In the Name of Allah, The Most Gracious, Ever Merciful.

Love for All, Hatred for None.

Browse Al Islam

KOMPAS, Sabtu, 23 Nopember 1996, h.3, kolom 5

JUDUL: FISIKAWAN ABDUS SALAM MENINGGAL

Islamabad, Jumat

Setelah sekian lama menderita Parkinson, satu-satunya warga Pakistan penerima Nobel, fisikawan teori Abdus Salam, hari Kamis 21 Nopember meninggal dunia dalam usia 70 tahun di kediamannya di Oxford, Inggris.

Abdul Wahab, saudaranya yang tinggal di Islamabad, hari Jumat kepada Reuters mengatakan jenazah akan dibawa ke Pakistan untuk dimakamkan Sabtu 23 November ini di Rabwa, Propinsi Punjab. Di kota itulah berada pusat sekte Ahmadi yang dianut fisikawan besar ini.

Salam selama 11 tahun menjadi penasihat bidang ilmu untuk presiden Pakistan. Dia mengundurkan diri dari jabatan itu pada tahun 1974 setelah pemerintah PM Zulfiqar Ali Bhutto mencap sekte Ahmadi sebagai non-Islam.

Bersama Steven Weinberg dan Sheldon Glashow, Abdus Salam menerima Nobel Fisika pada tahun 1979 untuk karyanya mengembangkan prinsip yang menyatukan gaya nuklir dalam fisika partikel.

Menjadi guru besar fisika teori pada Imperial College of Science and Technonoly London (1957-1993), karya besarnya di luar fisika substansial adalah mendirikan Pusat Fisika Teori Internasional (ICTP, International Centre for Theoretical Physics) di Trieste, Italia pada tahun 1964. Sejak itu, Salam menjadi direktur lembaga tersebut sampai tahun 1993.

Lahir di kampung Jhang, India (kini dikuasai Pakistan) pada tanggal 29 Januari 1926. Pada tingkat persiapan di usia 14, Salam membuat sensasi nasioanl sebagai pemegang nilai tertinggi dalam sejarah Universitas Panjab, Lahore, Pakistan.

Ia bisa melanjutkan pendidikan di Universitas Cambridge, Inggris pada tahun 1946 segera seusai Perang Dunia Kedua karena prestasinya sebagai satu dari lima sarjana terbaik mendorong seorang politisi India memberikan bea siswa. Di universitas terbaik Inggris ini, Salam menjadi seorang wrangler, gelar tradisional Cambridge untuk sarjana matematika kelas satu. Ia kemudian membelokkan studi dari matematika ke fisika. Berhubung bakatnya begitu minim di laboratorium, ia memilih fisika teori. Dengan fisika teori, ia menguak rahasia zarah elementer yang menyusun alam semesta dan mendapat Nobel Fisika tahun 1979.

Prof.MA.Jaswon dari The City Univercity, London dalam pidato penganugerahan doktor honoris causa kepada Salam pada tanggal 1 Desember 1986 menyebutkan Salam sebagai manusia dari tiga dunia: dunia fisika teori, dunia kerja sama internasional, dan dunia Islam. Salam meninggalkan seorang istri, dua putra dan empat putri. (Rtr/sal).