In the Name of Allah, The Most Gracious, Ever Merciful.

Love for All, Hatred for None.

Browse Al Islam

REPUBLIKA, Sabtu, 23 November 1996, h.1, kolom 3

JUDUL: ABDUS SALAM, NOBELIS FISIKA ITU PUN PERGI

Islamabad

Profesor Abdus Salam, fisikawan dan peraih hadiah Nobel Fisika 1979, meninggal dunia di rumahnya di daerah Oxford, Inggris, Kamis lalu. Jenazah ilmuwan itu akan dibawa ke Pakistan pada Sabtu ini untuk dimakamkan di negeri asalnya.

Menurut Abdul Wahab, saudara kandung Abdus Salam, fisikawan berusia 70 tahun tersebut meninggal setelah beberapa lama menderita penyakit Parkinson -- sakit sejenis yang dialami petinju legendaris Muhammad Ali. Ia meninggalkan seorang istri, dua anak lelaki, dan empat anak perempuan.

Nama Abdus Salam amat dikenal sebagai salah satu fisikawan paling menonjol di dunia. Ia pun kerap menjadi juru bicara bagi Duni Ketiga bagi perkembangan sains. Bersama Steven Weinberg, Shaldon Lee Glashow, Salam berbagi Hadiah Nobel.

Penghargaan Nobel itu didasarkan atas jasanya dalam mengubah kejumudan konsepsi tentang gaya-gaya. Salam termasuk orang pertama yang mengubah pandangan pasialisme para fisikawan dalam melihat kelima gaya dasar -- gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, gaya kuat yang menahan proton dan neutron tetap berdekatan, serta gaya lemah yang bertang jawab terhadap lambatnya reaksi peluruhan inti radioaktif -- yang berperan di alam ini.

Di dalam negerinya, penghargaan terhadap Abdus Salam juga sangat menonjol. Ia pernah diangkat menjadi ketua penasihat keilmuan bagi Presiden Ayub Khan selama 11 tahun hingga 1974. Peran tersebut ia akhiri dengan mengundurkan diri pada tahun itu semasa pemerintaah Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto.

Reputasi internasionalnya juga segudang. Salam pernah menjadi guru besar fisika teoritis di Imperial College of Science and Technology di London selama 1957-1993. Ia mendirikan International Centre for Theoretical Phyusics di Trieste, Italia, dan menjadi direktur lembaga tersebut selama 1964-1993. Di tempat ini ia berusaha keras mendidik ilmuwan-ilmuwan muda, terutama dari Dunia Ketiga.

Profesor Salam menjadi anggota kehormatan di puluhan akademi ilmu pengetahuan pelbagai negara. Ilmuwan kelahiran 29 Januari 1929 di Desa Jhang, Lahore, Pakistan, itu menerima 40 anugerah ilmu pengetahuan dari berbagai negara dan lembaga internasional.

Pada usia 22 tahun, Salam dinobatkan menjadi profesor matematika pada sebuah universitas di Pakistan. Dan sebagai muslim, Salam sangat gundah terhadap kerangka pemikiran parsial para fisikawan yang bertahan berkembang hingga tahun 1960-an.

Melalui serangkaian riset, Salam memadukan gaya-gaya dalam satu formula yang disebut Penyatuan Gaya-gaya. Ia dengan Steven Weinberg -- masing-masng berkerja sendiri-sendiri -- berhasil menemukan formula yang memadukan gaya lemah dan gaya elektromagnetik. Konsep baru ini ia paparkan bersama fisikawan Yahudi kelahiran AS itu dalam forum ilmiah internasional 1967. Dari sinilah ia menyabet Nobel.

Salam memadukan puisi, sastra, fisika, dan matematika dalam hidupnya. Itu karena ia mencintai rasionalitas dan keindahan. Salah satu kegemarannya ialah membaca karya Omar Khayam.

Ia pun tak merasa ada pertentangan antara sains dengan agama yang ia anut. Baginya, sembari mengutip Carl Jung, "Setiap orang membutuhkan agama." Dan, apa yang ia pelajari memperkuat religiusitasnya.