In the Name of Allah, The Most Gracious, Ever Merciful.

Love for All, Hatred for None.

Browse Al Islam

Mengapa & Bilamana Seorang Mushlih Tiba

Kebanyakan umat memahami bahwa semenjak umat Muslim memiliki Kitab yang sempurna yaitu Al Qur’an untuk memberikan petunjuk kepada mereka, maka tiada seorang mushlih (pembaharu) diperlukan oleh umat Muslim, karena umat bisa mendapatkan seluruh petunjuk dari Al Qur’an untuk membimbing mereka. Pemahaman di atas adalah sangat keliru, dan fakta sejarah sama sekali tidak mendukung adanya pehaman seperti di atas.

  1. Pertama, kami mengamati bahwa meskipun pada kenyataannya umat memiliki Al Qur’an Suci di tangan mereka namun keadaan umat terus mengalami kemerosotan dan keburukan dari hari ke hari. Diskusi agama diantara mereka menghasilkan perbedaan-perbedaan yang semakin meluas, bahkan sampai dalam hal penafsiran Al Qur’an perbedaan ini semakin meningkat. Tidak diragukan lagi bahwa umat sendiri menyadari bahwa kondisi mereka semakin jatuh, umat tidak menemukan cukup kekuatan untuk bangkit dan berdiri tegak dengan kaki mereka sendiri. Inilah fakta yang jelas yang telah terjadi pada agama-agama terdahulu, manakala para pengikut (umat) telah mengalami kerusakan maka mereka tidak pernah mampu mengangkat diri mereka sendiri.
  2. Kedua, Sunatullah (kebiasaan Allah) menolak pemahaman di atas, dari zaman ke zaman manakala kegelapan telah menutupi kerajaan kerohanian, Tuhan selalu membangkitkan seorang Mushlih (pembaharu) untuk kembali memberikan petunjuk dan penerangan kepada umat. Lihatlah pada umat Musa a.s., mereka telah memiliki Kitab Suci yang sempurna - Torah (untuk kebutuhan manusia pada zaman itu) yang berisi petunjuk untuk mereka. Namun manakala kegelepan melingkupi mereka, mereka diberikan (dikaruniai) petunjuk yang lain dalam wujud seorang Mushlih (pembaharu) yang mempersatukan kembali para pengikut Musa a.s. dan mengembalikan mereka kepada petunjuk Torah yang benar.
  3. Ketiga, bahwa yang dimaksudkan sebagai ajaran (Kitab) yang sempurna adalah bahwa Tuhan telah menjelaskan semua cara (jalan) untuk mencapai kesempurnaan keruhanian dalam satu Kitab dan seluruh kebutuhan manusia (baik yang bersifat ruhani maupun jasmani) telah ditetapkan dalam cara yang mana manusia bisa penuhi. Namun jika pikiran manusia mulai merubah Kitab Suci kearah penafsiran yang disesuaikan dengan kehendak mereka, maka Kitab Suci akan kehilangan makna dan Kitab Suci tidak akan mempersatukan umat kembali, kecuali manakala Nur kebenaran dibukakan dengan menghilangkan tabir penafsiran-penafsiran yang telah banyak dilakukan sesuai cara dan gaya masing-masing. Suatu ajaran sempurna tak diragukan lagi ibarat sebuah pedang tajam yang memutuskan dosa dan bid’ah hingga berkeping-keping, namun tentu saja harus ada seseorang yang mengetahui bagaimana menggunakannya.
  4. Keempat, bagaimanapun sempurnanya suatu ajaran namun tanpa contoh tauladan dalam hal penerapannya maka umat tidak akan memperoleh faedah dari padanya. Melalui sosok-sosok manusia suci, Tuhan memberikan kepada umat suatu contoh untuk dilihat dan diikuti demi untuk memperoleh faedah bagi diri mereka sendiri.
  5. Kelima, Keimanan kepada Tuhan adalah seperti sebuah pohon yang mana tanpa disirami oleh tanda-tanda, ayat-ayat, dan makrifat-makrifat yang segar maka ia akan mengalami kekeringan lalu meranggas dan mati. Iman akan kehilangan akan kepastian keberadaan Tuhan dan jatuh sampai kepada tingkat semata-mata hanya sebatas suatu filosofi bahwa "Tuhan memang seharusnya ada". Dalam situasi yang penuh keraguan, kekacauan, dan angin beracun bertiup menghancurkan pohon keimanan, maka tak ayal lagi pohon akan mengering. Namun keimanan yang diperoleh melalui seorang Rasul dan orang-orang suci, adalah keimanan yang hidup dan yang dengan perantaraan keberadaan para Nabi dan orang suci itu adalah merupakan suatu fakta atau bukti yang menunjukan bahwa Tuhan ada dan terus menerus menjalin hubungan antara Dia dengan hamba-hamba-Nya. Hal ini menunjukan dengan jelas bahwa meskipun ajaran sempurna telah ada, namun keberadaan manusia-manusia suci tetap dibutuhkan untuk memanifestasikan sifat-sifat Tuhan dan melalui mereka sungai makrifat dari Tuhan akan terus mengalir kepada umat. Lebih dari itu, seorang Mushlih (pembaharu) yang diangkat oleh Tuhan dan bersedia memberikan makrifat dalam bentuk wahyu-wahyu dari Tuhan, ia memiliki daya tarik bagi mereka yang bersih hati dan keruhaniannya. Faktanya, daya tarik inilah yang membangkitkan orang-orang yang tertidur, yang menghidupkan orang-orang yang mati (keruhaniannya).
  6. Keenam, dapat dikatakan bahwa tanpa suatu pembaharuan yang nyata dan menyeluruh maka tiada kebaikan dapat diperoleh. Namun, sepanjang mengenai pembaharuan dalam dunia keagamaan maka harus diperhatikan bahwa ini mustahil dilakukan oleh siapapun kecuali oleh seseorang yang memang telah diutus oleh Tuhan untuk melakukan pembaharuan ini, dan ia menerima makrifat-makrifat langsung dari Dia. Orang ini menerima wahyu-wahyu dari Tuhan dan ia hidup karenanya. Ulama-ulama dunia dapat saja mencoba untuk menyatukan umat dengan ilmu atau pengetahuan duniawi mereka yang mana sebagian dari ilmu mereka adalah asli dalam beberapa segi dan beberapa lagi dusta dalam banyak segi. Namun harus diingat bahwa perbedaan yang terjadi dalam dunia muslim saat ini adalah tak lain lahir dan berasal dari ilmu-ilmu dunia para ulama. Perbedaan ini tidak dapat dihilangkan tanpa Dia yang Sang Al Hakam (Maha Bijaksana) dan Al Adl (Maha Adil) memutuskan kehendak-Nya mengenai mereka.
  7. Ketujuh, Rasulullah s.a.w. telah memberitahukan kepada umat bahwa seorang Mushlih (pembaharu) akan dibangkitkan dari antara mereka. Ini adalah bukti positif bahwa meskipun syari’at telah sempurna, namun seorang Mushlih tetap dibutuhkan
  8. Kedelapan, para Mushlih telah dan selalu dibangkitkan diantara kaum muslim (Allah membangkitkan Mujadid dalam setiap abad), dan ini adalah bukti nyata bahwa seorang Mushlih memang dibutuhkan umat ini meski Syari’at Islam telah sempurna.