telah memberikan kehormatan terhadap pemilihan -- yang secara khusus menunjuk beliau sebagai wakil Islam -- yang dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama oleh berbagai golongan Islam India dari Peshawar, Rawalpindi, Jhelum, Shahpur, Bhera, Khushab, Sialkot, Jammu, Wazirabad, Lahore, Amritsar, Gurdaspur, Ludhiyana, Shimla, Delhi, Ambala, Riasat Patiala, Dera Duun, Ilahabad, Madras, Bombay, Hyderabad Dakkan, dan Bangalore.
Memang benar terbukti bahwa, jika seandainya di dalam konferensi itu tidak ada artikel Hazrat Mirza Sahib, niscaya umat Islam akan mengalami kehinaan dan kenistaan di hadapan umat-umat agama lainnya. Akan tetapi, dengan tangan-Nya yang perkasa, Tuhan telah menyelamatkan Islam dari keruntuhan. Bahkan melalui artikel tersebut Islam telah memperoleh kemenangan sedemikian rupa sehingga bukan saja pihak-pihak yang sehaluan, para penentang pun secara spontan bangkit menyatakan bahwa artikel itu paling unggul dari yang lainnya! Paling unggul! Bahkan pada saat berakhirnya artikel tersebut, pernyataan jujur yang muncul dari mulut para penentang adalah, kini hakikat Islam telah terbuka.... dan Islam telah memperoleh kemenangan. Pemilihan yang sangat tepat itu betul-betul terbukti benar. Kini tidak ada alasan lagi untuk menentangnya. Justru hal itu merupakan kebanggaan bagi kita. Sebabnya adalah, disitu terbukti kehebatan Islam, dan disitu jugalah terbukti keagungan Islam. Memang demikianlah yang benar.
Walaupun itu merupakan pertemuan kedua dari Konferensi Agama-agama Besar di India, artikel tersebut melalui kehebatan dan keagungannya telah mengalahkan segenap konferensi dan kongres di India. Tokoh-tokoh dari berbagai daerah di India hadir dalam kesempatan itu. Dan dengan bangga kami menyatakan bahwa perguruan-perguruan tinggi kita pun turut ambil bagian di dalamnya. Acara itu demikian menariknya sehingga tiga hari yang diumumkan dalam selebaran-selebaran terpaksa ditambah satu hari lagi. Untuk pelaksanaan konferensi itu komite penyelenggara telah memilih tempat yang paling luas di Lahore, yaitu Islamiah College. Akan tetapi begitu banyaknya orang yang hadir sehingga tempat yang luas itu pun tidak mencukupi lagi. Kehebatan konferensi itu terbukti dari hadirnya bukan saja tokoh-tokoh penting Punjab, tetapi juga dengan hadirnya hakim-hakim dari Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi Illahabad, yaitu yang mulia Babu Partol Chand Sahib dan Mr.Bannerji.”
Artikel ini pertama-tama diterbitkan dalam Laporan Konferensi Agama-agama Besar, Lahore. Dan dari Jemaat Ahmadiyah, dengan judul Islami Ushul Ki Filasafi, telah diterbitkan dalam bentuk buku berbagai edisi bahasa Urdu dan Inggris. Selain itu terjemahannya telah pula diterbitkan dalam bahasa Perancis, Belanda, Spanyol, Arab, Jerman, dan bahasa-bahasa lainnya.
Dan para tokoh filsafat serta para editor surat-surat kabar luar negeri pun telah menuliskan ulasan yang sangat hebat tentang hal itu. Dan banyak para intelek Barat yang sangat memujinya. Misalnya:
1. The Bristol Times and Mirror: “Jelas bukanlah orang biasa dia yang berdialog dengan orang-orang Eropa dan Amerika dengan corak demikian.”
2. The Spiritual Journal, Boston: “Buku ini merupakan khabar suka yang murni bagi umat manusia.”
3. Theosopical Book Notes: “Buku ini merupakan gambaran yang terbaik dan paling menarik mengenai agama Muhammad (saw.).
4. The Indian Review: “Pemikiran-pemikiran dalam buku ini sangat cemerlang, lengkap, dan penuh hikmah. Pembaca akan spontan mengungkapkan kata-kata pujian.”
5. The Moslem Review: “Penelaah buku-buku ini akan menjumpai banyak pikiran yang benar, mendalam, orisinil, dan mengilhami.[3]
Keindahan artikel ini adalah, di dalamnya tidak ada serangan terhadap agama lainnya. Melainkan hanya keindahan-keindahan Islam saja yang telah dipaparkan, dan jawaban-jawaban terhadap permasalahan-permasalahan itu hanya diberikan dari Alquran Majid semata. Sedangkan jawaban-jawaban itu diberikan dengan cara-cara sedemikian rupa sehingga dari itu terbukti kesempurna-an, keindahan, dan kelengkapan agama Islam dibandingkan dengan segenap agama lainnya.
*) Penyusun Rohani Khazain, kumpulan buku-buku karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.
[1] Laporan Konfrensi Agama-agama Besar, p.253-254, cetakan Siddiqi Press, Lahore, 1897.
[2] idem.
*) Lihat halaman IX (peny).
[3] Dikutip dari buku Silsilah Ahmadiyah, karangan Mirza Bashir Ahmad.